Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Opini - Mengurai Krisis Tanggung Jawab di Era Gen Z

Yudha Satria Aditama • Minggu, 13 Oktober 2024 | 00:38 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

Di dunia pendidikan, khususnya dalam konteks pengumpulan tugas akademis, kita sering dihadapkan pada fenomena yang menggelitik kesadaran:

banyak siswa yang tampaknya menggam­pangkan tenggat waktu, seolah-olah waktu adalah sumber daya yang tak pernah habis.

Tugas yang telah diberikan berminggu-minggu sebelumnya, sering kali tidak dikerjakan dengan saksama hingga mendekati detik-detik akhir.

Photo
Photo
Bahkan, hingga melewati batas waktu yang telah ditetapkan. Lalu, ketika akhirnya tiba saat pengumpulan, berbagai alasan teknis seperti file yang terlalu besar, kesulitan me­ngung­gah, atau masalah konversi format pun menjadi alasan yang berulang.

Fenomena ini mengun­dang pertanyaan kritis: Apakah ini sekadar tren temporer dari dinamika siswa zaman sekarang, ataukah ini mencer­minkan krisis yang lebih mendasar dalam hal tanggung jawab, disiplin, dan manajemen diri di kalangan generasi muda?
Sering kali, generasi Z—kelompok remaja yang saat ini mengisi bangku sekolah dan universitas—dijuluki sebagai generasi yang paling malas, ge­nerasi yang digam­barkan dalam pembe­ritaan sebagai kurang disiplin dan tidak me­miliki dorongan untuk bekerja keras. Ada anggapan bahwa mereka hidup di zaman serba instan, di mana informasi dan kemudahan tekno­logi menjadi begitu melimpah, namun ironisnya, justru ke­terampilan mendasar seperti pengelolaan waktu dan tanggung jawab terhadap tugas semakin tergerus.

Namun, apakah benar generasi ini adalah ge­nerasi yang malas, ataukah ada sesuatu yang lebih kompleks di balik fenomena tersebut? Pada dasarnya, masalah ini bukanlah semata-ma­ta soal generasi, melain­kan soal pembiasaan dan kemampuan untuk memanajemen diri.

Tanggung jawab dan disiplin adalah kete­rampilan hidup yang harus konsisten diasah sejak dini. Ketika siswa terbiasa menunda-nunda pekerjaan, mereka sedang membangun pola pikir yang rentan ter­hadap penundaan di masa depan.

Mereka gagal melihat bahwa tugas akademis bukan hanya sekadar formalitas untuk mendapatkan nilai, melainkan latihan berharga dalam hal komitmen dan kete­ku­nan, yang akan mereka butuhkan di dunia kerja dan kehidupan dewasa.

Seorang mahasiswa atau pekerja yang terbiasa meng­gampangkan tenggat waktu dan memandang sepele masalah teknis akan kesulitan menavigasi tuntutan profesional yang jauh lebih ketat dan penuh konsekuensi nyata.

Sikap menggampangkan tenggat waktu ini se­ja­tinya adalah cerminan dari lemahnya kemam­puan manajemen diri.

Ketika siswa tidak mam­pu mengantisipasi tantangan teknis, itu menandakan bahwa mereka belum terbiasa merencanakan dan menyiapkan segala sesuatu dengan matang.

Terlalu bergantung pada solusi instan dan sering kali abai terhadap konsekuensi dari ketidakdisiplinan.

Dalam konteks ini, tang­gung jawab bukanlah sekadar klise, melainkan inti dari pembentukan karakter dan etos kerja. Ketika siswa melewati batas waktu tanpa alasan yang valid, mereka sedang menunjukkan bahwa mereka belum mampu mengin­ter­nali­sasi arti dari tanggung jawab itu sendiri.

Mereka gagal menyadari bahwa setiap tindakan, atau bahkan ketidaktindakan, membawa konsekuensi, tidak hanya dalam hal nilai, tetapi juga dalam bagaimana mereka dipersepsikan oleh orang lain—baik itu guru, teman, maupun di masa depan, oleh atasan di tempat kerja.

Apakah fenomena ini mencerminkan realitas generasi Z? Atau hanya sekadar fase yang bisa diatasi melalui pen­didikan yang lebih intensif tentang penting­nya disiplin dan tanggung jawab? Gen Z, meskipun sering kali dicap sebagai malas, sebenarnya memiliki potensi besar.

Mereka adalah generasi yang tumbuh di tengah deras­nya arus informasi dan teknologi, yang jika dia­rahkan dengan baik, dapat membangun kete­rampilan yang jauh lebih hebat dari generasi sebelumnya. Terpenting disiplin.

Disiplin, tanggung jawab, dan manajemen diri bukanlah kete­rampilan yang bisa dibangun dalam semalam. Ini adalah proses panjang yang harus diasah melalui latihan dan pembiasaan, seperti menyelesaikan tugas tepat waktu.

Walakhir, fenomena siswa yang menggam­pangkan tenggat waktu seharusnya menjadi alarm bagi kita semua, baik guru, orang tua, maupun siswa itu sen­diri—bahwa ada sesuatu yang perlu diperbaiki.

Ini bukan sekadar masalah teknis atau kebiasaan malas, tetapi lebih kepada persoalan mendalam tentang tanggung jawab, disiplin, dan manajemen diri.

Generasi Z memiliki potensi besar, tetapi mereka harus belajar bahwa waktu adalah sumber daya yang berharga, dan bagaimana mereka mengelola waktu akan menentukan kesuksesan mereka di masa depan. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#Era #Gen Z #krisi #malas #tanggung jawab #mengerjakan