Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Tuban: Abhirama-Abhipraya - Oleh: Cak Sariban*

radar tuban digital • Sabtu, 23 November 2024 | 07:15 WIB

Ilustrasi
Ilustrasi

Kata adalah doa. Nama-nama tempat adalah doa masyarakatnya. Masyarakat Tuban di tahun 2024 ini menikmati fasilitas umum baru dengan nama baru. Rest area eks terminal lama berubah wajah menjadi taman lampu Abhirama. Hutan kota Wire berubah wajah menjadi taman  Abhipraya. Mungkin juga alun-alun kota yang sekarang sedang dibangun kelak ada label nama ‘Abhi…” pula. Nama-nama tersebut berasal dari Bahasa Sansekerta. Abhi dari kata ab-hi yang berarti ‘pemberani’, ‘menuju yang lebih tinggi’.

Pemberi nama ikon Tuban itu tentu merindukan kejayaan Tuban di masa mendatang. Cirikhas orang Tuban memang pemberani sebagaimana tokoh Ranggalawe. Ada pikiran besar dari nama-nama itu Tuban akan dibawa menuju ke yang lebih baik secara terus-menerus. 

 

Abhirama

Penamaan dua tempat—Abhirama dan Abhipraya--yang menjadi jujukan berelaksasi warga Tuban ini memiliki obsesi kebesaran warga Tuban.Abhirama bermakna keselarasan, keberlanjutan, berkeseimbangan, atau sesuatu yang menyenangkan. Pemimpin yang membangun Abhirama mengirim pesan kepada rakyatnya bahwa Tuban tak boleh diam. Tuban harus terus bergerak dalam keberlanjutan berkehidupan yang terus baik. Tuban tak boleh sekadar tumbuh. Tuban harus pula menyelaraskan pertumbuhannya dalam keseimbangan.

Filosofi keselarasan  hidup inilah menjadi sentrum Abhirama. Gerak langkah pembangunan Tuban senantiasa dikendalikan oleh ‘keselarasan”. Pembangunan fisik jalan raya dan taman selaras dengan pembangunan jalan kejiwaan dan taman pikiran. Pembangunan jalan kejiwaan masyarakat Tuban mengambil bentuk pemerkuatan tradisi rohani warga Tuban yang religius dan spiritual. Pembangunan jalan pikiran masyarakat Tuban sejalan dengan budaya literasi dan pemerkuatan kota cerdas.

Jalan keselarasan itu selalu saja menempatkan pengetahuan sebagai pilar. Keselarasn kehidupan komunitas manusia dapat dicapai oleh pengetahuan. Pengetahuan adalah panduan tindakan keselarasan. Agaknya ada jalan lain menuju keselarasan. Jalan kedua adalah ‘penderitaan’. Kesadaran warga Tuban untuk menerima derita atau tirakatsangat perlu dalam menggapai keselarasan atau kebahagiaan hidup. Yang ketiga, cinta merupakan jalan yang mendorong setiap pribadi untuk hidup selaras. Dalam wilayah makrokosmos, semua keselarasan selalu dibangun oleh cinta. Dengan cinta semua akan bergerak menuju keseimbangan karena cinta meniadakan keberpihakan.

Abhirama sebagai simbol keselarasan hidup cinta di dada warga Tuban haruslah terus menjadi tradisi hidup keseharian kita. Kita orang Tuban dalam mewujudkan Tuban yang berani terus menuju puncak haruslah berlandaskan cinta. Penguasa mencintai terkuasa. Pemimpin menguasai terpimpin. Rakyat mencintai pejabat. Pun sebaliknya. Jika saja semua benci terusir dari wilayah kota kita, niscaya rahmat langit dan bumi dari Pencipta akan datang terus melimpah. Inilah esensi selaras: Abhirama.  

Dalam perspektif diksi ‘berkelanjutan’, Tuban terus bergerak dan membaca tanda zaman untuk mendapatkan peluang. Dengan rasa dan pikir selalu melihat ke depan terdapat peluang, lahirlah sebuah impian. Impian orang Tuban yang dinamis itulah esensi ‘abhipraya’.

 

Abhipraya

Abhipraya mengisyaratkan makna harapan, tujuan,atau keinginan. Harapan berarti optimistis. Dalam optimis, ada energi. Energi membawa kehadiran emosi. Emosi membentuk benih pikiran.Maka, pikiran orang Tuban selalu ada. Pikiranlah jalan pengetahuan. Pengetahuan bermuara tindak perubahan. Orang Tuban maka ditandai perubahan.

Abhipraya mendorong kita semua warga Tuban untuk terus mengayakan pikiran. Dulunya dulu orang Tuban sudah mejadi bagian pemikir negeri ini. Bisa kita sebut Sugondo Joyo Puspito, Basuki Rahmat, dan (maaf) Zam Kamaruzaman.Sugondolah pelopor Sumpah Pemuda. Basuki Rahmat sosok penting sejarah Supersemar. Jenderal Basuki Rahmat lahir di Senori Tuban. Zam tak lain adalah petinggi partai jaman dulu yang kemudian partai itu dinyatakan sebagai partai terlarang.

Jauh sebelum tahun enam puluhan, ada namabesar orang Tuban di Jakarta. Dia adalah K.H. Fathurrahman.  Menteri Agama di era pascakemerdekaan pada tahun 1946 era Kabinet Syahrir itu asli kelahiran ndesa Kelapa Telu Kecamatan  Merakurak. Beliau memeroleh gelar profesor setelah menempuh studi di Inggris dan Prancis. Kita dapat membayangkan zaman itu orang Tuban sudah melalang buana dalam bertarekat keilmuan hingga ke Eropa.

Akhir-akhir ini ada tokoh pemikir nasional ya juga wong Tuban. Namanya Tom Lembong yang juga tak lain berdarah tanah dan air Tuban. Slogan Abhiparaya mendorong ‘harapan’ anak-anak muda Tuban untuk terus akan menjadi pemikir Nusantara sebagaimana tokoh-tokoh Tuban di atas.

Konstelasi kepemimpinan nasional kini cenderung beralih takdir pada generasi muda. Bupati Tuban hari ini yang merupakan representasi pemimpin anak muda menjadi harapan orang Tuban. Jika saja sepuluh tahun ke depan bersama partainya, Mas Lindra berestafet menjadi pemimpin nasional, orang Tuban akan lebih merasa lega. Itu berarti doa abhipraya yang tertempel di simpang jalan masuk kota Tuban merupakan doa yang makbul. Ini bisa jadi bukan sekadar abhipraya. Ingat, abhipraya Tuban itu bersinggungkelindan dengan zikir Mbah Bonang dan Mbah Kalijaga. Keduanya kekasih Tuhan yang setiap nafas langkah hidupnya selalu selaras: Abhirama.Salam Abhiramapraya.Hahaha.

 

(Cak Sariban adalah warga Tuban. Bersama masyarakat ke-RT-annya kini berliterasi di rumah ibadah dan membangun jargon ‘Tertawa Tanda Warga Pramuka Bahagia’)

Editor : Yudha Satria Aditama
#Tuban #Abirama #terminal #tempat #abhipraya #hutan kota