Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Hari Guru Nasional: Tentang Terima Kasih yang Sering Terlambat Diucapkan

M. Afiqul Adib • Senin, 24 November 2025 | 00:10 WIB
Ilustrasi guru sedang mengajar di kelas.
Ilustrasi guru sedang mengajar di kelas.

RADARTUBAN - Setiap tanggal 25 November, kita memperingati Hari Guru Nasional.

Momentum ini biasanya dipenuhi dengan ucapan terima kasih, karangan bunga, atau sekadar unggahan di media sosial.

Tapi kalau mau jujur, rasa terima kasih kepada guru sering kali datang terlambat.

Kita baru sadar betapa pentingnya peran guru setelah dewasa, setelah merasakan kerasnya hidup, atau setelah menyadari bahwa ilmu yang dulu dianggap remeh ternyata jadi bekal berharga.

Guru adalah sosok yang sering kita abaikan saat sekolah, tapi kemudian kita rindukan ketika sudah jauh melangkah.

Guru dan Perjuangan yang Tak Terlihat

Guru bukan hanya pengajar di kelas. Mereka adalah orang yang sabar menghadapi murid dengan segala tingkahnya.

Sosok yang rela mengorbankan waktu demi menyiapkan pelajaran.

Pekerja keras yang sering kali tidak mendapat penghargaan setimpal.

Perjuangan guru sering tidak terlihat, karena yang tampak hanya papan tulis dan suara yang kadang membosankan. Padahal di balik itu ada dedikasi yang luar biasa.

Terima Kasih yang Sering Terlambat

Kita sering baru mengucapkan terima kasih setelah lulus, setelah bekerja, atau bahkan setelah guru kita tiada.

Padahal, ucapan sederhana itu bisa jadi energi besar bagi mereka.

Hari Guru Nasional seharusnya jadi pengingat bahwa apresiasi tidak perlu menunggu momen khusus. Terima kasih bisa diucapkan setiap hari, sekecil apa pun bentuknya.

Refleksi di Hari Guru Nasional

Hari Guru Nasional bukan hanya soal seremoni. 

Dia adalah momentum refleksi: Apakah kita sudah menghargai guru dengan layak?

Apakah kebijakan negara sudah berpihak pada kesejahteraan guru?

Apakah kita sudah memberi ruang bagi guru untuk berkembang, bukan sekadar menuntut?

Karena guru bukan hanya profesi, melainkan fondasi bangsa.

Tanpa guru, tidak ada generasi penerus.

Hari Guru Nasional pada 25 November adalah tentang terima kasih yang sering terlambat diucapkan.

Mari belajar untuk tidak menunda apresiasi. Karena guru adalah sosok yang membentuk kita, bahkan ketika kita tidak menyadarinya.

Jadi, sebelum terlambat, ucapkanlah terima kasih.

Tidak perlu menunggu Hari Guru Nasional.

Karena bagi guru, penghargaan terbesar bukanlah seremoni, melainkan rasa hormat yang tulus dari murid-muridnya. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#bunga #media sosial #pelajaran #hari guru nasional #terima kasih #murid