Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Sound Horeg di Karnaval Agustusan Dinilai Merusak Esensi Perayaan, Lebih Baik Dihapuskan Saja dari Tradisi

M. Afiqul Adib • Senin, 1 September 2025 | 06:05 WIB
Ilustrasi sound horeg.
Ilustrasi sound horeg.

RADARTUBAN - Bulan Agustus selalu identik dengan semarak perayaan kemerdekaan.

Di desa saya, agenda paling ditunggu ya tentu saja karnaval. Anak-anak pakai kostum ala pejuang, ibu-ibu arisan tampil dengan seragam kompak, sampai bapak-bapak rela berdandan aneh demi ikut meramaikan acara.

Bagi penonton seperti saya, semuanya seru dan menyenangkan. Namun, semua berubah karena satu hal, iya kalau saja tidak ada satu hal yang merusak suasana, yakni: sound horeg.

Entah siapa yang memulai, tapi sudah jadi semacam tradisi baru kalau karnaval harus dilengkapi dengan speaker raksasa yang memuntahkan lagu jedag-jedug sepanjang jalan.

Bukan cuma kencang, tapi sampai bikin kuping panas dan dada bergetar. Pokoknya kalau tidak bikin kaca rumah bergetar hebat, maka dianggap belum meriah. Aneh memang.

Baca Juga: Meriah! Karnaval HUT ke-80 RI di Kelurahan Karang Tampilkan Budaya dan Kearifan Lokal

Dari Karnaval Meriah Jadi Karnaval Bising yang Merusak Kuping

Saya ingin menegaskan satu hal, esensi dari karnaval agustusan adalah soal krativitas merayakan kemerdekaan.

Karena itu, kegiatan yang tepat adalah pawai budaya. atau arak-arakan kostum pejuang kemerdekaan. Begitu seharusnya.

Tapi semua itu malah tenggelam gara-gara suara bass yang menghentak tanpa ampun.

Seakan-akan kostum bagus, properti keren sudah tak lagi dianggap dan lebih berfokus pada suara dentuman keras bak senjata perang antar negara.

Iya, alih-alih memberi hiburan, sound horeg justru bikin karnaval kehilangan ruhnya. Yang seharusnya jadi perayaan kebersamaan berubah jadi ajang adu keras-kerasan volume.

Masing-masing grup seperti berlomba: siapa yang speakernya lebih besar, siapa yang bass-nya paling bikin genteng rumah tetangga jatuh. Begitu seterusnya.

Dalih “Biar Meriah” Sudah Nggak Relevan

Selain itu, perlu juga disepakati bahwa alasan “Biar meriah” sudah tak relevan.

Sebab, jika kita mau jujur, apa meriah itu selalu harus sama dengan bising? Saya kira tidak.

Lagi pula, kalau tujuan karnaval adalah menunjukkan semangat kemerdekaan, masa iya ekspresinya dengan memekakkan telinga warga yang menonton?

Btw, ini bukan cuma keresahan saya saja sebagai anak muda, tapi beberapa generasi boomer juga demikian.

Bibi saya misalnya, ia sambat dengan fenomena ini. blio sambat dadanya berdebar ketika mendengar suara yang level kerasnya sudah di luar batas itu.

Saya bahkan pernah sampai mengungsi ketika ada kegiatan ini di dekat rumah saya. Y

a, gimana, sebagai pekerja WFH, akan sangat susah untuk bisa bekerja di rumah dengan suara menggelegar dan bikin jendela kaca kamar saya selalu bergetar.

“Ah, tapi kan kegiatan ini cuma sekali setahun”. Nah, justru karena cuma sekali, jadi tolong dibuat yang memorable. Memangnya mau menjadi acara yang diadakan sekali dalam setahun tapi dikenang menyebalkan seumur hidup?

Lagi pula, ini sama seperti logika sampah sedotan yang merasa boleh saja membuangnya secara sembarangan hanya karena merasa dampaknya kecil.

Iya, kalau cuma satu yang melakukan, kalau yang menerapkannya ini seribu gimana? Kan sama saja jadi banyak.

Saatnya Balik ke Esensi Karnaval

Menurut saya, sound horeg dalam karnaval ini sudah sebaiknya dihilangkan saja.

Karnaval itu lebih indah kalau yang ditonjolkan kreativitas peserta: musik tradisional, drum band, tarian, atau yel-yel khas kelompok. Itu semua jauh lebih bernilai ketimbang sekadar dentuman yang bikin kepala pusying.

Apalagi, karnaval itu kan momen edukasi juga. Anak-anak bisa belajar sejarah, budaya, dan kebersamaan.

Kalau yang mereka lihat dan dengar hanya dentuman jedag-jedug, apa yang bisa mereka pelajari dari penari joget-joget dan dentuman keras itu?

Jadi, mari sama-sama sepakat: sound horeg bukan bagian penting dari karnaval. Kalau mau jedag-jedug, silakan bikin konser sendiri, sewakan lapangan, jual tiket, dan biarkan orang yang mau saja yang datang.

Tapi kalau karnaval yang akan dinikmati banyak orang, ya sudah semestinya kembali pada makna awal, yakni pesta rakyat yang ramah, meriah, tapi tetap sopan dan bisa dinikmati semua orang.

Terakhir, kalau kalian memang masih kekeh pengin muter musik dengan suara keras itu, saya ada dua solusi.

Pertama, coba deh, playlist lagunya diganti dengan full Bernadya saja biar nggak jedag-jedug dan terkesan lebih slow. Kedua, kalau kalian lebih suka muter lagu-lagu yang jedag-jedug itu, ya gapapa sih, tapi dengarkan sendiri pakai headset. Ben mudyarrr sekalian kupinge. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#sound horeg #karnaval #esensi karnaval #agustus