Menolak Lupa Tragedi Kanjuruhan, Rekam Jejak Bencana Kelam Sepak Bola 135 Korban Jiwa

Rosiana Dwi Ramadhani • Dipublikasikan Minggu, 6 September 2026 | 15:46 WIB
Potret tragedi Kanjuruhan yang menewaskan 135 korban jiwa. (Pinterest)
Potret tragedi Kanjuruhan yang menewaskan 135 korban jiwa. (Pinterest)

RADARTUBAN - Dunia olahraga tanah air mencatatkan rekam jejak paling mematikan sewaktu laga derby Jawa Timur antara Arema FC melawan Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, berujung petaka massal yang merenggut 135 jiwa pada 1 Oktober 2022 malam. 

Peristiwa tragis tragedi kanjuruhan tersebut hingga kini terus dikenang sebagai bencana kelam paling mematikan nomor dua sepanjang sejarah sepak bola dunia.

Kekalahan Tuan Rumah dan Awal Kerusuhan

Dikutip dari kanal YouTube Redaksi Konspirasi, laga derby Jawa Timur antara Arema FC melawan Persebaya Surabaya semula berlangsung panas di tengah kehadiran puluhan ribu Aremania.

Baca Juga: Perseturuan Suporter Persib dan Persija: Kita (Sekali Lagi) Tidak Belajar Apa-Apa dari Tragedi Kanjuruhan

Bentrokan emosional di atas lapangan hijau berakhir dengan skor 2-3 untuk keunggulan tim tamu Persebaya. 

Pemicu awal terjadinya malapetaka tersebut bermula sewaktu sejumlah penonton melompati pagar dan merangsek turun ke area lapangan begitu peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan dibunyikan.

Eskalasi situasi berlangsung sangat cepat ketika tindakan represif dari aparat penegak hukum dalam menangani massa lapangan justru memicu gelombang amarah penonton di tribun. 

Ratusan suporter yang tersulut emosi mulai bergerak turun secara masif ke area tengah lapangan, hingga aksi bentrokan terbuka antar-massa tak lagi dapat dihindarkan.

Tembakan Gas Air Mata dan Kepanikan di Tribun

Kepanikan hebat yang berujung maut meletus sewaktu petugas keamanan memutuskan menembakkan gas air mata langsung ke arah tribun penonton yang masih padat. 

Dalam waktu singkat, kepulan asap putih tebal langsung mengisolasi sektor tribun 10, 11, 12, dan 14 yang saat itu disesaki oleh kelompok penonton wanita serta anak-anak.

Sensasi perih tajam pada mata disertai sesak napas berat memaksa ribuan suporter bergerak serentak menyelamatkan diri menuju celah pintu keluar.

Nahas, sejumlah akses pintu utama seperti Pintu 13 berada dalam kondisi terkunci rapat dengan sistem kendali yang sangat minim. 

Penumpukan massa dalam skala masif tak terelakkan, menyebabkan ratusan korban tewas akibat terhimpit, kekurangan pasokan oksigen, hingga terinjak-injak di tangga penyempitan stadion.

Temuan Fatal TGUPF, Tiket Overkapasitas

Hasil investigasi Tim Pencari Fakta Gabungan (TGUPF) kemudian menemukan sejumlah kejanggalan fatal. Salah satunya adalah penjualan tiket yang melebihi kapasitas stadion, dari kapasitas 38.000 penonton menjadi sekitar 42.000 tiket yang beredar.

Selain itu, pengerahan gas air mata ke area tribun penonton terbukti menjadi pemicu utama kepanikan massal tersebut.

Meski enam orang sempat ditetapkan sebagai tersangka dengan proses peradilan yang diwarnai beragam sorotan, duka mendalam keluarga korban tetap tak terhapuskan. 

Tragedi Kanjuruhan kini menjadi catatan paling kelam dalam sejarah olahraga nasional, mengingatkan bahwa tak ada satu pun nyawa yang sepadan dengan pertandingan sepak bola. (*)

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
kanjuruhan arema fc Tragedi Kanjuruhan Persebaya Surabaya