RADARTUBAN - KONI Jatim menetapkan arah baru pembinaan olahraga melalui evaluasi menyeluruh sebagai strategi utama menuju PON 2028.
Kebijakan ini disampaikan langsung Ketua KONI Jawa Timur, Muhammad Nabil, yang “memotret” capaian prestasi sekaligus tantangan pembinaan olahraga daerah.
Melalui evaluasi tersebut, KONI Jatim memastikan pembinaan dilakukan secara lebih terfokus dan terukur.
Langkah ini diambil agar sumber daya yang dimiliki dapat dimaksimalkan untuk menghasilkan prestasi terbaik.
Baca Juga: KONI Jatim Kejar Emas di Tengah Pembenahan Menuju PON Beladiri 2025
Evaluasi Menyeluruh Cabang Olahraga
Muhammad Nabil menjelaskan bahwa evaluasi dilakukan terhadap seluruh cabang olahraga yang berada di bawah naungan KONI Jatim.
Penilaian difokuskan pada capaian prestasi masing-masing cabang olahraga dalam berbagai kejuaraan.
Hasil evaluasi menunjukkan tidak semua cabang olahraga dibina secara penuh.
Pembinaan difokuskan pada nomor-nomor tertentu yang dinilai memiliki peluang prestasi paling besar.
“Kalau kita tidak bisa memegang seluruh cabor, tentu nomor-nomor tertentu di dalam cabor itu yang akan kita prioritaskan,” ujar Nabil.
Kebijakan ini menjadi bagian penting dari sistem pembinaan olahraga Jawa Timur yang berbasis efektivitas.
Agenda Jangka Pendek Olahraga Bela Diri
Untuk jangka pendek, KONI Jatim mempersiapkan keikutsertaan pada event olahraga bela diri di Sulawesi Utara.
Event tersebut dijadwalkan berlangsung pada pertengahan tahun dengan persiapan yang lebih matang.
Muhammad Nabil menilai waktu persiapan yang panjang akan berdampak pada peningkatan performa atlet.
“Yang delapan cabor ini nanti akan kita persiapkan lebih lama agar peningkatan prestasinya bisa lebih optimal,” jelasnya.
Pendekatan ini sekaligus menjadi penguatan awal menuju target besar PON 2028.
Perhitungan Jangka Panjang Menuju PON 2028
Selain agenda jangka pendek, KONI Jatim mulai menghitung potensi cabang olahraga untuk jangka panjang.
Fokus utama diarahkan pada cabang olahraga yang berpeluang menyumbang medali emas di PON 2028.
Perhitungan dilakukan berdasarkan data prestasi dan perkembangan atlet.
Muhammad Nabil menegaskan bahwa PON 2028 membutuhkan persiapan sistematis sejak dini.
Strategi ini menjadi fondasi utama pembinaan olahraga Jawa Timur yang berkelanjutan.
Single Event sebagai Ukuran Prestasi
Dalam proses pemantauan atlet, KONI Jatim menekankan pentingnya keikutsertaan dalam single event.
Muhammad Nabil menilai prestasi tidak cukup diukur dari latihan semata.
“Kalau hanya latihan, prestasinya belum terukur. Harus ada track record dari kejuaraan-kejuaraan yang diikuti,” tegasnya.
Keikutsertaan dalam kompetisi nasional dan internasional menjadi indikator objektif kualitas atlet.
Pendekatan ini memperkuat sistem seleksi dan pembinaan atlet Jawa Timur.
Pendekatan untuk Cabor Minim Medali
KONI Jatim juga memberi perhatian khusus pada cabang olahraga dengan jumlah peserta besar namun minim prestasi.
Muhammad Nabil menilai kondisi tersebut perlu ditangani dengan pendekatan pembinaan yang lebih terbuka.
“Kita akan bantu cabor-cabor yang medalinya masih jauh dari target. Ayo sama-sama membangun rekrutmen yang sportif, objektif, dan tanpa sekat, dengan satu alat ukur yaitu prestasi,” kata Nabil.
Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan daya saing atlet secara merata.
Menuju Pusat Prestasi Nasional
Lebih jauh, KONI Jatim menargetkan Jawa Timur sebagai pusat pembinaan dan prestasi olahraga nasional.
Kontribusi atlet Jawa Timur di SEA Games menjadi indikator keberhasilan pembinaan olahraga Jawa Timur.
Muhammad Nabil mengapresiasi prestasi atlet sekaligus mendorong lahirnya generasi baru.
“Saya mengapresiasi atlet-atlet yang berprestasi di SEA Games kemarin. Ke depan harus muncul generasi baru, sekaligus penguatan kualitas pelatih,” ujarnya.
Dengan strategi evaluatif dan terarah menuju PON 2028, KONI Jatim optimistis prestasi olahraga Jawa Timur akan semakin meningkat dan terukur. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni