Atlet disabilitas berusia 23 tahun ini menjadi pelari tercepat kedua di partai final. Kesuksesannya tak berhenti di situ, karena kini ia juga kembali menyabet medali di ajang Pekan Paralimpiade Nasional (Peparnas) XVII Solo.
Kisah Karisma penuh inspirasi, di mana ia terus menunjukkan semangat dan dedikasi luar biasa, baik di kancah internasional maupun nasional.
Prestasi ini semakin memperkuat namanya sebagai salah satu atlet disabilitas terbaik Indonesia.
Karisma Evi Tiarani, atlet asal Kecamatan Simo, Kabupaten Boyolali, menceritakan bahwa ia baru menyadari perbedaan fisiknya saat SMA.
"Sebenarnya aku sadar kalau beda tuh agak telat, aku SMA kayaknya. Pas lihat kaca, oh ternyata jalanku kayak gini ya. Aku dari dulu udah merasa memang agak beda, cuma nggak tahu kalau ternyata se-spesifik itu," kata dia.
Pernyataan Evi ini mencerminkan proses penerimaan dirinya yang tidak instan, tapi justru menjadi kekuatan bagi Evi untuk terus maju dan meraih berbagai prestasi di dunia olahraga, termasuk di Paralimpiade dan Peparnas.
Karisma Evi Tiarani menduga bahwa disabilitas yang ia sandang adalah bawaan sejak lahir. Hal ini juga tidak langsung disadari oleh orang tuanya. Evi menjelaskan bahwa keluarganya awalnya tidak menyadari ada sesuatu yang berbeda, karena mungkin gejala fisiknya tidak terlalu terlihat pada masa awal pertumbuhannya.
Meskipun demikian, setelah menyadari perbedaan tersebut saat usianya semakin bertambah, Evi tetap berhasil mengatasi berbagai tantangan dan membuktikan dirinya sebagai atlet disabilitas berprestasi, meraih medali di Paralimpiade dan Peparnas.
Perjalanan Evi menjadi inspirasi bagi banyak orang, terutama dalam menerima dan memaksimalkan potensi diri, meski ada keterbatasan.
"Disabilitas dugaannya dari lahir. Cuma kan aku bukan yang keliatan banget gitu ya, jadi organ sekilas itu sama kayak yang lain. Jalannya aja yang agak beda," ungkapnya.
"Orang tua awalnya juga nggak tahu. Pas lahir mikirnya biasanya aja. Pas mulai belajar jalan, oh kok jalannya gini ya. Tapi tetep dipikirnya karena lagi belajar jalan. Tapi ternyata pas udah jalan beneran (waktu SD) ternyata agak beda," sambung Evi.
Meski menyadari perbedaan fisiknya saat remaja, Karisma Evi Tiarani mengaku beruntung karena tidak pernah mengalami perundungan atau perlakuan tidak menyenangkan sejak sekolah hingga kuliah.
Hal ini menunjukkan bahwa lingkungan sosial di sekitarnya mendukung dan menerima kondisi Evi dengan baik, yang memberikan ruang bagi Evi untuk tumbuh dan berkembang tanpa merasa tertekan.
Dukungan positif ini mungkin juga berperan penting dalam membangun rasa percaya diri Evi, yang kemudian membantunya mencapai berbagai prestasi di dunia atletik. Baik di tingkat nasional maupun internasional.
Karisma Evi Tiarani awalnya bermimpi untuk menekuni bulu tangkis, namun ketika pertama kali terjun menjadi atlet, ia justru masuk ke cabang atletik.
Peralihan ini ternyata membawa Evi menuju kesuksesan di bidang lari, di mana ia kemudian meraih berbagai prestasi besar, termasuk medali perak di Paralimpiade Paris 2024 dan di Pekan Paralimpiade Nasional (Peparnas) XVII Solo.
Meskipun bukan cabang yang awalnya ia pilih, Evi menunjukkan bahwa semangatnya dalam olahraga tetap terjaga dan terus berkembang.
Evi direkrut oleh Pusat Pendidikan dan Latihan Olahraga Pelajar (PPLP) Jawa Tengah, di mana dia berlatih intensif dari usia 15 tahun hingga masa SMA. Pengalaman ini menjadi pijakan awal dalam karier atletiknya yang gemilang. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama