RADARTUBAN - Olahraga bukan beban APBD kembali menjadi perbincangan setelah keberhasilan tim tenis Indonesia meraih 9 medali pada SEA Games 2025 Thailand.
Prestasi tersebut tidak hanya mencerminkan kekuatan atlet di lapangan, tetapi juga menunjukkan bahwa pembiayaan olahraga nasional mulai bergeser ke arah kolaborasi yang lebih berkelanjutan, melibatkan dunia usaha tanpa sepenuhnya bergantung pada anggaran negara.
Keberhasilan ini menjadi relevan di tengah keterbatasan APBD dan APBN yang selama ini kerap membatasi ruang gerak pembinaan olahraga daerah.
Model yang diterapkan di cabang tenis, khususnya melalui kontribusi Jawa Timur, menjadi contoh nyata bahwa olahraga bukan beban APBD, melainkan dapat dikelola sebagai investasi jangka panjang.
Prestasi Atlet Didukung Ekosistem Non-Anggaran Negara
Dominasi atlet Jawa Timur dalam skuad tenis nasional memperlihatkan hasil dari sistem pembinaan yang konsisten dan dukungan lintas sektor.
Enam atlet asal provinsi tersebut menjadi tulang punggung tim Merah Putih, sekaligus membuktikan bahwa prestasi atlet tidak lahir secara instan, melainkan melalui ekosistem yang terencana.
Keberhasilan di nomor beregu putra dan putri juga menandai meningkatnya kualitas mental bertanding atlet Indonesia di bawah tekanan tuan rumah.
Capaian ini memperkuat argumen bahwa investasi non-anggaran dapat berdampak langsung pada performa dan daya saing internasional.
Peran KADIN Jawa Timur dalam Model Kolaborasi
Salah satu faktor penting di balik capaian tersebut adalah keterlibatan pengurus olahraga yang memiliki latar belakang dunia usaha.
Ismed Jauhar, Ketua PELTI Pengprov Jawa Timur sekaligus Wakil Ketua Umum KADIN Jawa Timur bidang Energi dan Sumber Daya Mineral, dinilai mampu menjembatani kepentingan pembinaan olahraga dengan manajemen profesional.
Kehadiran KADIN Jawa Timur membuka peluang kolaborasi dunia usaha dalam bentuk dukungan berkelanjutan bagi atlet, mulai dari pembiayaan pemusatan latihan hingga penguatan infrastruktur.
Skema ini dinilai lebih adaptif dibandingkan ketergantungan penuh pada dana pemerintah.
“Keberhasilan di Bangkok bukan sekadar soal trofi, tapi bagaimana kita membangun ekosistem di mana prestasi atlet selaras dengan dukungan industri. Ini adalah bentuk kolaborasi nyata antara dedikasi olahraga dan manajemen profesional dunia usaha,” ujar Ismed Jauhar yang menjabat sebagai Ketua PELTI Jatim sekaligus Waketun KADIN Jawa Timur bidang Energi dan Sumber Daya Mineral itu.
Olahraga sebagai Investasi Sosial dan Ekonomi
Model kolaborasi dunia usaha dalam olahraga juga dinilai memiliki dampak luas bagi masyarakat.
Turnamen internasional, pembangunan fasilitas, hingga sport tourism berpotensi menggerakkan ekonomi lokal, membuka lapangan kerja, dan memperkuat citra daerah.
Dalam konteks ini, prestasi atlet tidak hanya membawa kebanggaan nasional, tetapi juga nilai tambah ekonomi.
Pendekatan tersebut menegaskan kembali bahwa olahraga bukan beban APBD, melainkan bagian dari strategi pembangunan manusia dan ekonomi kreatif.
Menuju Pembinaan yang Berkelanjutan
Meski demikian, pengamat menilai perlu adanya tata kelola yang transparan agar kolaborasi dunia usaha tetap berjalan profesional dan akuntabel.
Keseimbangan antara prestasi, kesejahteraan atlet, dan kepentingan publik harus tetap dijaga.
Ke depan, keberhasilan tenis Indonesia di SEA Games 2025 diharapkan menjadi rujukan bagi cabang olahraga lain.
Dengan dukungan KADIN Jawa Timur dan sektor industri, paradigma olahraga bukan beban APBD dapat menjadi solusi nyata untuk membangun prestasi atlet yang berkelanjutan dan berdampak luas bagi masyarakat. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni