Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Olimpiade Musim Dingin Disorot Usai Alat Kontrasepsi di Wisma Atlet Habis dalam Tiga Hari

Bihan Mokodompit • Selasa, 17 Februari 2026 | 08:21 WIB
Ilustrasi bendera Olimpiade Musim Dingin 2026 Milan-Cortina
Ilustrasi bendera Olimpiade Musim Dingin 2026 Milan-Cortina

RADARTUBAN - Olimpiade Musim Dingin kembali menjadi perhatian publik setelah muncul laporan mengenai keterbatasan alat kontrasepsi di wisma atlet yang dihuni ribuan peserta dari berbagai negara.

Isu ini mencuat di tengah penyelenggaraan pesta olahraga musim dingin di Milan-Cortina.

Seorang atlet yang identitasnya dirahasiakan mengungkapkan kepada media Italia bahwa persediaan alat kontrasepsi habis hanya dalam waktu singkat.

Ia mengatakan bahwa alat kontrasepsi tersebut “habis dalam tiga hari” dan pihak penyelenggara berjanji bahwa “lebih banyak akan segera datang”.

Pernyataan itu kemudian mendapat tanggapan dari Komite Olimpiade Internasional atau IOC.

Juru bicara IOC, Mark Adams, menjelaskan situasi tersebut dengan nada ringan.

Ia mengatakan bahwa momen Hari Valentine sedang berlangsung meriah di wisma atlet yang dihuni sekitar 2.800 atlet.

Ia juga menambahkan, “Dalam Piagam Olimpiade ada aturan 62 yang seolah mengharuskan selalu ada cerita tentang alat kontrasepsi. Lebih cepat, lebih tinggi, lebih kuat, bersama.”

Tradisi Alat Kontrasepsi di Ajang Olimpiade

Distribusi alat kontrasepsi di ajang Olimpiade bukanlah hal baru.

Kebijakan ini sudah berjalan sejak 1988 sebagai bagian dari kampanye edukasi mengenai hubungan yang aman bagi para atlet.

Tradisi tersebut juga berlaku dalam setiap Olimpiade Musim Dingin maupun edisi musim panas.

Jumlah alat kontrasepsi yang dibagikan pada Olimpiade Musim Dingin kali ini disebut tidak sebanyak saat Olimpiade Paris 2024.

Meski demikian, kebijakan pembagian alat kontrasepsi tetap dipertahankan sebagai bentuk tanggung jawab penyelenggara.

Langkah tersebut dinilai sebagai upaya pencegahan risiko kesehatan di lingkungan kompetisi internasional.

Kisah Micah Richards di Olimpiade London 2012

Cerita mengenai kehidupan sosial atlet juga pernah diungkap mantan pemain tim nasional Inggris, Micah Richards.

Ia membela Team GB pada Olimpiade London 2012. Dalam beberapa kesempatan, Richards mengenang suasana di wisma atlet sebagai pengalaman tak terlupakan.

Ia menyebutnya sebagai “pesta dari segala pesta” dengan beragam atlet dari berbagai latar belakang negara.

Dalam sebuah podcast, ia menceritakan pengalamannya selama tiga malam berada di wisma atlet.

“Kami di sana tiga malam. Kami latihan, kembali ke desa atlet, dan selama tiga malam itu kami begadang sampai jam 4 pagi,” ujarnya.

“Anda punya blok berbeda untuk tiap negara—Team GB di satu gedung, Brasil, Prancis, dan negara lain—dan ada satu ruangan besar penuh dengan alat kontrasepsi!”

“Itu jelas untuk mempromosikan seks aman, dan jujur saja, saya benar-benar bersemangat. Saya sedang dalam kondisi fisik terbaik, lebih ramping, lebih berotot, musim panas, berjalan tanpa mengenakan atasan.”

“Ada banyak ‘medali emas’. Salah satu masa terbaik dalam hidup saya, luar biasa.”

Pengalaman tersebut menjadi salah satu cerita populer yang kerap dikaitkan dengan dinamika sosial di ajang Olimpiade.

Pengakuan Atlet Lain Soal Kehidupan di Wisma Atlet

Mantan kiper Amerika Serikat, Hope Solo, juga pernah membagikan pandangannya.

Ia mengklaim melihat sejumlah atlet berhubungan intim secara terbuka di area sekitar wisma atlet.

Menurutnya, ada aktivitas yang terjadi “di atas rumput” dan “di antara gedung”.

Sementara itu, atlet polo air Amerika Serikat, Tony Azevedo, menilai interaksi tersebut terjadi karena para atlet bertemu dengan orang-orang yang memiliki kesamaan minat dan tujuan.

Pandangan berbeda disampaikan pelompat jauh Jerman, Susen Tiedtke.

Ia menyebut bahwa energi tinggi para atlet menjadi salah satu faktor yang memicu kedekatan antar peserta.

Fenomena ini kembali menjadi sorotan seiring bergulirnya Olimpiade Musim Dingin.

Namun demikian, pembagian alat kontrasepsi tetap dipandang sebagai bagian dari edukasi kesehatan dan tanggung jawab penyelenggara.

Pihak IOC sendiri tidak melihat isu ini sebagai pelanggaran, melainkan sebagai tradisi yang terus berulang dalam setiap gelaran Olimpiade.

Dengan demikian, isu alat kontrasepsi di wisma atlet menjadi warna tersendiri dalam perjalanan Olimpiade Musim Dingin tahun ini. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#micah richards #alat kontrasepsi #olimpiade musim dingin #wisma atlet #Olimpiade paris #ioc #olahraga #Milan Cortina