RADARTUBAN - Hanya 11,6 persen penyandang disabilitas aktif berolahraga di Indonesia berdasarkan data yang dipaparkan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), sehingga kondisi tersebut menjadi tantangan besar dalam mewujudkan olahraga yang inklusif bagi seluruh masyarakat.
Rendahnya angka penyandang disabilitas aktif berolahraga menunjukkan masih adanya berbagai hambatan yang harus diselesaikan, mulai dari keterbatasan sumber daya manusia hingga akses pembinaan di berbagai daerah.
Persoalan tersebut diungkapkan Kemenpora saat menggelar Training of Trainers (ToT) Penggerak Olahraga Disabilitas bertajuk "Berdaya" di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat.
Baca Juga: Ada 500 Atlet Disabilitas Segera Pensiun, Pemerintah Siapkan Jalan Karier Baru
Program tersebut tidak hanya berfokus pada pelatihan semata, tetapi juga disiapkan sebagai strategi membangun ekosistem olahraga disabilitas yang lebih merata di Indonesia.
Pelaksana Tugas Asisten Deputi Olahraga Layanan Khusus Kemenpora, Ahmad Arsani, mengatakan peningkatan jumlah tenaga pendamping menjadi kebutuhan mendesak agar semakin banyak penyandang disabilitas aktif berolahraga.
Menurutnya, Indonesia memiliki sekitar 22,9 juta penyandang disabilitas.
Namun, hanya 11,6 persen dari jumlah tersebut yang rutin mengikuti aktivitas olahraga.
Kondisi itu dinilai masih jauh dari harapan apabila dibandingkan dengan kebutuhan pembinaan olahraga yang inklusif.
Selain rendahnya tingkat partisipasi, Indonesia juga masih menghadapi keterbatasan jumlah pelatih disabilitas.
Saat ini, Indonesia baru memiliki 92 pelatih disabilitas yang berasal dari National Paralympic Committee Indonesia (NPCI).
Jumlah tersebut dinilai belum sebanding dengan kebutuhan pembinaan di berbagai daerah.
"Untuk mendongkrak partisipasi berolahraga serta mencetak lebih banyak atlet disabilitas berprestasi, kita membutuhkan peningkatan jumlah pelatih, pendamping, dan penggerak olahraga disabilitas yang kompeten. Itulah yang melatarbelakangi dicetuskannya program ToT 'Berdaya' ini," ujar Arsani.
Kekurangan Pelatih Jadi Kendala Pembinaan
Kemenpora menilai keterbatasan pelatih disabilitas menjadi salah satu penyebab rendahnya angka partisipasi olahraga di kalangan penyandang disabilitas.
Minimnya tenaga pendamping membuat proses pembinaan di tingkat komunitas belum berjalan secara optimal.
Baca Juga: Hari Penyandang Disabilitas: Mengingat bahwa Kita Semua Berpotensi Menjadi Penyandang Disabilitas
Padahal, kehadiran pelatih menjadi faktor penting dalam memperkenalkan olahraga disabilitas kepada masyarakat sekaligus mendampingi atlet sejak tahap awal.
Melalui program ToT "Berdaya", Kemenpora berupaya mencetak lebih banyak penggerak olahraga yang nantinya bertugas membina komunitas penyandang disabilitas di berbagai wilayah.
Program tersebut disusun melalui empat tahapan yang saling berkaitan. Tahap pertama dimulai dengan pembentukan master trainer.
"Telah dilaksanakan pada April lalu dengan melibatkan 30 atlet elite internasasional. Peserta yang lulus seleksi komprehensif ini digembleng untuk siap menjadi instruktur bagi para pelatih di daerah," katanya.
Tahap berikutnya adalah pelatihan intensif bagi pelatih lokal yang memiliki komitmen mengembangkan olahraga disabilitas di daerah masing-masing.
Selanjutnya, para peserta memasuki fase implementasi melalui pendampingan langsung kepada komunitas penyandang disabilitas.
"Fase Ketiga merupakan aktualisasi, yakni periode implementasi langsung di mana para pelatih menerapkan keterampilan yang didapat ke tingkat komunitas atau kelompok disabilitas," tambahnya.
Tahapan terakhir adalah monitoring dan evaluasi untuk mengukur dampak program sekaligus menyusun laporan hasil pelaksanaan.
Kemenpora Dorong Hak Berolahraga yang Setara
Program ToT "Berdaya" di Kabupaten Majalengka diikuti sebanyak 120 peserta yang berasal dari berbagai unsur masyarakat.
Selama dua hari pelatihan, peserta mendapatkan materi mengenai konsep dasar olahraga disabilitas, klasifikasi olahraga adaptif, metode latihan, hingga teknik identifikasi bakat atlet.
Kemenpora juga menghadirkan akademisi dan pakar olahraga adaptif guna memastikan kualitas materi yang diberikan kepada peserta.
Langkah tersebut diharapkan mampu memperluas akses pembinaan sekaligus meningkatkan jumlah penyandang disabilitas aktif berolahraga di masa mendatang.
Selain itu, peningkatan kapasitas penggerak olahraga di daerah diharapkan mampu membuka peluang lahirnya lebih banyak atlet disabilitas berprestasi.
"Melalui program ini, Kemenpora berharap dapat menciptakan dampak jangka panjang bagi pemenuhan hak berolahraga yang setara bagi seluruh lapisan masyarakat," tutup Arsani.
Dengan memperkuat jumlah penggerak, meningkatkan kapasitas pelatih disabilitas, serta memperluas jangkauan pembinaan, Kemenpora berharap angka penyandang disabilitas aktif berolahraga dapat terus meningkat sehingga hak setiap warga negara untuk hidup sehat dan berolahraga dapat terpenuhi secara lebih merata. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni