Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Surat Terbuka untuk Pak Mu’ti dan Mas Gibran sebelum Memasukan AI-Coding dalam Kurikulum

Ahmad Atho’illah • Senin, 7 Juli 2025 | 00:37 WIB
Ahmad Atho
Ahmad Atho

Dear, Pak Mu’ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah dan Mas Gibran Rakabuming Raka yang ngebet ingin memasukan akal imitasi (AI) dan coding menjadi bagian kurikulum sekolah yang dimulai tahun ini.

Pertama-tama, mohon maaf telah lancang berkirim surat terbuka untuk panjenengan berdua, meskipun toh surat terbuka ini tidak mungkin anda baca.

Apalagi Mas Gibran, yang sedari awal sudah mengatakan tidak begitu suka membaca. Karena itu, surat ini saya kirim secara terbuka, sehingga, setidaknya, ada yang masih berkenan membaca.

Jadi begini Pak, Mas. Memasukan AI dan coding menjadi bagian dari kurikulum pendidikan memang tidak ada salah.

Sebab, saya pun meyakini bahwa tujuannya baik—mungkin, agar anak-anak Indonesia bisa seperti Mas Gibran yang tidak suka membaca tapi suka main game tidak gagap terhadap perkembangan teknologi.

Namun, sebelum memasukan AI dan coding menjadi mata pelajaran pilihan—yang rencananya dimulai kelas 5 SD hingga SMA, paham mboten jenengan ihwal tantangan pendidikan hari ini—yang menjadi keresahan para orang tua akibat lemahnya sistem pendidikan dalam memfilter hegemoni algoritma media sosial.

Atau mungkin Pak Mu’ti sampun paham, tapi mau bagaimana lagi—yang ngebet memasukan AI dan coding ke dalam kurikulum pendidikan adalah Mas Gibran. Menteri hanya bisa manut pada atasan.

Pak Mu’ti, jenengan adalah benteng terakhir dalam menjaga dan memurnikan pendidikan bangsa ini.

Oleh sebab itu, kami minta tolong dengan sangat: pahami dulu tantangan pendidikan bangsa ini—sebelum grusa-grusu membikin kebijakan baru.

Setelah jalur domisili dalam sistem penerimaan peserta murid baru (SPMB) hanya kamuflase—yang tujuan awalnya mengganti kebijakan menteri lama.

Jangan ada lagi kebijakan-kebijakan yang hanya didasari karena populis.

Hanya gegara semua membicarakan AI dan coding, lalu dijadikan kurikulum. Standar sekali level bangsa ini dalam membikin kebijakan.

Apa bedanya dengan konten-konten viral yang unfaedah.

Tidak bermaksud menggurui, tapi inilah faktanya, Pak Mu’ti. Kiwari ini, pendidikan menghadapi tantangan yang sangat berat dan cepat berubah. Dan semoga jenengan juga merasakan.

Sekarang ini—di tengah perkembangan teknologi yang terlampau cepat, peran seorang guru tidak sekadar mendidik, membimbing, dan mentransfer pengetahuan.

Lebih berat dari itu, adalah menyiapkan generasi yang tetap fokus, kritis, dan berkarakter di tengah budaya scroll. Dan sayangnya, belum semua guru memahami tugas berat ini.

Malahan, sebagian besar juga harus diselamatkan lantaran turut terseret arus brain rot akibat konsumsi konten digital yang berlebihan.

Pak… di kota kecil kami, Kabupaten Tuban, anak-anak yang lahir dan tumbuh di era digital sudah sulit sekali dijauhkan dari layar.

Mereka sudah terbiasa menonton membaca narasi pendek, video singkat, dan konten-konten instan unfaedah.

Menurut saya, Pak, di tengah pola konsumsi digital yang serba cepat ini, tantangan pendidikan hari ini, adalah bagaimana seorang guru mampu menumbuhkan kembali sikap skeptis dan daya pikir kritis anak. Sebab, itulah yang sekarang hilang.

Bapak tahu kan, istilah brain rot. Pasti tahulah, Pak. Hampir sebagian besar anak-anak hingga remaja sudah mengalami penurunan fungsi kognitif akibat terlalu sering scroll media sosial. Mereka tidak lagi mampu berpikir kritis.

Jangankan berpikir kritis, diajak ngomong saja kadang tidak nyambung. Lalu, tiba-tiba Bapak akan memasukan AI dan coding dalam mata pelajaran.

Pak... syarat untuk mengoperasikan AI dan coding adalah perangkat digital. Dan hampir pasti, tidak akan bisa dilepaskan dari HP.

Padahal, jika Bapak ingin menyelamatkan anak-anak dari fenomena brain rot, maka jangan biarkan usia anak-anak menguasai HP secara pribadi.

Sebab, saya yakin seratus persen, fungsi HP yang dipegang anak-anak bukan untuk edukasi, tapi 99 persen untuk scrol media sosial dan main game.

Jika tidak percaya, coba sekali-kali Bapak macak (baca: menyamar) orang biasa, lalu ngopi di tempat tongkrongan anak-anak. Jika ada yang membuka HP untuk edukasi, saya berani bertaruh membelikan kopi untuk Bapak.

Tapi jika Bapak mendengar pisuhan anak-anak, seperti jancuk, misalnya, dan kata-kata kasar lainnya, maka Bapak harus membelikan minimal sepuluh buku novel untuk anak saya (soalnya sudah dua minggu ini saya belum bisa membelikan buku lagi).

Pak, tahu kan tentang studi Microsoft  pada 2015 yang menyebutkan bahwa di era digital ini perhatian atau daya fokus manusia hanya terisa rata-rata 8 detik.

Bahkan lebih pendek dari daya fokus ikan mas yang masih 9 detik. Studi tersebut berlangsung di Kanada, dan sudah sepuluh tahun yang lalu—saat media sosial belum sepesat sekarang.

Lalu, sekarang Bapak bayangkan, jika di Kanada pada sedekade lalu saja sudah seperti itu, bagaimana dengan Indonesia sekarang.

Bisa membayangkan, Bapak. Bagaimana? Apakah secerah masa depan Mas Gibran yang tidak suka membaca, tapi menjadi wapres.

Jika boleh memberikan pernyataan, pendidikan bukan sekadar mahir teknologi, melainkan bagaimana seorang guru mampu mengarahkan, membimbing, dan menjadi role model dalam memanfaatkan media sosial dengan sangat baik dan bijak untuk anak-anak.

Bukan malah diajak joget-joget seperti siapa itu, yang viral itu, Pak, yang kontennya porno, tapi masih dilindungi oleh organisasi keguruan dan malah diangkat menjadi PPPK guru.

Oh iya, kapan ndak salah namanya Bu Guru Salsa.

Pak, guru hari ini harus mampu memahami digital citizenship—memiliki kemampuan dan prilaku bertanggung jawab dalam menggunakan teknologi digital, termasuk internet dan media sosial.

Ibaratnya, guru harus menjadi teladan berenang di lautan digital yang sudah teramat keruh ini, bukan malah terjerembab dalam fenomena brain rot.

Bayangkan, Pak, jika seorang guru sudah mengalami pembusukan otak lantaran terlalu sering scroll media sosial, bagaimana mereka mendidik anak-anak kita.

Sulit bagi saya membayangkan, Pak. Bukannya mengajari anak berenang di antara keruhnya konten-konten media sosial agar tetap selamat, tapi malah mengajak hanyut bersama tanpa pelampung.

Pak, akibat keseringan scroll Facebook, Youtube, Instagram, TikTok, dan X. Kini anak-anak muda tidak lagi memiliki kemampuan berpikir kritis dan mendalam. Cara berpikirnya sangat dangkal. Tidak lagi mampu berimajinasi.

Dan ini sudah saya buktikan berkali-kali. Dari kurang lebih seratus anak SMP dan SMA yang pernah saya tanya, pernah membaca buku apa di luar mata pelajaran? Hanya satu yang mengaku membaca novel.

Lalu, berapa jam dalam sehari main HP—scroll media sosial? Rata-rata menjawab 5-6 jam.

Ada yang sampai 8-9 jam. Seberapa kuat membaca buku? Jawabannya sangat mencengangkan, rata-rata tidak lebih dari 10 menit, bahkan 3 menit saja sudah tidak betah.

Saya meyakini betul, Bapak tahu bahwa kemampuan bernalar tidak bisa dilepaskan dari membaca secara utuh.

Dan sialnya, itulah yang sekarang mulai hilang. Bukan hanya dari anak-anak, tapi juga guru itu sendiri.

Pak... terpenting hari ini adalah membentengi anak-anak dari ancaman brain rot dan membenahi mindset pendidik di era digital.

Saya khawatir, Bu Guru Salsa hanya fenomena gunung es.

Demikian, Pak, surat terbuka dari kami yang tidak pernah melihat hiruk-pikuk Kota Jakarta. Mohon maaf lancang mengganggu waktu jenengan.

Salam untuk Mas Gibran, ada banyak rekomendasi buku bacaan dari berdikaribook yang cocok untuk Mas Gibran untuk menumbuhkan minat baca. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#AI #Brain Rot #coding #digital #media sosial #kurikulum #gibran