Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Saya Sepakat, Yang Lebih Layak Mendapat Gaji dan Tunjangan Besar Adalah Guru, No Debat

M. Afiqul Adib • Sabtu, 30 Agustus 2025 | 13:10 WIB
Guru perlu diberikan upah layak.
Guru perlu diberikan upah layak.

RADARTUBAN - Baru saja saya menonton video Pak Gita Wirjawan di kanal JalinTalks Special Live.

Dalam dialog tersebut, beliau menekankan satu hal penting: investasi terbaik bukan pada teknologi, tapi pada manusia. Lebih tepatnya, pada guru.

Ada satu bagian yang menurut saya cukup gerrr. Yakni ketika Pak Gita mengusulkan sebuah eksperimen untuk memilih 100 ribu guru dari sekitar 3 juta guru di Indonesia, lalu coba beri mereka gaji Rp 40 juta per bulan.

Jika dijumlah, total anggaran yang dibutuhkan adalah Rp4 triliun per bulan, atau Rp 48 triliun per tahun.

Anggaran tersebut masih masuk akal jika ditelisik dengan anggaran pendidikan kita yang hampir Rp 700 triliun.

“Daripada buat beli laptop, mending buat guru, ya kan?” katanya. Mendengar itu saya sebagai guru langsung ngangguk-ngangguk.

Bukan karena mumpung saya adalah guru. Tentu saja bukan itu, tapi karena usulan tersebut memang sangat masuk akal.

Kita semua tentu tahu kalau hari-hari ini masih banyak guru dengan gaji yang setara pengeluaran karyawan Jaksel seharinya.

Bahkan kalau melihat beberapa video di TikTok, ada anak remaja yang budget pacaran dalam sehari adalah 500 ribu. Edyan.

Itu setara dengan gaji guru-guru honorer di berbagai wilayah di Indonesia.

Padahal, semua harga sembako kini mulai naik. Mulai dari beras, minyak goreng, tepung, bahkan hal-hal yang biasa dijadikan pelarian banyak orang dewasa: kopi. Iya, harga kopi pun mulai merangkak naik.

Dan dengan gaji yang rata dengan tanah, banyak guru akhirnya terpaksa punya profesi tambahan untuk sekadar bisa bertahan hidup.

Satu hal yang membuat saya agak prihatin adalah, kita ini sebenarnya punya duit. Anggaran pendidikan itu gede banget.

Tapi sering kali salah prioritas. Misal yang sedang ramai, yakni gaji anggota DPR yang menyentuh angka 3 juta rupiah per hari. Edyan, itu duid dari mana btw?

Selain itu, ada juga program pengadaan laptop (yang disinggung Pak Gita di atas).

Ini bukan berarti laptop nggak penting, tapi mbok ya dipikir, kalau masih banyak guru yang bingung bayar kontrakan, apa gunanya pengadaan laptop canggih?

Ibaratnya, ada rumah sedang bocor, kita punya uang buat menambal, tapi malah dipakai untuk membuat kolam renang. Jan, Ramashok blas logikane iki.

Oiya, kalau dihitung, misalnya guru diberikan gaji Rp40 juta per bulan (yang coba diusulkan Pak Gita) atau bahkan Rp 3 juta per hari (gaji DPR saat ini), itu sebenarnya masih murah. Wong kerjaannya 24 jam kok. Pulang sekolah masih mikirin murid, membuat RPP, koreksi tugas, dan kadang menjadi customer service untuk murid maupun wali muridnya.

Serius, saya pernah jam 10 malam masih ada yang bertanya di grup WhatsApp, “Pak, boleh minta jadwal pelajaran?”

Ini kalau kerja di korporat, sudah pasti jadi bahan maido. Tapi karena terjadi di dunia pendidikan, hal kayak gini dianggap lumrah. Edyan memang. Guru memang tidak pernah benar-benar selesai bekerja.

Bahkan saat libur, pikirannya tetap di kelas. Dan kalau kita ingin pendidikan maju, maka guru harus jadi prioritas.

Bukan sekadar slogan “Pahlawan tanpa tanda jasa,” tapi benar-benar diberi jasa yang benar-benar layak.

Sekali lagi, jika memang anggaran ini ada untuk memberikan gaji Rp3 juta sehari untuk sebuah profesi, maka mari kita sepakati kalau yang lebih layak mendapatkannya adalah guru.

No debat. Karena mereka bukan cuma mengajar, tapi membentuk masa depan. Indonesia emas ini ujung tombaknya ada di guru lho, he.

Bukan pada AI atau anggota dewan yang kualitasnya ketika usul, malah ingin membuat gerbong kereta smoking area. Jan, kualitas ngunu kok ya gajine akeh tenan. Ramashok. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#Anggaran 1 Miliar #gaji anggota dpr #dpr #Gaji DPR #tunjangan #guru layak dibayar besar #guru #guru honorer