RADARTUBAN - Bagi sebagian besar remaja putri, merawat penampilan luar kerap menjadi fokus utama dalam menjaga rasa percaya diri.
Namun, bagi Fajrina Nur Alfiyah, kecantikan visual semata tidaklah cukup jika tidak diimbangi dengan ketahanan fisik dan mental yang tangguh.
Dara cantik asal Gedongombo, Kecamatan Semanding ini meyakini bahwa mengolah fisik serta membekali diri dengan kemampuan menjaga diri melalui seni bela diri pencak silat memiliki kedudukan yang sama pentingnya dengan menjaga estetika luar.
Baca Juga: Perkuat Sinergi, MPM Honda Jatim Jalin Silaturahmi dengan Jawa Pos Radar Tuban
‘’Kesehatan tubuh dan kekuatan jiwa merupakan fondasi utama yang harus berjalan berdampingan dengan penampilan luar diri,” katanya kepada Jawa Pos Radar Tuban.
Melalui kategori Seni Tunggal Tangan Kosong Putri yang konsisten ditekuninya, remaja 16 tahun ini menemukan wadah yang ideal untuk menyelaraskan keanggunan gerak sekaligus membentengi dirinya sendiri.
‘’Fisik dan jiwa itu sama pentingnya dengan penampilan luar. Lewat pencak silat, aku tidak hanya mengasah keindahan seni, tetapi juga melatih ketahanan mental, memupuk keberanian, dan membentuk kemampuan membela diri," lanjutnya.
Prinsip hidup yang dipegang siswi MAN 1 Tuban ini sekaligus mematahkan anggapan miring yang kerap melekat pada atlet bela diri wanita. Stigma bahwa perempuan pesilat identik dengan kesan garang atau tidak feminin ditepisnya.
Gadis berzodiak Virgo ini membuktikan bahwa seorang srikandi mampu tetap tampil anggun dalam keseharian, namun bertransformasi menjadi sosok yang tangguh dan sigap saat memasuki gelanggang pertandingan.
Di samping sebagai sarana proteksi diri dan menjaga kebugaran tubuh, rutinitas gerak fisik dalam silat juga diakuinya sebagai sarana efektif untuk melepaskan penat.
Di tengah padatnya jadwal belajar sebagai siswi kelas XI, gerakan-gerakan silat yang dinamis menjadi penawar stres yang ampuh setelah seharian bergelut dengan aktivitas akademik.
Meski demikian, konsistensi di dunia bela diri tentu tak lepas dari kejenuhan serta rasa lelah yang menguras tenaga.
‘’Setiap kali merasa lelah atau jenuh, aku selalu mengingat kembali tujuan awal memulainya dan membayangkan hasil manis dari latihan tersebut,” jelasnya.
Komitmen Alfiyah pada olahraga bela diri ini dipastikan tidak berhenti di pertengahan jalan. Ke depan, dia bertekad untuk terus menekuni pencak silat secara berkelanjutan.
‘’Bagiku, pencak silat bukan sekadar hobi pengisi waktu senggang, melainkan bagian dari gaya hidup sehat, jalan untuk merawat warisan budaya bangsa, serta sarana untuk mengukir prestasi yang lebih tinggi di kancah yang lebih luas,” pungkasnya. (saf/ds)
Editor : Yudha Satria AditamaSumber : Radar Tuban