Cerpen ini dibuat oleh: Yavid Rahmat Perwita (ASN Diskominfo Tuban)
"Ah... enak juga ya jadi manusia," ucap Blarok, setan magang semester akhir dari Akademi Rayap Iman. Ia selonjoran di atas dahan pohon mangga, mengamati suasana kampung Karangselo seminggu setelah Idulfitri 1446 H.
Langit sore cerah, aroma ketupat dan sisa opor masih samar di udara, tapi isi kepala Blarok mendung. Ia menghela napas panjang, menatap rumah-rumah yang dihiasi stiker lebaran, yang kini mulai pudar warnanya.
Ramadan baru saja usai. Rantainya lepas. Seharusnya ini momen emas—waktu di mana para setan kembali beroperasi, menggoda manusia dengan bisikan, ilusi, atau minimal menyarankan mereka buat baper karena status WhatsApp.
Tapi ternyata, begitu bebas dari karantina Ramadhan, Blarok justru dibikin linglung. Bukannya bersiap menggoda, ia malah merasa seperti turis yang tersesat di negeri yang bahasanya tak lagi ia kenal.
Manusia di Karangselo sudah berubah. Tapi bukan ke arah yang ia harapkan. Mereka berubah menjadi sesuatu yang bahkan para setan pun tidak siap menyambutnya. Mereka tak menunggu godaan.
Mereka memproduksi godaan. Bahkan lebih rapi, terstruktur, dan dengan kecepatan tinggi. Kalau dulu dosa datang dari hasil bujuk rayu dan kerja keras para jin, sekarang cukup lewat sentuhan jempol dan jaringan Wi-Fi.
"Ini kampung salah, ya? Kayak bukan wilayah target…" bisiknya pada jin lintas wilayah yang sedang lewat sambil bawa sekarung skrip sinetron.
Jin itu hanya menggeleng pelan, mukanya suram, lalu menghilang ke menara BTS tanpa sepatah kata.
Pada tugas pertamanya, Blarok iseng mampir ke rumah Pak Kaslan. Ia niatnya mau coba goda anak sulungnya, Udin, yang tak diberi uang THR. Strateginya klasik: bisikan iri, rasa ditelantarkan, sedikit provokasi tentang hak sebagai anak.
Tapi Blarok kaget bukan main. Udin lebih dulu ngamuk, banting kursi plastik, teriak, "Bapak pelit! Lebaran apa ini, gak ada arti!" sambil kabur dari rumah. Padahal Blarok belum sempat membuka buku mantra godaan level dasar.
"Baru juga buka halaman satu…" gumamnya lesu sembari mengelus tanduk kecilnya yang makin gatal.
Ia lalu pindah ke lapak Bu Sarti. Ada dua ibu muda sedang gosip sambil nyuapin anak. Blarok menyusun strategi halus: bisikkan rasa iri, bumbu-bumbu julid, dan pujian palsu. Tapi ia kalah cepat.
Salah satu dari ibu itu sudah lebih dulu menyindir via story Instagram, menyisipkan salah satu ayat suci sebagai penutup, seolah-olah Tuhan mendukung ghibahnya.
Caption-nya berbunyi, “Semoga kita dijauhkan dari hati yang kotor. Meskipun ada yang anak perempuannya yang pulang pagi.”
Blarok makin gemetar. "Mereka pakai ayat buat nyerang… kita duluan yang ngajarin itu ke jin-jin elite zaman Fir’aun… tapi sekarang versinya lebih update. Versi filter dan font arab miring. Pakai background langit jingga dan font 'Bismillah' di sudut atas."
Ia coba cari tempat netral: masjid. Semasa bulan suci, tempat itu penuh. Kini hanya tinggal Pak Tarno, lelaki tua dengan sajadah usang, duduk menatap saf kosong dengan mata sendu. Gema takbir sudah lama hilang, yang tersisa hanya bunyi kipas angin usang yang berdecit lirih.
"Mereka datang waktu ada bubur dan sirup. Setelah itu… ya begini," gumam Pak Tarno, seolah bicara ke langit yang mulai jingga, suaranya mengandung luka yang tak bisa disampaikan lewat doa.
Blarok duduk bersandar di tembok masjid. Punggungnya basah oleh rasa malu yang belum pernah diajarkan di akademi.
Ini bukan kampung yang susah digoda—ini kampung yang sudah terjun bebas tanpa perlu bisikan.
Mereka auto-pilot ke arah yang salah. Seolah-olah dosa telah menjadi kebiasaan yang diwariskan.
Blarok lalu berjalan ke sisi timur Karangselo, dekat sawah tempat para petani biasa ngopi setelah membajak.
Di sana, ia melihat kerumunan kecil di warung Pak Dirman, yang baru saja viral karena jual "solar ramuan spesial" buat traktor. Harga miring, katanya. Tapi sejak beli itu, traktor Pak Bejo batuk-batuk kayak habis nelen debu neraka.
Mesin panas, suara cempreng, dan tiap kali dinyalain, keluar asap hitam tebal macam khutbah hari kiamat.
"Ini mah bukan solar… ini mah teh pekat dicampur air comberan," gumam Blarok, menahan geli.
Tapi yang beli tetap banyak. Kata mereka, yang penting murah. "Lagian, traktor itu kerja di sawah, bukan ke surga!" celetuk pak Dirman sambil tertawa.
Blarok mendongak, melihat langit. Bagaimana bisa Pak Dirman mendengar celetuknya yang notabene berbeda alam? Ia tahu benar aroma kejahatan kecil yang dibungkus niat besar.
Dulu, setan harus bikin manusia curang pakai tipu-tipu. Sekarang, manusia sendiri yang nanya: “Kalau bisa nipu dikit tapi cuan, kenapa harus jujur total?”
Sementara itu, di pojok warung, ada juga botol-botol bekas minyak goreng yang katanya “baru ditapis, bening lagi.” Padahal baunya seperti… Blarok lupa istilah yang tepat untuk mendefinisikan baunya.
“Ini mah bukan warung…,” bisik Blarok sambil mencatat di buku magangnya: Karangselo, Desa Semi-Neraka. Produk lokal: moral oplosan.
"Woy," sapa suara berat yang mengagetkan Blarok. Suara tersebut milik Mbah Gendurwo, setan senior yang sudah pensiun dan kini jadi pengamat budaya manusia.
Ia membawa teko teh dari dunia gaib dan duduk di sebelah Blarok. Matanya sembap, barangkali terlalu banyak nonton drama Korea karena katanya lebih manusiawi dari manusia asli.
"Magangmu gimana, Nak?" tanyanya santai sambil menyeruput teh pekat dari gelas kaleng. Gelasnya bertuliskan “#TeamNeraka tapi logowo”.
"Gagal, Mbah… Manusia sekarang, belum aku goda aja sudah saling sikut, saling curiga, lupa kalau mereka baru minta maaf seminggu lalu," jawab Blarok sambil menatap lantai.
Jemarinya memainkan rantai kecil yang biasanya jadi alat bantu godaan.
Mbah Gendurwo tertawa. Suaranya serak seperti kipas angin rusak. "Itu tandanya kamu lulus."
"Lulus? Saya belum godain siapa-siapa,” ujar Blarok terheran-heran.
"Lulus jadi saksi. Bahwa manusia zaman sekarang tak lagi perlu setan untuk menjadi jahat. Mereka belajar sendiri, berkembang sendiri, bahkan lebih cepat dari kurikulum kita. Mereka kini bukan murid yang digoda, tapi guru dalam mencipta dosa."
Blarok menatap langit. Awan tipis menggantung. Angin sore membawa suara tawa dari warung kopi, di mana para lelaki sedang membicarakan siapa yang tidak hadir waktu kerja bakti.
Nada tawa mereka tidak hangat—lebih mirip nada mencemooh. Di atas kertas, mereka warga. Kenyataannya, mereka serigala.
"Dulu, kita harus kerja keras. Goda mereka supaya malas ibadah, pelit, suka suudzon. Sekarang? Lihat saja. Anak kecil udah tahu cara bikin prank orang tuanya pingsan. Orang dewasa? Tipis iman, tebal dompet, tipis empati, tebal ego. Media sosial jadi senjata, bukan jembatan."
Blarok terhenyak. Ia teringat pelajaran dari dosennya: Setan menggoda, manusia memilih.
Tapi sekarang, manusia bahkan tidak menunggu godaan. Mereka langsung terjun ke gelapnya pilihan buruk. Seolah-olah kebaikan adalah barang antik yang dipajang saja, bukan dipakai.
Di grup-grup keluarga, mereka saling sindir pakai kutipan ustaz. Di jalan raya, mereka saling klakson dan adu dengkul. Di dunia maya, mereka lebih percaya potongan video daripada kebenaran yang utuh.
Yang lebih parah, mereka tetap menyebut nama Tuhan, seolah atas nama-Nya mereka sah untuk menyakiti. Agama dijadikan kostum. Tuhan dijadikan pembelaan. Ujaran kebencian dibungkus dalil, dan permusuhan dibumbui doa.
"Kalau begitu, tugas kita apa, Mbah? Nganggur?" tanya Blarok lirih, suaranya hampir tertelan malam.
Mbah Gendurwo menatap jauh, seperti mengingat zaman-zaman emas godaan: zaman Daud, Sulaiman, era Babilonia, sampai kolonial.
"Tugasmu sekarang, catat. Jadi saksi. Pengingat. Karena bisa jadi, suatu hari nanti, akan lahir manusia yang kembali butuh setan—bukan untuk digoda, tapi untuk diingatkan batasnya. Kita bukan cuma penggoda, kita cermin. Kalau mereka nggak takut lagi lihat pantulan dosa di cermin, ya selesai."
Blarok terdiam lama. Ia berjalan menyusuri gang-gang kecil Karangselo malam itu. Melewati rumah-rumah dengan stiker "Selamat Idulfitri" yang sudah mulai robek. Melewati keluarga yang sedang bertengkar karena masalah warisan.
Melewati anak muda yang sibuk debat politik sambil maki-maki ustaz di TikTok. Satu orang menyebut lawan debatnya "kadrun", satunya lagi membalas dengan sebutan "cebong laknat". Tidak ada ruang untuk tenang.
Semua penuh amarah, dibungkus retorika agama. Seolah debat adalah ibadah, dan diam adalah kekalahan.
Dia bahkan melihat anak-anak kecil bermain sambil meniru adegan kekerasan dari video viral.
Di ujung lain, remaja membuat konten prank menghina ibunya sendiri demi views. Blarok mulai menyadari: manusia telah menemukan cara untuk menertawakan dosa dan menyulapnya menjadi hiburan, dan mengkambinghitamkan para setan atas dosa-dosa yang justru lahir dari kreativitas manusia itu sendiri.
Blarok lelah, tak lama kemudian ia melihat seorang bocah. Duduk di musala kecil, membaca iqra dengan suara pelan.
Tak ada yang menyuruh. Tak ada kamera. Hanya dia dan selembar kitab. Suaranya terbata, tapi wajahnya tenang.
Tangannya kecil, namun lembut memegang pena. Di belakang bocah itu, ibu dan ayahnya duduk diam, tersenyum.
Bukan karena ingin pamer, tapi karena bersyukur. Seolah-olah mereka sedang menyiram benih keimanan yang rapuh tapi nyata. Cahaya dari lampu kecil musala membentuk siluet kehangatan yang tak bisa dibeli dari dunia digital.
Air mata Blarok hampir menetes. Ia takut sekali. Takut manusia lupa caranya menjadi manusia. Tapi bocah itu mengingatkannya: selalu ada satu cahaya di tengah kegelapan.
Selalu ada satu manusia yang membuat neraka merasa bersalah. Dan mungkin, karena satu manusia itu, dunia belum diluluhlantakkan.
Esok harinya, Blarok menyelesaikan laporan magangnya.
Laporan: Tugas selesai. Manusia sudah tahu cara menjadi setan. Bahkan lebih kreatif dari kami. Tapi masih ada satu dua manusia yang membuat kami berharap… mungkin, suatu hari, kami tak lagi dibutuhkan.
Di lubuk hatinya, Blarok memanjatkan harap kepada Tuhan, semoga manusia segera dituntun kembali ke jalan kebaikan.
Bukan semata demi keselamatan mereka, tapi juga agar tugasnya sebagai penggoda tak terasa sia-sia. Ia tak ingin terus-menerus duduk diam, menyaksikan manusia tergelincir tanpa perlu campur tangan.
Ia rindu bekerja, bukan sekadar menerima gaji dari dosa yang tak lagi butuh setan untuk terjadi.
"Ah... enak juga ya jadi manusia," gumam Blarok. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama