Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Merayakan Maulid Nabi dengan Spirit Kepedulian: Merangkul Anak Yatim, Kaum Miskin, dan Disabilitas

M. Afiqul Adib • Selasa, 9 September 2025 | 08:05 WIB
Ilustrasi perayaan Maulid Nabi.
Ilustrasi perayaan Maulid Nabi.

RADARTUBAN - Setiap tahun, Maulid Nabi Muhammad SAW diperingati dengan berbagai cara: dari pembacaan syair Barzanji, arak-arakan, hingga pengajian akbar.

Tapi di balik semua kemeriahan itu, ada satu nilai yang kadang luput dari perhatian: spirit merangkul yang terpinggirkan.

Karena kalau kita benar-benar meneladani Nabi, maka kasih sayangnya terhadap kaum miskin, yatim, dan penyandang disabilitas seharusnya jadi pusat peringatan, bukan pelengkap.

Nabi Muhammad bukan hanya pemimpin spiritual, tapi juga pelindung sosial. Beliau tidak hanya bicara tentang surga, tapi juga tentang dapur tetangga yang kosong.

Beliau tidak hanya mengajarkan salat, tapi juga memeluk anak yatim, menyapa orang cacat, dan membela mereka yang dilecehkan oleh sistem.

Dalam banyak riwayat, Nabi justru lebih dekat dengan mereka yang dianggap “tidak penting” oleh masyarakat.

Di masa Nabi, ada seorang sahabat bernama Julaybib—berpenampilan tidak menarik, miskin, dan sering diremehkan. Tapi Nabi justru memuliakannya, mencarikan jodoh untuknya, dan menyebutnya sebagai syuhada setelah gugur di medan perang.

Ada pula Abdullah bin Umm Maktum, sahabat tunanetra yang diberi kehormatan sebagai muadzin dan pemimpin shalat saat Nabi bepergian. Ini bukan sekadar cerita, tapi bukti bahwa inklusi bukan tren modern, melainkan warisan kenabian.

Lalu, bagaimana dengan kita hari ini?

Di banyak tempat, anak yatim masih diperlakukan sebagai objek amal, bukan subjek kehidupan. Penyandang disabilitas masih kesulitan akses pendidikan dan pekerjaan.

Kaum miskin masih jadi bahan retorika, bukan prioritas kebijakan. Bahkan dalam acara Maulid sendiri, kadang mereka hanya diundang sebagai “penerima santunan,” bukan sebagai bagian dari komunitas yang setara.

Padahal, spirit Maulid seharusnya mengingatkan kita bahwa kasih sayang Nabi tidak mengenal kasta sosial.

Beliau tidak bertanya status ekonomi sebelum memberi perhatian. Beliau tidak menunggu proposal sebelum membantu. Beliau hadir, mendengar, dan merangkul.

Di tengah isu sosial, seperti anak putus sekolah, lansia terlantar, hingga penyandang disabilitas yang belum punya akses transportasi layak, peringatan Maulid bisa jadi momentum refleksi.

Bukan hanya soal sejarah kelahiran, tapi soal kelahiran kembali empati kita. Karena meneladani Nabi bukan hanya soal ritual, tapi soal sikap.

Maka, mari kita rayakan Maulid dengan cara yang lebih bermakna. Bukan sekadar membagikan nasi kotak, tapi juga membuka ruang dialog.

Bukan sekadar memberi santunan, tapi juga mendengar cerita mereka. Karena kadang, yang dibutuhkan bukan uang, tapi pengakuan. Bahwa mereka ada, bahwa mereka penting, dan bahwa mereka layak dirangkul.

Maulid Nabi bukan hanya tentang mengenang, tapi tentang meneladani. Dan kalau kita benar-benar ingin meneladani, maka merangkul yang terpinggirkan adalah langkah pertama yang paling nyata. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#Kaum Miskin #maulid nabi #kasih sayang #nabi muhammad #yatim #penyandang disabilitas