RADARTUBAN – Dalam beberapa tahun terakhir, Gen Z kerap menjadi sasaran kritik di dunia kerja. Mereka dianggap sebagai generasi yang "pembangkang," "tidak bisa apa-apa," dan "kurang loyal."
Namun, benarkah permasalahannya ada di generasi ini? Atau justru lingkungan kerja yang toxic dan budaya atasan yang haus hormat menjadi akar masalahnya?
Atasan yang Ingin Dihormati, tapi Tak Mau Menghormati
Banyak atasan di lingkungan kerja masih memegang teguh pola pikir lama: senioritas harus dihormati tanpa syarat.
Mereka ingin dianggap sebagai figur yang berwibawa, tapi sering kali lupa bahwa rasa hormat tidak bisa dipaksakan, melainkan harus diperoleh dengan sikap yang layak dihormati.
Sering kali, atasan seperti ini:
Membentak dan Marah-Marah → Menganggap suara keras sebagai bentuk kepemimpinan, padahal justru menciptakan lingkungan kerja penuh ketakutan.
Tidak Mau Dikritik → Ketika bawahan, terutama Gen Z, memberikan masukan, mereka langsung dianggap tidak sopan atau kurang ajar.
Ekspektasi Tinggi Tanpa Dukungan → Menuntut hasil kerja maksimal tanpa memberikan bimbingan atau fasilitas yang memadai.
Sulit Menerima Perubahan → Masih ingin menerapkan budaya kerja lama yang tidak relevan dengan kondisi saat ini.
Akibatnya? Banyak karyawan muda yang merasa tidak dihargai dan memilih untuk resign, bukan karena tidak tahan kerja keras, tapi karena mereka tahu bahwa lingkungan seperti ini hanya akan menguras mental tanpa memberikan manfaat apa pun.
Gen Z Tidak Manja, Mereka Hanya Tidak Mau Dimanfaatkan
Sebagian besar Gen Z memahami konsep kerja keras, tapi mereka juga sadar bahwa kesehatan mental dan keseimbangan hidup lebih penting daripada bertahan dalam lingkungan yang tidak sehat.
Mereka tidak segan untuk meninggalkan pekerjaan yang toxic dan mencari tempat yang lebih menghargai mereka sebagai individu.
Sebaliknya, generasi yang lebih tua sering kali melihat ini sebagai bentuk "tidak tahan banting," padahal justru Gen Z yang memiliki keberanian untuk menolak budaya kerja yang merugikan.
Seperti kata @cha di media sosial:
"Gen Z butuh diayomi. Kadang kita ngerasa mental mereka mudah rapuh, tapi ternyata mereka butuh dibimbing, diayomi, diarahkan, dan didengar."
Jika perusahaan ingin mempertahankan talenta muda berbakat, mereka harus mulai mengubah pola pikir dan budaya kerja.
Atasan yang ingin dihormati harus terlebih dahulu menghormati timnya, bukan hanya menuntut loyalitas dan kepatuhan tanpa alasan yang jelas.
Karena di era sekarang, kepemimpinan bukan lagi soal siapa yang paling keras suaranya, tapi siapa yang bisa membimbing, mendukung, dan membangun lingkungan kerja yang sehat. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama