Oleh: Cak Sariban*
[*Cak Sariban adalah warga Tuban berkhidmat dalam dunia pengetahuan dan selalu mengampanyekan kebahagiaan, dianugerahi penghargaan Sutasoma oleh Balai Bahasa Provinsi Jatim]
RADARTUBAN - Selamat ulang tahun kota kita: Tuban. Umur kota kita sudah 732 tahun. Kota kita telah tumbuh. Segala pasang surut adalah hal biasa. Begitulah hukum dunia. Harapan semakin sejahtera terus bergelora di hati.
Ada yang menarik dari tekad Mas Bupati Aditya Halindra Faridzky. Mas Lindra sangat bersemangat.
Upacara Peringatan Hari Jadi Tuban (HJT) di alon-alon 12 November 2025 kemarin cukup syahdu dalam rintik gerimis tipis. Beberapa drone diterbangkan.
Sayup gema suara Mas Lindra dalam sambutan menekankan tiga hal penting: pelayanan publik, kolaborasi, dan impian Tuban menjadi bagian kota yang penting dalam skala Jawa Timur dan Indonesia.
Pertanyaan mendasar, bagaimana mewujudkan tiga hal penting tersebut untuk Tuban berkemajuan?
Basis pembangunan Tuban selama ini telah dikenal oleh kota lain. Tuban memiliki jalan-jalan yang mulus.
Banyak fasilitas umum untuk berolahraga, kumpul-kumpul, dan jagongan dibangun.
Gerakan inovasi pelayanan publik menjadi perhatian.
Upaya menekan angka kemiskinan terus dilakukan. Semua itu dilakukan dalam upaya mewujudkan ‘Tuban yang terus sejahtera’.
Kolaborasi Desa
Upaya menyejahterakan warga adalah hal yang tidak bisa ditawar. Berbicara warga, kehadiran pemerintah paling dekat adalah pemerintahan desa atau kelurahan.
Dalam konteks ini, pemerintahan desa menjadi pilar utama dalam sentuhan kesejahteraan warga.
Contoh konkret yang dilakukan panitia upacara HJT kemarin dengan memberikan kupon untuk ditukar makanan dan minuman kepada pedagang kaki lima (PKL) cukup menarik.
Sebelumnya, panitia sudah mengondisikan saudara kita PKL untuk berjualan di seputar alun-alun.
Dagangan mereka laku keras karena dibeli oleh para peserta upacara.
Dampaknya, peserta upacara senang. Lebih-lebih PKL sangat bahagia. Apa yang mereka jual laku.
Ada pendapatan. Ekonomi masyarakat kecil tumbuh. Uang beredar dan berpindah dari tangan masyarakat satu ke masyarakat lain.
Cara demikian perlu diapresiasi dan dipertimbangkan untuk dikembangkan dalam skala luas di setiap desa.
Pemda harus hadir dalam memberi stimulan perputaran ekonomi warga. Pemerintah desa karena itu perlu mengondisikan kultur desa yang memungkinkan perpindahan uang dari orang satu ke orang lain.
Setiap desa di kabupaten Tuban tentu memiliki potensi, kekhasan, dan kearifan lokal dalam mendorong kesejahteraan warganya.
Kepekaan dan kearifan masing-masing kepala desa dan kelurahan sangat diperlukan dalam mencermati hal tersebut.
Modal dasar itulah sebagai ‘jimat’ desa untuk alat kesejahteraan warganya.
Tentu kesejahteraan setiap warga desa juga tidak bisa digeneralisasikan dengan satu patokan angka statistik ekonomi.
Saya pernah bertanya kepada seseorang yang tinggal di desa. “Paklek, apa yang diinginkan?” Jawabannya cukup mengejutkan: “Awak waras isa anjeng nek tangga duwe gawe wis menak (Badan sehat, bisa datang jika tetangga punya hajat, sudah enak).”
Karena itu, apa pun program kesejahteraan rakyat ala pemda, haruslah berfokus: rakyat sehat, hubungan sosial baik, dan tentu akses ekonomi terus membaik.
Dalam perspektif lain, kesadaran internal diri atas makna kesejahteraan juga perlu redefinisi.
Paradigma kesejahteraan secara mendasar tidak lain adalah jika nilai tukar kebutuhan yang diwakili uang berlangsung secara lancar, rutin, dan merata.
Di sisi lain, ada cara yang gampang sebenarnya untuk cepat sejahtera. Yakni hidup tak memerlukan banyak hal.
Konsekuensi transaksi dalam hidup juga serba sedikit. Hanya saja, cara ini secara umum tidak menjadi kesukaan masyarakat kita. Meski sebenarnya, kita sangat bisa untuk itu.
Karena tak banyak ingin, maka tak banyak butuh. Karena sudah tak butuh, ya hidup ini cukup-cukup saja. Kita sering dilanda sulit karena ada yang kita butuhkan.
Sekali-kali kita sehari perlu belajar tak butuh apa-apa. Hidup ini “sudah” kita sudahi. Bisa tidak ya?
Di luar diskusi perihal kesejahteraan rakyat Tuban di atas, dalam momen HJT tahun ini, ada dua kata kunci membangun Tuban ke depan.
Pertama, rasa pemimpin yang kuat atas apa yang dirasakan rakyat kolektifnya. Kedua, rasa rakyat mencintai pemimpinnya.
Pertama, kesadaran penglihatan, perasaan, dan tindakan pemimpin terhadap apa yang dirasakan rakyat menjadi penting.
Karena jumlah rakyat lebih banyak ketimbang pemimpin, pemimpin haruslah memiliki mata batin rasa yang berlipat.
Apakah pembangunan fasilitas umum serta-merta membikin rakyat Tuban sejahtera? Ya, bagi yang ingin dan perlu ke sana.
Sebagian tetangga kita mungkin tak ‘kepikir’ ke taman-taman kota itu. Mereka sudah dipusingkan oleh kebutuhan sehari-hari.
Kedua, rasa cinta rakyat kepada pemimpinnya mendorong rakyat mudah memaafkan dan menghargai kerja keras sang pemimpin.
Banyak daerah tidak “tenteram” lantaran rakyatnya menuntut yang berlebih dari pemimpinnya.
Bukankah pemimpin telah mengorbankan seluruh waktu dan pikirannya untuk rakyatnya hingga melupakan dirinya?
Begitulah fitrah kesejahteraan: hidup saling mencintai di antara rakyat dan pemimpinnya. Selamat ulang tahun kota kita. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama