Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Regenerasi Atlet Disabilitas Jadi PR Usai ASEAN Para Games 2025

Bihan Mokodompit • Kamis, 19 Februari 2026 | 19:30 WIB
Atlet para Chess Indonesia.
Atlet para Chess Indonesia.

RADARTUBAN - Tantangan Regenerasi Atlet Disabilitas Indonesia menjadi pekerjaan rumah besar setelah kontingen Merah Putih meraih 135 medali emas dan finis sebagai runner up di ASEAN Para Games 2025.

Prestasi tersebut patut diapresiasi, namun kesinambungan prestasi tidak cukup hanya bergantung pada satu generasi emas.

Keberhasilan di level Asia Tenggara harus dibaca sebagai momentum memperkuat sistem pembinaan atlet disabilitas Indonesia secara menyeluruh.

Evaluasi Pasca ASEAN Para Games 2025

Capaian di ASEAN Para Games 2025 menunjukkan kualitas pembinaan nasional tidak bisa dipandang sebelah mata.

Namun evaluasi tetap dibutuhkan agar prestasi tidak stagnan dalam satu siklus kompetisi saja.

Menteri Pemuda dan Olahraga, Erick Thohir, menegaskan pentingnya menjaga fokus menghadapi ajang berikutnya.

“Kita tidak ingin terus terlena akan hasil yang lalu, karena ajang besar Asian Para Games telah menanti. Tak ada waktu lama bersantai, sekarang para atlet kembali lakukan persiapan karena mereka adalah duta bangsa terbaik yang mewakili Indonesia di level Asia,” terangnya.

Pernyataan tersebut menjadi sinyal bahwa pembinaan atlet disabilitas Indonesia tidak boleh berhenti pada perayaan medali.

Regenerasi harus disiapkan sejak sekarang agar target di level Asia tetap realistis dan terukur.

Regenerasi dan Pencarian Bakat di Daerah

Tantangan regenerasi atlet disabilitas Indonesia terletak pada proses pencarian bakat sejak usia dini.

Banyak talenta potensial di daerah yang belum terpetakan secara sistematis.

Sekolah Luar Biasa dan komunitas disabilitas memiliki peran penting dalam menemukan bibit baru.

Namun koordinasi antara daerah dan pusat masih perlu diperkuat agar pembinaan tidak timpang.

Keberhasilan di ASEAN Para Games 2025 seharusnya menjadi pintu masuk memperluas akses olahraga prestasi bagi penyandang disabilitas di seluruh Indonesia.

Regenerasi tidak boleh hanya terfokus pada atlet yang sudah masuk pelatnas.

Peran Paralympic Training Center

Pemerintah telah menghadirkan Paralympic Training Center sebagai pusat pelatihan terpadu.

Fasilitas ini diharapkan menjadi fondasi jangka panjang dalam memperkuat atlet disabilitas Indonesia.

Menpora juga menegaskan komitmen dukungan pemerintah terhadap pembinaan berkelanjutan.

"Salah satu komitmen pemerintah guna mendukung atlet disabilitas adalah dengan hadirnya Paralympic Training Center. seluruh atlet mendapatkan fasilitas pelatihan yang terpadu, terukur dan berkelanjutan, saya ingin kehadiran pusat pelatihan ini dapat memperkuat kesiapan atlet dalam mengasah kemampuan mereka serta tetap bersemangat dan berprestasi di ajang multievent internasional para atlet,” pungkas Erick.

Mantan Menteri BUMN itu menjelaskan, fasilitas modern saja tidak cukup tanpa sistem regenerasi yang jelas.

Atlet senior yang bersinar di ASEAN Para Games 2025 perlu diikuti oleh lapisan atlet muda yang siap menggantikan.

Menuju Asian Para Games 2026

Fokus berikutnya adalah menghadapi Asian Para Games 2026 yang memiliki level persaingan lebih tinggi.

Kompetisi Asia menuntut kedalaman skuad dan kualitas regenerasi yang matang.

Tantangan regenerasi atlet disabilitas Indonesia akan diuji dalam ajang tersebut.

Jika pembinaan berjalan konsisten, maka atlet disabilitas Indonesia berpeluang menjaga tren positif.

Namun jika regenerasi tersendat, jarak dengan negara kuat Asia bisa semakin melebar.

Ke depan, transparansi program pembinaan dan pemerataan akses olahraga menjadi kunci.

Tantangan regenerasi atlet disabilitas Indonesia bukan hanya isu olahraga, tetapi juga menyangkut hak kesetaraan dan masa depan talenta bangsa.

Keberhasilan di ASEAN Para Games 2025 harus menjadi awal dari sistem yang lebih kokoh, bukan sekadar catatan sejarah sesaat. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#menpora #regenerasi #BUMN #Erick Thohir #atlet