Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Kasus Keracunan MBG dan Kesalahan dalam Berlogika

Ahmad Atho’illah • Senin, 19 Mei 2025 | 00:19 WIB
Ilustrasi Korban Keracunan MBG Bisa Ditanggung Asuransi
Ilustrasi Korban Keracunan MBG Bisa Ditanggung Asuransi

RADARTUBAN- Semakin ke sini, sepertinya semakin banyak kebijakan dan ucapan pejabat pemerintah yang rasa-rasanya tidak masuk akal.

Lalu, kita sebagai rakyat dipaksa untuk merenung: Apakah ini karena kita yang tidak paham cara komunikasi para pejabat era kiwari atau pejabatnya yang terlalu …?

Setelah Kepala Komunikasi Kepresidenan, Hasan Nasbi yang keselip lidahnya saat mengomentari teror kepala babi yang dikirim ke kantor redaksi Tempo dengan kata-kata sinisme: “Sudah dimasak saja”, lalu Presiden Prabowo yang menyebut bahwa siswa yang keracunan program makan bergizi gratis (MBG) hanya 0,005 persen dibanding yang tidak keracunan.

Kini, giliran Badan Gizi Nasional (BGN) berencana memberikan asuransi kepada siswa penerima manfaat program MBG.

Perihal kasus Hasan Nasbi yang nirempati sudah penulis bahas di kolom sebelumnya.

Karena itu, tidak perlu dibahas ulang dalam kolom ini. Cukup persoalan MBG yang rasanya semakin rumit. Dan kita mulai dari definisi MBG.

Sudah jamak di telinga masyarakat, MBG adalah akronim dari kata: makan siang bergizi gratis.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), makan adalah memasukkan makanan pokok ke dalam mulut serta mengunyah dan menelannya, atau memasukkan sesuatu ke dalam mulut, kemudian mengunyah dan menelannya. 

Artinya, makan bisa berupa memasukkan makanan pokok atau benda lain ke dalam mulut, lalu mengunyah dan menelannya. 

Bedanya dengan minum, hanya ditelan. Tidak perlu dikunyah.

Sementara kata bergizi, menurut KBBI memiliki arti mengandung zat makanan pokok yang diperlukan bagi pertumbuhan dan kesehatan badan. 

Lalu, kata ketiga dari MBG adalah gratis. Menurut KBBI, gratis berarti cuma-cuma, tidak dipungut bayaran, atau sesuatu yang diberikan tanpa biaya atau ongkos apa pun.

Jika digabung, makan bergizi gratis memiliki arti: makan makanan yang mengandung gizi atau zat-zat yang diperlukan untuk pertumbuhan dan kesehatan tubuh tanpa harus membayar.

Tidak beracun dan tidak perlu mengeluarkan uang. Insyaallah dapat dimengerti dan dipahami.

Lalu, tiba-tiba ada seorang presiden mengatakan: “Dari 3 koma sekian juta, kalau tidak salah di bawah 200 orang (yang keracunan, Red),’’ ujarnya.

Dengan jumlah itu, beliau mengatakan bahwa tingkat keberhasilan makan bergizi mencapai 99,99 persen.

Sementara, tingkat kasus keracunan hanya 0,005 persen. “200 dari 3 koma sekian juta kalau tidak salah adalah 0,005 persen. Berarti keberhasilannya adalah 99,99 persen,” katanya.

Dalam konteks cara berpikir, hal demikian ini dinamakan logical fallacy. Sedangkan pernyataan yang disampaikan Pak Presiden dan sekaligus BGN adalah fallacy of converse accident.

Yakni, kesalahan berpikir akibat membuat generalisasi yang gegabah. Lawan dari fallacy of converse accident adalah fallacy of accident.

Sederhananya demikian: MBG merupakan program makan bergizi gratis yang diberikan kepada siswa.

Karena program ini adalah makan yang bergizi dan gratis, maka generalisasinya adalah makan makanan yang bergizi dan gratis.

Artinya, semua makanan yang diberikan harus bergizi dan gratis. Jika ada makanan yang tidak bergizi, atau bahkan beracun, sekalipun hanya satu korban dari sekian juta penerima manfaat, dan harus membayar, maka generalisasi MBG sudah batal: tidak lagi makan bergizi gratis dan gratis.

Lawan dari kesalahan berpikir dengan istilah fallacy of converse accident ini adalah fallacy of accident.

Yakni, generalisasi tapi di balik generalisasi itu masih ada pengecualian dengan alasan-alasan yang dapat dibenarkan.

Contoh: semua kendaraan yang melanggar lalu lintas harus dikenakan sanksi.

Tapi bagaimana jika yang melanggar adalah ambulans atau mobil pemadam kebakaran?

Meskipun dalam pernyataan sebelumnya bersifat generalisasi, tapi masih ada pengecualian dengan alasan-alasan yang dapat dibenarkan.

Pertanyaannya sekarang, apakah ratusan siswa yang keracunan program makan bergizi gratis itu memenuhi syarat pengecualian dan alasan-alasan yang dapat dibenarkan.

Konklusinya, jika ratusan anak yang keracunan program MBG itu hanya dianggap angka nol koma nol nol nol sekian persen dari jutaan siswa penerima program MBG yang tidak keracunan, maka siswa yang keracunan dianggap memenuhi syarat pengecualian dan alasan-alasan yang dapat dibenarkan.

Dari sini, kita dapat memahami ada kesalahan berpikir yang disampaikan. Dan itu karena kesalahan berpikir akibat membuat generalisasi yang gegabah.

Pun demikian dengan rencana BGN yang akan memberikan asuransi kesehatan kepada penerima manfaat program MBG.

Ini malah cara berpikir yang jauh di luar nurul (baca: nalar) dan semakin mengamini adanya pengecualian dan alasan-alasan yang dapat dibenarkan: bahwa meski generalisasinya adalah makan bergizi, tapi jika ada yang keracunan dapat dibenarkan, seperti halnya mobil ambulans dan pemadam kebakaran yang boleh melanggar lalu lintas.

Mikir…!!! (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#Kritikan #tidak logis #keracunan makanan #Makan Bergizi Gratis #Mbg #kebijakan