RADARTUBAN - Dua trofi Asia dalam satu musim menjadi penutup sempurna perjalanan Reidel Toiran bersama tim voli Indonesia.
Pelatih asal Kuba itu mengakhiri masa baktinya setelah sukses membawa Indonesia mencatat sejarah, sebelum tongkat estafet kepelatihan diserahkan kepada pelatih asal Brasil, Veloso.
Keberhasilan tersebut bukan sekadar menambah koleksi gelar.
Toiran meninggalkan fondasi yang mengangkat pamor voli Indonesia di level Asia sekaligus membuka jalan menuju panggung dunia.
Dua Gelar Asia dalam Satu Tahun
Musim 2026 menjadi periode paling bersejarah dalam karier Reidel Toiran. Bersama Jakarta Bhayangkara Presisi, pelatih 41 tahun itu sukses meraih gelar Juara Asia Antar Klub 2026.
Baca Juga: Regenerasi Atlet Muda Jatim: Kejurnas U-19 Jadi Penentu Masa Depan Voli Nasional
Tak berhenti di sana, Toiran kembali mengukir prestasi ketika membawa Timnas Voli Putra Indonesia menjuarai AVC Men's Champions 2026.
Gelar tersebut menegaskan peningkatan kualitas permainan Indonesia yang kini mampu bersaing dengan kekuatan-kekuatan tradisional Asia.
Dua prestasi bergengsi itu sekaligus mempertegas kapasitas Toiran sebagai salah satu pelatih paling sukses yang pernah menangani tim voli Indonesia.
Indonesia Siap Tampil di Piala Dunia Antar Klub
Keberhasilan Jakarta Bhayangkara Presisi menjuarai kompetisi Asia juga memastikan wakil Indonesia tampil di Piala Dunia Antar Klub yang dijadwalkan berlangsung pada akhir tahun ini.
Kesempatan tampil di turnamen dunia menjadi pencapaian penting karena mempertemukan klub Indonesia dengan para juara dari berbagai konfederasi.
Ajang tersebut sekaligus menjadi tolok ukur sejauh mana kualitas voli nasional mampu bersaing di level internasional.
Tongkat Estafet Beralih ke Veloso
Laga terakhir bersama Timnas Indonesia menjadi momen perpisahan Reidel Toiran.
Setelah menyelesaikan tugasnya di level tim nasional, ia akan kembali fokus menangani Jakarta Bhayangkara Presisi untuk mempersiapkan tim menghadapi Proliga 2026.
Sementara itu, posisi pelatih Timnas Voli Indonesia selanjutnya akan diisi Veloso, pelatih asal Brasil yang diharapkan mampu menjaga tren positif yang telah dibangun pendahulunya.
Warisan terbesar Toiran bukan hanya dua trofi Asia. Ia meninggalkan standar baru bahwa Indonesia kini bukan lagi sekadar peserta di level Asia, melainkan tim yang mampu menjadi juara dan menatap persaingan dunia dengan kepercayaan diri lebih besar. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni