RADARTUBAN - Indonesia kirim 26 atlet ke Kejuaraan Dunia Selam di Lignano, Italia, dan angka itu memunculkan pertanyaan tentang strategi, anggaran, serta peluang medali di level global.
Jumlah tersebut jauh lebih sedikit dibandingkan negara pesaing yang mengirimkan 60 hingga 70 atlet dalam satu ajang yang sama.
Ketimpangan kuantitas ini dinilai berdampak pada jumlah nomor yang dapat diikuti oleh kontingen Merah Putih.
Keterbatasan Nomor dan Peluang Medali
Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia (PB POSSI), Makhruzi Rahman, mengakui masih ada nomor pertandingan yang belum bisa diikuti Indonesia.
Ia menyebut keterbatasan jumlah atlet menjadi salah satu faktor utama dalam pengiriman kontingen.
“Jadi memang kita ada beberapa kelas yang tidak kita ikuti. Saya berharap kalau Jawa Timur nanti sudah mengoleksi juara di kelas-kelas tertentu, kita bisa ikut lebih banyak nomor,” ujarnya.
Pernyataan itu menunjukkan bahwa strategi pengiriman atlet masih bersifat selektif.
Namun di sisi lain, strategi tersebut juga membatasi potensi tambahan medali di nomor lain yang sebenarnya terbuka peluangnya.
Dalam konteks ini, Kejuaraan Dunia Selam bukan hanya soal kualitas, tetapi juga soal kuantitas partisipasi.
Semakin banyak nomor yang diikuti, semakin besar pula peluang naik podium.
Dominasi Atlet Jawa Timur
Meski jumlah atlet terbatas, kontribusi dari Jawa Timur tetap menonjol dalam berbagai ajang internasional.
Pada SEA Games 2023, Indonesia meraih delapan medali emas dari cabang selam.
Sebagian besar emas tersebut disumbangkan oleh atlet Jawa Timur.
Sementara dalam kejuaraan dunia di Lignano, Italia, kontingen Indonesia membawa pulang lima medali emas.
“Rata-rata memang didominasi oleh para atlet Jawa Timur,” kata Makhruzi.
Fakta ini memperkuat posisi Jawa Timur sebagai lumbung atlet selam nasional.
Namun dominasi daerah juga memunculkan tantangan pemerataan pembinaan secara nasional.
Jika Indonesia ingin meningkatkan capaian di Kejuaraan Dunia Selam, maka pembinaan tidak boleh hanya bertumpu pada satu provinsi.
Baca Juga: Atlet Selam Gresik Raih Medali Emas di Kejurnas OWF dan OBA
Evaluasi Strategi dan Dukungan Anggaran
Perbandingan jumlah atlet dengan negara lain memunculkan diskursus tentang dukungan anggaran dan prioritas kebijakan olahraga.
Negara pesaing yang mengirim hingga 70 atlet memiliki keuntungan dari sisi variasi nomor pertandingan.
Indonesia yang hanya mengirim 26 atlet harus memilih kelas yang dianggap paling potensial.
Situasi ini membuat frasa Indonesia kirim 26 atlet ke Kejuaraan Dunia Selam menjadi refleksi bersama bagi pemangku kebijakan olahraga.
Apakah strategi ini murni soal efisiensi, atau ada kendala dukungan pembiayaan.
Pertanyaan tersebut relevan mengingat selam telah menyumbang medali signifikan di berbagai ajang internasional.
Konsistensi prestasi tentu membutuhkan dukungan yang sepadan dengan target yang dicanangkan.
Harapan Perluasan Partisipasi
PB POSSI berharap ke depan Indonesia dapat mengikuti lebih banyak nomor dalam Kejuaraan Dunia Selam.
Perluasan partisipasi akan meningkatkan pengalaman atlet sekaligus memperluas peluang podium.
Upaya itu juga harus diiringi peningkatan kualitas pelatihan dan fasilitas bertaraf internasional.
Jika strategi diperkuat dan dukungan ditingkatkan, maka bukan tidak mungkin jumlah atlet yang dikirim akan bertambah pada edisi berikutnya.
Dengan begitu, narasi Indonesia kirim 26 atlet ke Kejuaraan Dunia Selam tidak lagi menjadi catatan keterbatasan, melainkan pijakan untuk lonjakan prestasi yang lebih besar.
Ke depan, evaluasi menyeluruh menjadi kunci agar target medali selaras dengan kebijakan pembinaan nasional. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni