Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

83 Negara Sudah Kenal Pencak Silat, Tapi Kenapa Belum Jadi Arus Utama Dunia?

Bihan Mokodompit • Kamis, 16 April 2026 | 09:05 WIB
Ilustrasi Pencak Silat (Instagram/PB.pencaksilatindonesia)
Ilustrasi Pencak Silat (Instagram/PB.pencaksilatindonesia)

RADARTUBAN - Pencak silat dunia memang sudah menjangkau 83 negara, namun fakta ini belum cukup untuk menjadikannya sebagai arus utama dalam peta olahraga bela diri global.

Fenomena ini menjadi sorotan setelah pernyataan dari pemerintah dan Ikatan Pencak Silat Indonesia yang terus mendorong internasionalisasi pencak silat melalui berbagai event dan diplomasi olahraga.

Ketua Umum PB IPSI terpilih, Sugiono, menegaskan bahwa tanggung jawab besar ada di pundaknya untuk membawa pencak silat dunia ke panggung yang lebih tinggi.

“Saya rasa itu merupakan tanggung jawab yang besar yang harus dilakukan oleh IPSI, selain juga di luar tanggung jawab dan tugas untuk bisa menduniakan pencak silat dalam event-event besar dunia, khususnya Olimpiade,” ujar Sugiono.

Baca Juga: Prestasi Bela Diri Jatim Dinilai Tertinggal, Jepang Siap Turun Tangan Benahi Sistem Latihan

Tantangan Branding di Kancah Global

Meski pencak silat dunia sudah dikenal luas, namun popularitasnya masih kalah dibandingkan olahraga bela diri lain seperti taekwondo atau judo.

Hal ini tidak lepas dari lemahnya strategi branding dan promosi internasional yang belum terintegrasi secara maksimal.

Pencak silat dunia juga belum memiliki eksposur media global yang kuat seperti kompetisi MMA atau UFC yang sudah lebih dulu mendunia.

Di sisi lain, IPSI sebagai induk organisasi memiliki tantangan besar untuk menyatukan standar dan aturan agar lebih mudah diterima secara internasional.

 

Standarisasi Jadi Kunci Penting

Salah satu hambatan utama pencak silat dunia adalah perbedaan gaya dan aliran yang sangat beragam di setiap negara.

Keragaman ini memang menjadi kekuatan budaya, namun di sisi lain menyulitkan dalam proses standarisasi sebagai olahraga bela diri kompetitif.

Tanpa standar yang seragam, pencak silat dunia akan sulit masuk ke dalam sistem olahraga global seperti Olimpiade.

IPSI pun dituntut untuk mampu menjembatani antara nilai tradisional dan kebutuhan modern dalam dunia olahraga bela diri.

Peran Diplomasi dan Diaspora Indonesia

Upaya memperluas pencak silat dunia tidak hanya bergantung pada event olahraga, tetapi juga melalui diplomasi budaya.

Peran diaspora Indonesia menjadi sangat penting dalam memperkenalkan pencak silat dunia ke berbagai negara.

Namun hingga kini, strategi tersebut masih belum terstruktur secara masif dan berkelanjutan.

Padahal, olahraga bela diri lain berhasil mendunia karena dukungan kuat dari negara asalnya dalam promosi budaya.

Antara Budaya dan Kompetisi

Pencak silat dunia memiliki keunikan sebagai perpaduan antara olahraga bela diri dan warisan budaya.

Nilai ini menjadi daya tarik tersendiri, namun juga menjadi tantangan dalam menyesuaikan diri dengan tuntutan kompetisi modern.

Sebagian pihak menilai bahwa terlalu kuatnya unsur budaya justru membuat pencak silat dunia sulit diterima sebagai olahraga murni di level internasional.

Sebaliknya, jika terlalu fokus pada kompetisi, ada kekhawatiran nilai budaya akan tergerus.

Jalan Panjang Menuju Arus Utama Dunia

Upaya membawa pencak silat dunia menjadi arus utama membutuhkan kerja kolektif antara pemerintah, IPSI, dan komunitas global.

Dukungan dari berbagai pihak menjadi penting agar pencak silat dunia tidak hanya dikenal, tetapi juga diakui secara luas.

Dengan strategi yang tepat, bukan tidak mungkin pencak silat dunia dapat sejajar dengan olahraga bela diri lainnya.

Namun tanpa pembenahan serius, pencak silat dunia berisiko tetap berada di posisi sebagai olahraga yang dikenal, tetapi belum benar-benar mendunia. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#PB IPSI #Pencak Silat #ipsi #olahraga bela diri