Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Tantangan Baru Pemimpin Tuban

Yudha Satria Aditama • Senin, 17 Maret 2025 | 00:00 WIB

Ilustrasi
Ilustrasi

Meski sedikit terlambat, melalui tulisan ini saya sampaikan selamat kepada Mas Lindra dan Pak Joko yang telah resmi dilantik sebagai sebagai Bupati dan Wakil Bupati Tuban periode 2025-2029. Dan melalui tulisan ini pula, izinkan saya menyampaikan tantangan pembangunan Tuban ke depan.

DI periode kedua ini, Mas Lindra masih dihadapkan pada persoalan Tuban yang belum selesai, ditambah target-target baru dari Presiden Prabowo Subianto.

Photo
Photo
Kemiskinan masih menjadi persoalan utama di Kota Legen ini. Dengan tingkat kemiskinan sebesar 14,36 persen pada 2024, Tuban belum beranjak dari urutan lima terbawah dengan tingkat kemiskinan terbesar di Jawa Timur.

Selain itu, kualitas sumber daya manusia juga masih menjadi hambatan pertumbuhan ekonomi.

Hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) 2024 mencatat 69,2 per­sen pekerja berpen­didikan SMP ke bawah dan sebagian besar bekerja sebagai pekerja informal (70,2 persen). Dengan begitu, sulit bagi mereka untuk menda­patkan penghasilan dan perlindungan ketenaga­kerjaan yang layak.

Kenaikan Upah Mi­nimum Kabupaten (UMK) tahun 2025 menjadi Rp 3,05 juta rupiah tidak terlalu berdampak pada kese­jahteraan pekerja secara umum, karena hanya sebagian kecil saja yang bekerja di sektor formal.

Sebanyak 40,41 persen pekerja Tuban bekerja di sektor pertanian dan menjadi andalan lum­bung pangan Jawa Timur, bahkan nasional.

Akan tetapi, petani Tuban masih didominasi oleh petani gurem dan usia tua. Sebanyak 59,8 persen petani hanya menguasai lahan kurang dari se­tengah hektar dan 44,3 persen petani Tuban berusia 55 tahun ke atas.

Kondisi tersebut ber­dampak pada belum stabilnya ekonomi Tuban pasca Pandemi Covid-19. Ekonomi Tuban sempat tumbuh 3,0 persen pada tahun 2021, kemudian meroket 8,88 persen
pada tahun 2022. Akan tetapi, kembali melambat men­jadi 4,36 persen
pada tahun 2023.

Tidak stabilnya per­tumbuhan ekonomi tersebut karena struktur ekonomi yang ditopang oleh industri pengolahan. Sebesar 30,69 persen kue ekonomi Tuban dikuasai oleh sektor industri, terutama indus­tri besar yang padat modal seperti semen dan migas. Produktivitas sektor ini sangat dipenga­ruhi oleh permintaan dan kondisi ekonomi global.

Sektor lain yang berpe­ngaruh pada ekonomi Tuban adalah sektor pertanian, dengan kon­tri­busi sebesar 18,5 persen dan sangat dipe­ngaruhi oleh kondisi alam.

Kondisi internal di Kabupaten Tuban menjadi tantangan tersendiri di tengah target pembangunan yang diberikan oleh peme­rintahan pusat.

Indonesia tengah berjuang untuk keluar dari jebakan negara berkembang menjadi negara maju pada tahun 2045. Untuk menuju ke sana, pertumbuhan ekonomi nasional ditarget sebesar 8 persen pada tahun 2029. Padahal, ekonomi Indo­nesia masih tumbuh pada angka 5,03 persen pada tahun 2024.

Kualitas sumber daya manusia juga digenjot supaya bisa bersaing di masa depan. Untuk itu, program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi prioritas utama. Dampaknya, dilakukan efisiensi besar-besaran untuk membiayai program tersebut.

Sasaran berikutnya adalah penurunan tingkat kemiskinan hingga di bawah satu persen pada tahun 2045.

Untuk menuju ke sana, telah dibangun Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) yang disahkan melalui Instruksi Pre­siden Nomor 4 Tahun 2025. DTSEN akan digu­nakan sebagai data tunggal penyaluran ban­tuan ­sosial dan pem­berdayaan masyarakat.

Arah pembangunan nasional yang terbagi menjadi transformasi sosial, transformasi ekonomi, dan trans­formasi tata kelola telah dituang­kan melalui Undang-undang Nomor 59 Tahun 2024 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) Tahun 2025-2045.

RPJPN dan berbagai program prioritas nasional tersebut bisa menjadi momentum berharga bagi Peme­rintah Kabupaten Tuban.

Misalnya, pada agenda transformasi ekonomi yang difokuskan pada hilirisasi sumber daya alam. Posisi Tuban yang sangat strategis sebagai lumbung pangan na­sional dapat berkontri­busi pada program in­dustrialisasi pertanian. Hasil bumi perlu diolah di wilayah Tuban sebe­lum dijual ke luar daerah. Dengan begitu, bisa menjadi nilai tambah bagi ekonomi pertanian dan meningkatkan kesejahteraan petani.

Contoh lain pada agenda transformasi sosial. Keter­libatan Tuban pada program MBG dapat mening­katkan nilai konsumsi masyarakat yang dengan sendirinya dapat menu­runkan angka kemiskinan.

Terkait implementasi DTSEN sebagai basis data penyaluran bantuan sosial, Tuban juga ber­potensi menjadi pelopor. Pe­merintah Kabupaten Tuban telah memiliki kesadaran penuh untuk memuta­khirkan data by name by address (BNBA) sebelum digunakan untuk pengen­tasan ke­mis-kinan.

Dengan begitu, pemu­takhiran DTSEN pun dapat dilakukan dengan mudah.

Kuncinya ada pada keterlibatan. Tuban harus terlibat dan ikut menjadi lokus pelaksanaan berbagai program nasional tersebut, menggunakan anggaran dan intervensi dari pusat.

Dengan begitu, Mas Lindra dan Pak Joko tidak perlu berjuang sendiri untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Semangat, kami pun ikut berjuang bersama.(*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#Tuban #bupati #tantangan #wakil bupati