RADARTUBAN - Setelah pekan lalu menulis surat terbuka untuk Pak Abdul Mu’ti, Menteri Pendidikan Dasar-Menangah (Mendikdasmen) dan Mas Gibran.
Kali ini, izinkan saya menulis surat terbuka untuk bapak/ibu guru para pendidik calon generasi emas (semoga tidak (c)emas, yang sebentar lagi disibukkan dengan kegiatan masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS).
Assalamulaikum, sugeng enjing, siang, sonten, lan dalu (tergantung bapak/ibu membaca surat terbuka ini).
Sebelumnya, mohon maaf mengganggu waktu bapak/ibu yang sedang santai bersama keluarga—menikmati akhir pekan di hari-hari terakhir libur panjang sekolah. Sebab, Senin (14/7) besok sudah memasuki tahun ajaran baru 2025-2026.
Tentu sangat menyenangkan kembali menjalani rutinitas di sekolah—sebagai pendidik. Sebab, jangan sampai laku mendidik menjadi beban bagi bapak/ibu guru.
Tapi jika itu yang bapak/ibu rasakan, maka lebih baik resign dan mencari pekerjaan yang lebih menyenangkan.
Alasannya sederhana, pekerjaan yang hanya menjadi beban tidak akan membawa kebaikan.
Apalagi sebagai seorang pendidikan, dampaknya kepada anak-anak. Dan itu sangat berbahaya.
Tapi saya meyakini, seluruh guru di kota kecil ini adalah pendidik yang baik.
Pendidik yang memiliki personal calling—bahwa menjadi guru adalah panggilan atas keyakinan yang mendalam—untuk menjalani tujuan hidup dan makna yang lebih besar—bahwa menjadi seorang pendidik adalah takdir yang telah digariskan Tuhan. Tidak sekadar rutinitas.
MPLS Adalah Kesan Pertama
Bapak, Ibu… tahapan sistem penerimaan murid baru (SPMB) telah usai. Kini saatnya membuka lembaran tahun ajaran baru.
Senin (14/7) besok, hari pertama MPLS dimulai, dari jenjang pendidikan usia dini, pendidikan dasar hingga menengah. Ini adalah momentum yang tepat untuk memberikan doktrin karakter untuk anak didik.
Ibarat buku, tahun ajaran baru adalah halaman kosong yang siap diisi. Khususnya pada pendidikan usia dini dan menginjak pendidikan dasar.
Sedangkan bagi anak-anak di jenjang SMP dan SMA, MPLS adalah momen first impression. Kesan pertama saat bertemu dengan seseorang atau situasi yang baru dari jenjang pendidikan sebelumnya.
Awal perjumpaan dengan teman baru, guru, dan suasana sekolah yang baru. Kesan pertama adalah momen yang akan selalu diingat oleh seseorang.
Momen ini cenderung membekas dan sulit untuk dilupakan.
Dan di kesan pertama inilah otak manusia cenderung memproses informasi baru dengan cepat, dan membuat penilaian awal yang kuat, terutama dalam situasi sosial.
Alhasil, jika kita mampu memahami MPLS secara mendalam, lembar awal tahun ajaran baru ini merupakan momen yang sangat krusial.
Sebab, penilaian anak terhadap sekolah tergantung kesan pertama yang dilihat, dirasakan, dan didengar. Jika kesan pertama yang dialami sangat menarik, menyenangkan, dan menginspirasi.
Maka pengalaman itulah yang akan dibawa sampai nanti. Tapi jika yang dirasakan adalah sebaliknya: membosankan, maka generalisasi negatif itu akan terus dikenang sebagai kesan yang buruk.
Dan bahayanya, kesan itu tak akan lekang.
Sebab alasan-alasan itulah, penting sekali menyiapkan kegiatan MPLS dengan sangat matang. Tidak sekadar formalitas dan rutinitas tahunan.
Keadaban Digital: Materi MPLS yang Lebih dari Sekadar Frasa
Ketentuan MPLS Ramah yang tertuang dalam Surat Edaran Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 10 Tahun 2025, adalah batasan yang sudah tepat.
Ramah memiliki arti nirkekerasan.
Tidak ada lagi kegiatan pengenalan sekolah yang unfaedah dan niredukasi. Apalagi melakukan bullying.
Selama lima hari MPLS, anak-anak diajak menikmati semua kegiatan dengan ceria, gembira, dan bahagia. Menjadikan sekolah sebagai lingkungan yang sangat menyenangkan.
Dalam SE Mendikdasmen tersebut, ada beberapa materi penting yang wajib disampaikan sekolah kepada anak-anak saat mengikuti MPLS sesuai jenjangnya.
Di antara materi itu: tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat (disiplin bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat, belajar, bersosialisasi, dan tidur teratur); pagi ceria (kegiatan-kegiatan yang menyenangkan dan membangkitkan semangat di pagi hari.
Tajuk pagi ceria ini menuntut kreativitas sekolah dalam menyajikan kegiatan yang tidak membosankan); delapan dimensi profil lulusan (dua di antaranya mencakup aspek kepribadian dan keterampilan); pencegahan judi online (memberikan pemahaman tentang dampak buruk judi online dan cara menghindarinya); dan bahaya narkoba (membahas dampak negatif narkoba terhadap kesehatan dan kehidupan sosial.
Serta pentingnya menjauhi narkoba); keadaban digital (menekankan pada penggunaan internet dan teknologi digital yang bertanggung jawab dan etis); serta budaya hidup bersih dan sehat (mengajarkan pentingnya menjaga kebersihan diri dan lingkungan serta perilaku hidup sehat).
Tanpa menafikan materi yang lain, dari sekian materi MPLS tersebut, satu hal yang teramat penting dipahamkan kepada anak didik, termasuk juga kepada bapak/ibu guru, adalah keadaban dalam berdigital.
Saya yakin, bapak dan ibu guru pernah mendengar istilah brain rot. Sebuah frasa yang memiliki arti cukup mengerikan: pembusukan otak.
Frasa ini sebanarnya bukan hal baru. Namun, kini menjadi berbincangan lantaran dampak media sosial yang sangat mencemaskan. Khususnya terhadap generasi Z dan Alpha.
Konsumsi konten digital yang serba cepat dan dangkal kian memengaruhi cara berpikir manusia.
Anak, bahkan orang dewasa sekalipun, jika mengalami adiksi terhadap media sosial maupun game, mereka akan mengalami penurunan daya konsentrasi, kemampuan analisis, dan ketahanan berpikir.
Dampak seriusnya, mereka akan kesulitan mengekspresikan emosi, kehilangan fokus, mudah terdistraksi, dan sulit mengambil keputusan.
Newport Institute, pusat perawatan kesehatan mental di AS, dalam situsnya, 10 Januari 2024, menyebut pembusukan otak sebagai kelesuan kondisi mental yang mengurangi rentang perhatian dan penurunan fungsi kognitif akibat penggunaan gawai secara berlebihan.
Terutama ketika sudah mengalami kencanduan terhadap media sosial dengan konten-konten sampah, dangkal, dan niredukasi.
Kenapa saya menempatkan keadaban digital menjadi materi yang sangat penting. Sebab, kegagalan manusia dalam memanfaatkan digital pada hal-hal positif akan membawa dampak yang sangat besar dan berkelanjutan.
Bapak, ibu… kenapa hari ini sulit sekali mencari anak yang kritis.
Dari seratus anak, mungkin hanya satu-dua saja yang kritis—yang berani menyampaikan pendapatannya dan berani bertanya kepada bapak/ibu saat di dalam kelas.
Semua itu tidak lepas dari daya rusak media sosial yang membuat otak anak-anak semakin beku.
Sudah banyak penelitian yang dilakukan para ahli, perhatian manusia yang berlebih terhadap konten-konten yang singkat dan dangkal, menjadikan daya rentang perhatian manusia semakin memendek. Sehingga sulit sekali berpikir kritis. Cara berpikirnya menjadi sangat dangkal.
Bapak, ibu… anak-anak yang mengalami kecanduan scroll media sosial dengan konten-konten yang dangkal, tidak akan lagi bisa berpikir secara otentik. Tidak memiliki prinsip, karakter, apalagi resiliensi.
Akhirnya menjadi generasi lemah. Hidup hanya dalam kerumuman. Tidak memiliki visi, keinginan, makna, dan tujuan yang jelas. Hidupnya hanya mengalir seperti aktivitas scroll.
Model hidupnya dari viral ke viral. Sama sekali tidak memiliki pendirian dan orientasi yang jelas.
Apabila itu yang terjadi, anak-anak terjebak dalam fenomena brain brot, maka hampir dapat dipastikan berdampak pada aktivitas yang lain. Materi MPLS tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat, pagi ceria, hingga budaya hidup bersih dan sehat menjadi tidak berarti.
Logika sederhananya, bagaimana mengharapkan disiplin belajar dan tidur, serta memiliki jiwa sehat dari anak-anak yang fungsi kognitifnya sudah berkurang akibat penggunaan gawai yang berlebihan.
Karena itu, penting melalui surat terbuka ini saya sampaikan, yuk… bapak/ibu… kita sebagai orang tua harus memberikan teladan yang baik untuk anak-anak. Pahamkan bahaya brain rot dengan penjelasan yang sederhana, sehingga bisa diterima dan menjadi kesan yang baik untuk anak-anak.
Atau, buatlah aturan tegas yang dimulai pada tahun ajaran baru ini.
Misalnya, melarang anak-anak membawa HP ke sekolah dan membiasakan membaca 15 menit sebelum pelajaran dimulai.
Sebab, hanya dengan membaca dari lembar pertama hingga lembar terakhir, anak menjadi paham—bahwa hidup ini tidak seinstan konten-konten dangkal di media sosial. Hidup ini butuh proses.
Butuh perjuangan yang tidak sebentar. Hidup ini butuh keterampilan. Dan itu hanya bisa dibentuk dari nalar yang kritis.
Yuk bisa yuk… kurangi main HP dan budayakan membaca 15 menit sebelum pelajaran dimulai. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama