Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Buku Disalahkan Jadi Pemicu Anarkis, Benarkah?

M. Afiqul Adib • Minggu, 21 September 2025 | 19:30 WIB
Tindakan anarkis sering disebut dipicu buku, padahal akar masalahnya lebih pada frustrasi sosial dan ketidakadilan.
Tindakan anarkis sering disebut dipicu buku, padahal akar masalahnya lebih pada frustrasi sosial dan ketidakadilan.

RADARTUBAN - Beberapa waktu lalu, publik sempat ramai membicarakan penyitaan sejumlah buku oleh aparat kepolisian.

Buku-buku tersebut disebut sebagai “pemicu” aksi anarkis yang terjadi di beberapa daerah.

Mengutip laporan Tirto, pihak kepolisian menyatakan bahwa buku-buku itu menjadi referensi ideologi para pelaku kericuhan.

Bahkan disebut-sebut sebagai sumber paham anarko dan anarkisme.

Tentu saja, pernyataan ini memantik banyak reaksi.

Sebagian orang bertanya-tanya: benarkah buku bisa membuat seseorang jadi anarkis?

Apakah membaca teori sosial otomatis membuat seseorang turun ke jalan dan melempar batu?

Atau jangan-jangan, kita sedang salah paham soal akar dari tindakan anarkis itu sendiri?

Buku Bukan Biang Kerok

Kalau kita mau jujur, buku bukanlah sumber utama dari tindakan anarkis. Buku adalah medium pengetahuan, bukan instruksi aksi.

Dia bisa mengajak berpikir, mempertanyakan, bahkan membayangkan dunia yang lebih adil.

Tapi keputusan untuk bertindak—apalagi secara destruktif—tidak lahir dari halaman buku, melainkan dari kondisi sosial yang nyata.

Anarkisme sebagai ideologi memang punya sejarah panjang.

Tapi dalam banyak kasus, tindakan anarkis lahir bukan karena seseorang membaca teori, melainkan karena mereka merasa tidak punya pilihan lain.

Ketika ruang dialog tertutup, ketika ketimpangan makin lebar, dan ketika suara tak didengar, maka amarah bisa meledak. Dan itu bukan karena buku, tapi karena realitas.

Penjelasan dari Para Ahli

Beberapa sosiolog dan pengamat gerakan sosial menyebut bahwa tindakan anarkis lebih sering dipicu oleh frustrasi kolektif, bukan literasi ideologis.

Artinya, orang-orang yang turun ke jalan dan melakukan aksi destruktif biasanya tidak sedang mengutip paragraf dari buku filsafat.

Mereka sedang bereaksi terhadap tekanan hidup, ketidakadilan, atau rasa kehilangan arah.

Buku bisa jadi pemantik diskusi, tapi bukan pemicu aksi.

Bahkan banyak aktivis yang membaca buku-buku yang sama, tapi memilih jalur damai dan advokasi.

Jadi, menyalahkan buku sebagai sumber anarkisme adalah penyederhanaan yang berbahaya.

Kenapa Ini Perlu Dibahas?

Karena jika kita terus menyalahkan buku, maka kita sedang menutup ruang berpikir. Kita sedang menciptakan ketakutan terhadap literasi.

Padahal, justru lewat membaca, kita bisa memahami akar masalah, mencari solusi, dan membangun dialog.

Penyitaan buku bukan hanya soal hukum, tapi juga soal arah kebudayaan.

Apakah kita ingin masyarakat yang berpikir, atau masyarakat yang patuh tanpa bertanya?

Apakah kita ingin generasi yang kritis, atau generasi yang takut membuka halaman?

Anarkis Itu Soal Kondisi, Bukan Koleksi

Pada akhirnya, tindakan anarkis tidak bisa dijelaskan hanya lewat daftar bacaan. Ia harus dilihat sebagai respons terhadap kondisi sosial.

Dan kalau kita ingin mencegahnya, maka solusinya bukan menyita buku, tapi membuka ruang dialog, memperbaiki kebijakan, dan mendengarkan suara yang selama ini diabaikan.

Karena buku tidak pernah melempar batu. Yang melempar adalah tangan manusia dan tangan itu bergerak bukan karena paragraf, tapi karena perasaan. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#dunia #Anarkisme #referensi #otomatis #sejarah #reaksi #buku