Cerita Perjuangan Nur Natasya Nabila, Pesilat Muda Tuban yang Tetap Anggun

Shafa Dina Hayuning Mentari • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 16:18 WIB
Tangguh di gelanggang tanding, Nur Natasya Nabila patahkan stigma miring soal atlet pencak silat wanita. (Nur Natasya Nabila Untuk Radar Tuban)
Tangguh di gelanggang tanding, Nur Natasya Nabila patahkan stigma miring soal atlet pencak silat wanita. (Nur Natasya Nabila Untuk Radar Tuban)

RADARTUBAN - Nur Natasya Nabila memilih jalan berbeda dengan sebagian besar dara sebayanya. Dia memilih menekuni seni bela diri pencak silat, dunia yang jauh dari feminisme dan gemerlap.

Bagi gadis yang baru menginjak usia 16 tahun ini, menjadi seorang pesilat bukan sekadar mengolah fisik di atas gelanggang arena, melainkan juga sebagai ruang untuk menempa mentalitas serta pembentukan karakter disiplin.

Baca Juga: Perkuat Sinergi, MPM Honda Jatim Jalin Silaturahmi dengan Jawa Pos Radar Tuban

Dara asal Desa Leran Kulon, Kecamatan Palang ini menceritakan, ketertarikannya pada olahraga tradisional pencak silat bermula dari keinginan sederhana untuk menjaga diri sendiri.

Namun, seiring intensitas latihan yang rutin dijalani, cara pandangnya semakin meluas. 

‘’Ternyata, pencak silat bukan hanya soal bertarung, tapi juga mengajarkan pembentukan mentalitas, rasa percaya diri, dan nilai sportivitas," ujar Tasya kepada Jawa Pos Radar Tuban.

Remaja berzodiak Gemini ini tak menampik jika dunia perempuan kerap diidentikkan dengan dandan dan belanja. Meski begitu, dia jauh lebih menikmati aktivitas yang membuat tubuhnya tetap sehat, bugar, serta aktif berolahraga.

'’Menekuni seni bela diri sama sekali tidak membuat aku merasa canggung atau kehilangan identitas sebagai seorang wanita,” tuturnya. 

Justru, siswi kelas XI MAN 1 Tuban ini menyebut, melalui kategori tanding putri yang ditekuninya, Tasya bertekad kuat untuk mematahkan stigma miring yang kerap melekat pada dirinya maupun pesilat wanita lainnya.

‘’Aku ingin mematahkan anggapan bahwa perempuan yang ikut bela diri itu terkesan kasar atau kehilangan sisi feminimnya. Menurutku, perempuan tetap bisa tampil anggun sekaligus kuat, mandiri, dan percaya diri," tuturnya penuh keyakinan.

Selain itu, alumni SMPN 1 Palang ini menyebut, jika gelanggang latihan pencak silat juga menjadi sarana paling ampuh untuk melepas penat di tengah padatnya rutinitas kegiatan sekolah. 

Saat berlatih, pikirannya menjadi jauh lebih segar karena fokus penuh pada ritme gerakan, sehingga sejenak melupakan tekanan maupun beban aktivitas harian.

Walau demikian, rasa malas atau jenuh sesekali pernah datang menghampiri. Namun, Tasya selalu punya resep ampuh untuk mengalahkan godaan tersebut.

Mengingat kembali cita-cita dan tujuan awal serta membayangkan buah manis dari kedisiplinan latihan menjadi pemantik semangatnya untuk bangkit kembali.

'’Setelah latihan dengan porsi yang berat, aku memilih istirahat yang cukup dan mengonsumsi makanan bernutrisi sebagai bentuk self-reward. Aku juga bertekad untuk terus konsisten berkembang demi mendapatkan lebih banyak prestasi di bidang ini,” pungkasnya.(saf/ds) 

Editor : Yudha Satria Aditama
Sumber : Radar Tuban
Tuban silat man 1