Gairah nasionalisme tumbuh dan mekar bersamaan dengan perjuangan Garuda Muda di Piala Asia U-23.
Melihat gairah pemain dan luberan semangat para supporter dengan mengibarkan sang merah putih menjadi pemandangan bahwa nasionalisme masih tumbuh subur di dada pemuda bangsa ini.
Saat Timnas Indonesia berhasil mengalahkan Australia (1-0) dan menenggelamkan Yordania (4-1), bermain tak kenal lelah saat menyingkirkan tim kuat Korea Selatan, walau akhirnya gagal ke Olimpiade Paris setelah kalah 0-1 dari Guinea (wakil dari Benua Afrika), bangsa Indonesia tetap merasakan nasionalisme yang mekar di taman kebangsaan.
Ada pendidikan nasionalisme yang bisa kita ambil, yang seharusnya bisa dikembangkan ke generasi muda agar nasionalisme bisa senantiasa tumbuh dan berkembang di hati. Apalagi di saat negeri kita tercinta cinta ini, sering disebut dengan nada sinis sebagai negeri Wakanda atau Konoha oleh para netizen.
Sisi lain yang menarik dari timnas sepak bola saat ini ialah viralnya cerita-cerita dan bahkan hoaks tentang naturalisasi dari pemain yang mempunyai hubungan darah dengan Indonesia. Dalam sejarah panjang sepak bola Indonesia, era Erick Thohir dan kepelatihan Shin Tae Yong sebagai rekor naturalisasi terbanyak.
Demi sebuah mimpi membangun tim sepakbola yang hebat, bisa berbicara di level asia atau bahkan dunia. Sebuah lompatan yang besar jika Indonesia bisa tampil di piala dunia atau setidak-tidaknya di olimpiade. Walaupun sebenarnya sebelum Indonesia merdeka pernah ikut pilihan dunia, dengan nama Hindia Belanda.
Pelajaran nasionalisme dari paradigma nasionalisme baru urgen untuk dikembangkan di generasi muda terutama peserta didik dari SD-SMA, generasi yang lahir tahun 2000-an.
Nasionalisme patriotik ala pejuang kemerdekaan sulit untuk diterima karena terlalu abstrak, apalagi di saat anak-anak tumbuh besar dengan pahlawan di eranya sendiri, bisa jadi pahlawan yang dipilihnya hanya sosok dari karya-karya fiksi saja.
Apalagi kalau kita melihat pola hidup generasi ini seringkali murung secara sosial karena sibuk dunia game online yang telah memengaruhi pemikiran, dan bahkan menjadi bagian penting dari kehidupan mereka.
Kisah-kisah para pemain naturalisasi yang ingin membela Indonesia, di saat Indonesia sering-sering diolok-olok oleh warganya sendiri sebagai Wakanda dan Konoha, bisa menjadi oase nasionalisme yang bisa menjadi cermin bagi nasionalisme kita saat ini.
Sejauh manakah nasionalisme kita? Kita lahir dan besar di Indonesia, apa yang telah dilakukan untuk mengangkat nama Indonesia! Pemain naturalisasi yang tidak lahir di Indonesia hanya karena mempunyai keturunan Indonesia, mempunyai semangat untuk membela negeri yang rasanya asing bagi mereka sendiri.
Menukar kewarganegaraannya dengan kewarganegaraan Indonesia. Sebuah pilihan yang berani, sebuah sikap yang lahir dari cara pandang baru terhadap nasionalisme.
Penulis menyebutnya sebagai pilihan berani karena pujian dan caci maki dalam dunia olahraga itu dekat, bahkan rasanya setipis tisu.
Mesut Ozil, pemain Timnas Jerman yang keturunan Turki pernah berkata “Jika aku memenangkan pertandingan (bersama Timnas Jerman) aku adalah warga Jerman, namun jika kalah, dalam pandangan mereka aku hanyalah imigran dari Turki”.
Ada fase Ozil dipuji setinggi langit terutama setelah memenangkan Piala Dunia 2014, lalu direndahkan saat bermain buruk dan Timnas Jerman harus keok dalam sebuah pertandingan.
Perkataan ala Ozil itu bisa jadi kelak akan diungkapan oleh pemain naturalisasi Indonesia saat ini.
Salah satu materi dasar dalam pendidikan nasional adalah menumbuhkan nasionalisme di pada peserta didik. Pendidikan nasional tidak boleh abai terhadap sikap cinta tanah air yang seharusnya dikembangkan dalam dunia pendidikan.
Tanpa penanaman nilai seperti itu, maka jiwa bangsa akan kering bahkan bisa hilang, kebanggaan menjadi bagian dari bangsa ini musnah, berganti menjadi rasa minder. Malu sebagai orang Indonesia.
Pelajaran tentang nasionalisme di sekolah, sering kali sibuk dengan menyajikan sosok pahlawan dari kisah perjuangan masa lalu, sesuatu yang absurd dalam pemikiran peserta didik. Sosok pahlawan modern dari dunia olah raga bisa mendekatkan jarak antara konsep nasionalisme dengan pemikiran peserta didik.
Jika pemain yang tidak lahir dan besar di Indonesia, hanya karena mempunyai ikatan darah dari Indonesia, mau menjadi bagian yang mengharumkan nama Indonesia, mengapa kita yang lahir dan besar di Indonesia tidak pernah berusaha menjadi bagian dari yang ingin mengharumkan Indonesia. Ungkapan klasik,
“jangan bertanya apa yang telah diberikan negara kepadamu, tapi bertanyalah apa yang telah engkau berikan kepada negaramu”. Menjadi ungkapan yang cocok untuk diterapkan saat ini.
Di saat ini nasionalisme terasa cair sekali, sehingga bisa jadi memilihnya adalah pemilihan yang rasional juga, walaupun ada sedikit bumbu-bumbu primodialnya.
Bisa jadi pemain bulu tangkis yang tidak mendapatkan ruang luas di Indonesia untuk berprestasi, memilih negara lain untuk tetap berprestasi.
Itu pilihan yang rasional, bukan saatnya lagi menghukum apalagi menghina sebagai penghianat bangsa. Sedangkan pada sepak bola, Indonesia banyak melakukan naturalisasi pemain dari Belanda.
Dunia pendidikan harus mampu mengembangkan nasionalisme yang cerdas sesuai dengan zamannya. Para pendidik harus mampu menerjemahkan dalam pembelajaran. Berprestasi demi bangsa dan negara adalah bagian penting dari nasionalisme.
Semangat seperti itu sudah dicontohkan oleh para pemain naturalisasi, semoga mereka diterima sebagai bagian dari bangsa ini walaupun timnas kalah dan mereka melakukan blunder yang menjadi sebab kekalahan timnas. Jangan sampai pemain naturalisasi itu berkata “Saya jadi pahlawan Indonesia saat memenangkan pertandingan, namun aku hanya dipandang sampah naturalisasi saat kalah dalam sebuah pertandingan”.
Apapun hasilnya pertandingan timnas Indonesia, nasionalisme pemain naturalisasi bisa menjadi inspirasi bagi pendidikan nasionalisme bagi generasi muda kita. (*)
Editor : Muhammad Azlan Syah