Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Hari Pahlawan dan Politik Ingatan: Siapa yang Layak Diingat, Siapa yang Sengaja Dihapus?

M. Afiqul Adib • Senin, 10 November 2025 | 01:10 WIB
Hari Pahlawan dan politik ingatan, siapa pahlawan nasional, sejarah dan kekuasaan, pahlawan yang terlupakan, narasi sejarah Indonesia.
Hari Pahlawan dan politik ingatan, siapa pahlawan nasional, sejarah dan kekuasaan, pahlawan yang terlupakan, narasi sejarah Indonesia.

RADARTUBAN - Pertama perlu disepakati dulu bahwa kepahlawanan bukan sekadar gelar, tapi pilihan ingatan.

Setiap November, daftar calon Pahlawan Nasional kembali dibacakan. Nama-nama baru muncul, tapi juga muncul pertanyaan lama: Kenapa yang ini layak, yang itu tidak?

Dalam riuh upacara dan seremonial, kita sering lupa bahwa kepahlawanan sejati sering tak sempat diberi gelar. 

Dia hidup dalam cerita rakyat, dalam bisik-bisik sejarah, dalam jejak yang tidak tercatat. Dan di sinilah kita mulai menyentuh satu konsep penting: politik ingatan.

Politik Ingatan: Ketika Sejarah Ditulis oleh yang Berkuasa

Politik ingatan adalah cara kekuasaan menentukan siapa yang layak dikenang, dan siapa yang sengaja dilupakan.

Dia bukan sekadar soal sejarah, tapi soal narasi.

Soal siapa yang mendapat tempat di buku pelajaran, di nama jalan, di patung peringatan. Karena pahlawan bukan hanya soal keberanian, tapi juga soal siapa yang diizinkan untuk disebut berani.

Pahlawan yang Tak Pernah Diangkat

Banyak tokoh lokal, aktivis, perempuan pejuang, atau kelompok minoritas yang berkontribusi besar tapi tidak masuk daftar resmi.

Bukan karena mereka kurang berjasa, tapi karena mereka tidak sesuai dengan narasi dominan.

Terlalu kritis, terlalu berbeda, terlalu “tidak aman” untuk dikenang secara resmi.

Dan kita pun bertanya: apakah gelar pahlawan adalah soal jasa, atau soal siapa yang punya akses ke pengakuan?

Ingatan Kolektif yang Perlu Diperluas

Hari Pahlawan seharusnya bukan hanya soal mengenang yang sudah diberi gelar, tapi juga soal membuka ruang bagi yang belum sempat disebut.

Bagi mereka yang berjuang dalam diam. Bagi mereka yang tidak masuk arsip, tapi masuk hati masyarakat.

Karena bangsa yang sehat bukan hanya yang punya pahlawan resmi, tapi yang berani mengakui bahwa ingatannya belum lengkap.

Mari Ingat Lebih Luas, Lebih Jujur

Politik ingatan tidak bisa dihindari, tapi bisa dikritisi. Bisa diluaskan.

Bisa dibuka ruangnya. Supaya Hari Pahlawan bukan hanya soal seremoni, tapi juga soal refleksi.

Supaya kita tidak hanya mengenang, tapi juga bertanya: Siapa yang layak diingat, dan siapa yang sengaja dihapus? (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#Seremoni #hari pahlawan #Refleksi