RADARTUBAN-Sejujurnya, saya mulai agak resah dengan pemikiran soal penanaman pohon.
Kakak saya pernah cerita, ketika magang di suatu perkebunan, mereka sambat dengan sikap banyak orang yang minta bibit pohon.
Sebenarnya tidak masalah minta bibit, memang sudah ada jatahnya, tapi masalahnya adalah mereka hanya mau menanam pohon tanpa mau merawat
Hasilnya? Ya tetap gundul aja itu hutan.
Di pesisir laut juga demikian, banyak nanam bakau, tapi ya itu, hanya sekadar nanam, tanpa perawatan, beberapa bulan sudah lenyap, tanpa ada perubahan apa-apa.
Harus diakui, Kita memang lebih bangga menancapkan bibit pohon ke tanah. Jepret, upload, hashtag #GoGreen, dan… selesai.
Lalu, kita melangkah pergi, berharap bibit itu tumbuh menjadi pohon rimbun sambil kita dapat pujian netizen.
Padahal, menanam saja belum cukup. Dan, hampir tak ada yang mau curhat soal itu.
Bayangkan: pagi-pagi ada kiriman foto bibit baru di Instagram. Viral, dapat dukungan.
Seminggu kemudian? Bibit itu kering, daunnya menguning, akarnya keluar dari polybag.
Iya, kita sibuk stalking hasil unggahan sendiri—tapi lupa mengecek keringnya bibit itu di lapangan.
Media gemar menyorot penanaman massal, tapi jarang bicara soal perawatan sesudahnya.
Data menunjukkan sekitar 70% bibit yang kita tanam mati dalam setahun pertama. “Keberhasilan reboisasi terletak pada perawatan, bukan sekadar penanaman.” Lalu kenapa kita merasa cukup dengan cuma menancapkan tongkat bambu di tanah?
Pohon yang sehat mampu menyerap karbon dua kali lipat dibanding bibit baru yang tak terurus.
Si pohon dewasa memfilter udara, menahan erosi, dan menyediakan habitat satwa—tugas yang tak tergantikan.
Merawatnya meliputi penyiraman rutin, pendangiran (mengurangi saingan gulma), dan pemangkasan cabang mati.
Ketika kita memoles narasi “tanam sejuta pohon” lalu menutupnya dengan selfie, coba tanya: berapa banyak dari sejuta itu yang akan benar-benar bertahan lima tahun?
Merawat berarti memberi hidup: bukan sekadar memberi makan sekali, lalu mengharapkan pohon hidup selamanya.
Saya memang bukan penggerak lingkungan, tapi saya mulai gerah saja dengan aktivitas ini.
Sebab, ada banyak publik figur yang juga menerapkan pola pikir ini dalam program kerjanya. Maksud saya, ngapain kalau cuma menanam tanpa merawat?
Hasilnya apa? Yang tumbuh bukan pohon, melainkan engagement dan angka-angka di sosial media.
Aktivitas tanam-menanam hanya jadi konten—tanpa tindak lanjut, tanpa pemeliharaan, tanpa keberlanjutan. Bahkan ketika pohonnya sudah mati atau tercabut, tak ada yang peduli.
Yang penting sudah difoto, sudah diunggah, sudah dapat like dan pujian. Seolah-olah keberpihakan terhadap alam bisa diselesaikan dengan sekali datang, pegang cangkul, senyum ke kamera, lalu pulang. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni