Tiga Kali PON Tanpa Emas, Angkat Berat Jatim Jadi Alarm Merah Jelang Pra-PON 2027

Bihan Mokodompit • Dipublikasikan Senin, 23 Februari 2026 | 13:30 WIB

Ilustrasi atlet angkat besi
Ilustrasi atlet angkat besi

RADARTUBAN - Angkat berat Jatim kembali menjadi sorotan setelah tiga edisi Pekan Olahraga Nasional terakhir gagal menyumbang medali emas bagi kontingen Jawa Timur.

Kondisi ini memicu evaluasi serius di internal organisasi olahraga daerah.

Situasi tersebut mengemuka dalam Rapat Kerja Daerah Persatuan Angkat Berat Seluruh Indonesia Jawa Timur yang dibuka Ketua Umum KONI Jawa Timur, Muhammad Nabil, di Surabaya, Sabtu (21/2).

Kegagalan meraih emas dalam tiga edisi Pekan Olahraga Nasional atau PON dinilai bukan sekadar catatan statistik.

Hal itu menjadi indikator bahwa sistem pembinaan perlu dibenahi secara menyeluruh.

Baca Juga: Menuju PON 2028, Jatim Mulai Evaluasi Cabang Olahraga yang Pernah Kehilangan Medali

Evaluasi Tiga PON Terakhir

Muhammad Nabil menegaskan bahwa cabang angkat berat harus kembali ditempatkan sebagai prioritas pembinaan.

Menurutnya, kontribusi medali emas adalah tolok ukur keberhasilan pembinaan jangka panjang.

“Angkat berat ini cabor penting yang harus dikembangkan di Jawa Timur. Tiga PON terakhir kita belum dapat emas. Karena itu saya minta daerah benar-benar mempersiapkan diri menuju Pra-PON 2027,” tegas Nabil.

Pernyataan tersebut menjadi sinyal bahwa angkat berat Jatim tidak boleh lagi berjalan dengan pola lama.

Evaluasi dilakukan tidak hanya pada atlet, tetapi juga pada sistem kompetisi dan manajemen organisasi.

Dalam konteks Pekan Olahraga Nasional, persaingan antarprovinsi semakin ketat.

Provinsi lain mampu melahirkan atlet berprestasi melalui program kompetisi yang konsisten.

Sementara itu, angkat berat Jatim dinilai belum maksimal dalam menjaga stabilitas performa atlet di level nasional.

Pra-PON 2027 Jadi Momentum Pembuktian

Pra-PON 2027 disebut sebagai fase krusial sebelum menghadapi PON 2028.

Ajang ini akan menjadi penyaring utama atlet yang benar-benar siap bersaing.

Nabil menyebut momentum Pra-PON tidak boleh disia-siakan.

Ia meminta pengurus kabupaten dan kota memaksimalkan potensi atlet yang sudah berada di level “setengah matang”.

Langkah tersebut dianggap penting agar angkat berat Jatim tidak kembali gagal di Pekan Olahraga Nasional berikutnya.

Selain pembinaan teknis, frekuensi kompetisi juga menjadi perhatian serius.

Nabil menekankan pentingnya jam terbang pertandingan.

“Cabor harus sering ikut kompetisi dan event. Jangan hanya kuat di latihan, tapi tidak kuat di pertandingan,” ujarnya.

Pernyataan itu menegaskan bahwa kekuatan latihan harus sejalan dengan mental bertanding.

Tanpa pengalaman kompetisi, peluang meraih emas di PON akan sulit diwujudkan.

Pembenahan Organisasi dan Target Emas

Ketua Umum Pabersi Jawa Timur, Abram Nathan, memastikan hasil rapat kerja tidak berhenti pada wacana.

Ia menyatakan dua kejuaraan provinsi akan digelar sepanjang 2026.

Agenda tersebut menjadi bagian dari strategi jangka menengah menuju Pra-PON.

Kejurprov pertama direncanakan pada pertengahan tahun dengan mempertandingkan kelas sub-junior dan umum.

Kejurprov kedua digelar akhir tahun dengan fokus pada kategori junior.

Skema ini dirancang sebagai pra-kualifikasi menuju Pekan Olahraga Nasional.

Abram menegaskan seleksi akan berbasis standar kualitas.

“Kita akan setting seperti babak kualifikasi agar saat Porprov nanti benar-benar diikuti atlet yang sudah memenuhi standar kualitas,” kata Abram.

Selain kompetisi, pembenahan juga menyasar aspek sumber daya manusia.

Masih terdapat pelatih dan wasit yang belum memiliki lisensi resmi.

Standarisasi lisensi diharapkan mampu meningkatkan mutu pembinaan secara menyeluruh.

Langkah tersebut menjadi bagian dari reformasi angkat berat Jatim agar kembali kompetitif di Pekan Olahraga Nasional mendatang.

Upaya ini sekaligus menjawab tuntutan publik agar cabang olahraga unggulan daerah tidak terus tertinggal dalam perolehan medali emas.

Dengan evaluasi menyeluruh dan target yang terukur, angkat berat Jatim kini menghadapi fase penentuan.

Pra-PON 2027 akan menjadi pembuktian apakah alarm merah ini mampu direspons dengan prestasi nyata di PON 2028. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
pon emas koni jawa timur Angkat beratJatim pra-pon