RADARTUBAN - Satu tendangan dari titik putih menjadi mimpi buruk bagi SMAN 2 Tuban. Saat peluang demi peluang gagal dikonversi menjadi gol, sebuah penalti justru menjadi penentu yang mengakhiri perjalanan Amsyal dkk di Bahlil Mini Soccer Asyik Menuju Puncak Zona 5 Bojonegoro-Tuban.
SMAN 2 Tuban harus menelan pil pahit setelah kalah tipis 0-1 dari MAN 1 Bojonegoro dalam laga semifinal yang berlangsung di Stadion Letjend H. Soedirman Bojonegoro, Selasa (15/9) siang.
Kekalahan ini terasa semakin menyakitkan karena permainan SMAN 2 Tuban sebenarnya cukup menjanjikan sepanjang pertandingan.
Baca Juga: SMAN 2 Tuban Jadi Harapan Terakhir, Selangkah Lagi ke Final Bahlil Mini Soccer
Dominan, tetapi Mandul di Depan Gawang
Sejak pertandingan bergulir, SMAN 2 Tuban mampu memberikan tekanan dan lebih banyak menguasai jalannya laga.
Beberapa peluang berbahaya juga berhasil diciptakan untuk membongkar pertahanan MAN 1 Bojonegoro.
Namun, masalah terbesar muncul ketika peluang tersebut harus diakhiri dengan penyelesaian.
Tidak ada satu pun kesempatan emas yang berhasil dimaksimalkan menjadi gol.
Di tengah tekanan tersebut, MAN 1 Bojonegoro justru mendapatkan momentum dari titik penalti. Eksekusi penalti sukses mengubah kedudukan menjadi 1-0.
Gol tersebut sekaligus menjadi pembeda dalam pertandingan yang berlangsung ketat.
SMAN 2 Tuban berusaha mengejar hingga menit-menit akhir, tetapi gol penyama kedudukan tak kunjung lahir.
Peluang Ada, Ketajaman Jadi Masalah
Pelatih SMAN 2 Tuban Muhammad Yusuf Ali mengakui timnya memiliki sejumlah peluang, tetapi gagal memanfaatkannya karena kurang tenang dalam penyelesaian akhir.
"Kami punya banyak peluang, tapi anak-anak kurang tenang sehingga tidak bisa mencetak gol," kata Yusuf.
Hingga peluit panjang berbunyi, skor 0-1 tidak berubah. MAN 1 Bojonegoro pun memastikan tiket ke final, sementara SMAN 2 Tuban harus mengakhiri perjuangannya di babak semifinal.
Kekalahan tersebut sekaligus menyisakan penyesalan besar. Sebab, secara permainan SMAN 2 Tuban mampu memberikan perlawanan kuat, tetapi satu kesalahan dan kegagalan memaksimalkan peluang akhirnya menjadi pembeda. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning MentariSumber : Radar Tuban