RADARTUBAN - SLC Cup 2026 Road to Japan menjadi momentum penting dalam evaluasi pembinaan atlet bela diri nasional setelah sukses digelar selama dua hari pada 24–25 Januari 2026.
Kejuaraan bertajuk Super Fight Muaythai–K1–Kyokushin SLC Cup 2026 tersebut diikuti lebih dari 400 atlet dari berbagai daerah, dengan mayoritas peserta berasal dari Jawa Timur.
Ajang ini mempertandingkan tiga cabang olahraga bela diri, yakni Muay Thai, Kyokushin Karate, dan K-1, yang seluruhnya berada dalam sistem pembinaan Super Fight Championship.
Ketua Panitia SLC Cup 2026, Agus Pao, menegaskan bahwa turnamen ini merupakan bagian dari program pembinaan jangka panjang yang telah dirancang sejak 2022.
“Pertandingan ini adalah pertandingan berseri selama 10 tahun.
Setiap tahun kami memberikan reward kepada para juara untuk berangkat ke luar negeri dengan syarat dan ketentuan yang berlaku,” ujar Agus.
Road to Japan Jadi Program Lanjutan Pembinaan Atlet
Melalui tema Road to Japan, SLC Cup 2026 Road to Japan tidak hanya berfokus pada kompetisi, tetapi juga pada pembentukan mental dan pengalaman internasional atlet.
Para atlet terbaik dari kejuaraan ini akan diseleksi untuk mengikuti pemusatan latihan internasional di Jepang pada awal 2027.
Program Road to Japan merupakan kelanjutan dari reward internasional yang sebelumnya telah membawa atlet ke Singapura, Malaysia, Thailand, Hongkong, dan Macau.
Agus menyebut bahwa setiap tahun Super Fight Championship secara konsisten memberangkatkan puluhan atlet ke luar negeri.
“Setiap tahun rata-rata ada 35 hingga 40 atlet yang kami berangkatkan ke luar negeri.
Banyak dari mereka bahkan belum pernah naik pesawat atau ke luar negeri sebelumnya,” jelasnya.
SLC Cup 2026 Dorong Minat Olahraga Generasi Muda
Menurut Agus, SLC Cup 2026 Road to Japan juga menjadi respons terhadap menurunnya minat olahraga di kalangan generasi muda akibat pengaruh gaya hidup digital.
Ia menilai kompetisi yang rutin dan terstruktur mampu menjadi solusi untuk mengembalikan semangat berlatih atlet usia muda.
“Sekarang generasi muda lebih banyak bermain gadget.
Lewat event ini, kami ingin membangkitkan kembali semangat berlatih dan ketahanan fisik anak-anak muda,” katanya.
Panitia menetapkan atlet berusia minimal 15 tahun sebagai peserta yang berhak mendapatkan reward internasional.
Juara pertama menjadi prioritas utama, namun atlet peringkat kedua dan ketiga tetap memiliki peluang sesuai mekanisme penilaian panitia.
Terhubung dengan Liga Bela Diri Jawa Timur
Selain berskala nasional, SLC Cup 2026 Road to Japan juga terintegrasi dengan Liga Bela Diri Jawa Timur yang berlangsung sepanjang Januari hingga Desember 2026.
Atlet asal Jawa Timur mengumpulkan poin dari setiap seri Liga Bela Diri Jawa Timur sebagai dasar pemeringkatan akhir tahun.
Poin tersebut akan menentukan penghargaan tahunan sekaligus seleksi menuju agenda pembinaan besar pada 2027 di Surabaya.
PBMI Nilai SLC Cup Penting untuk Evaluasi Nasional
Ketua Pengurus Besar Muaythai Indonesia, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti, memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan SLC Cup 2026 Road to Japan.
“Saya mengapresiasi kejuaraan seperti ini karena sangat bagus untuk mencari bibit atlet Muaythai yang potensial,” ujar LaNyalla.
Ia menilai kejuaraan berjenjang seperti SLC Cup sangat membantu federasi dalam memantau perkembangan atlet nasional.
LaNyalla berharap kompetisi serupa dapat digelar lebih sering untuk meningkatkan jam terbang atlet.
“Harapan saya, kejuaraan seperti ini bisa digelar sesering mungkin.
Dengan begitu, peluang kita mendapatkan medali emas di SEA Games akan semakin besar,” tegasnya.
Evaluasi SEA Games 2025 Jadi Catatan Pembinaan
LaNyalla juga menjadikan hasil SEA Games 2025 Thailand sebagai bahan evaluasi pembinaan Muaythai Indonesia.
Ia menyebut Indonesia hanya mampu meraih satu medali perak dan tiga medali perunggu pada ajang tersebut.
“Mengaca dari kegagalan SEA Games 2025 kemarin, ke depan kita harus bisa meraih medali emas.
Karena itu, jam terbang atlet dan jumlah kejuaraan harus diperbanyak,” kata LaNyalla.
Melalui SLC Cup 2026 Road to Japan, PBMI menilai proses pembinaan atlet bela diri nasional kini memiliki fondasi yang lebih terukur.
Keberlanjutan Super Fight Championship hingga 2032 diharapkan mampu melahirkan atlet bela diri Indonesia yang kompetitif di level internasional. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni