RADARTUBAN - Di era digital yang berlari kencang, sains dan teknologi (STEM) telah menjadi mesin utama kemajuan bangsa.
Namun, jika kita menengok ke dalam laboratorium riset atau ruang kendali teknologi di Indonesia, sebuah pertanyaan besar muncul: di mana para perempuan kita?
Meski bangku sekolah kini sudah diisi secara merata oleh laki-laki dan perempuan, kenyataan di dunia kerja berkata lain.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024 menunjukkan jurang yang masih menganga. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan Indonesia hanya berada di angka 54,5 persen, jauh tertinggal dibandingkan laki-laki yang mencapai 83,9 persen.
Di bidang penelitian, keterwakilan perempuan bahkan lebih mencolok hanya berkisar antara 30 hingga 40 persen.
Fenomena ini sering disebut sebagai "leaky pipeline" atau pipa yang bocor. Banyak perempuan berbakat memulai pendidikan di bidang sains, namun perlahan "menghilang" sebelum mencapai puncak karier mereka. Mengapa ini terjadi dan apa dampaknya bagi masa depan Indonesia?
Realita di Balik Angka
Secara global, perempuan hanya mewakili 28 persen dari total ilmuwan di dunia. Di Indonesia, angkanya sedikit lebih baik namun tetap mengkhawatirkan. Laporan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan bahwa proporsi peneliti perempuan kita berkisar antara 30 hingga 40 persen.
Namun, jika kita membedah data tersebut lebih dalam, muncul pola “segregasi horizontal”.
Perempuan cenderung terkonsentrasi di sektor pendidikan dan kesehatan, sementara bidang teknologi tinggi dan rekayasa (engineering) masih didominasi oleh laki-laki. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan pun masih tertahan di angka 54,5 persen, jauh tertinggal dari laki-laki yang mencapai 83,9 persen.
Mengapa ini terjadi? Jawaban singkatnya: Plafon kaca (glass ceiling) dan stereotip budaya yang masih kuat.
Hambatan Tak Kasat Mata
Masalahnya bukan pada kemampuan otak, melainkan pada hambatan struktural dan budaya yang masih kuat. Sejak kecil, stereotip gender sering kali mendikte bahwa bidang teknik dan teknologi adalah "dunianya laki-laki".
Akibatnya, banyak anak perempuan kekurangan sosok panutan (role model) yang bisa menginspirasi mereka untuk berani bermimpi menjadi insinyur atau ilmuwan data.
Selain itu, lingkungan kerja di sektor teknologi sering kali belum responsif terhadap peran ganda yang sering dipikul perempuan.
Minimnya kebijakan yang mendukung keseimbangan antara karier dan keluarga membuat banyak ilmuwan perempuan harus memilih satu di antaranya, yang sering kali berujung pada penghentian karier mereka di bidang sains.
Mengapa Kita Butuh Perempuan di STEM?
Melibatkan perempuan dalam sains bukan sekadar soal keadilan sosial atau memenuhi kuota. Ini adalah soal inovasi. Perspektif perempuan membawa sudut pandang berbeda dalam memecahkan masalah. Tanpa partisipasi perempuan yang optimal, Indonesia kehilangan separuh dari potensi kreatif dan intelektualnya.
Dalam pembangunan berkelanjutan, kontribusi perempuan di bidang teknologi kesehatan, energi terbarukan, hingga kecerdasan buatan sangat krusial. Ketika perempuan terlibat dalam pengambilan keputusan strategis di bidang Iptek, produk inovasi yang dihasilkan akan lebih inklusif dan menjawab kebutuhan seluruh lapisan masyarakat.
Langkah Nyata Menuju Perubahan
Lalu, bagaimana kita menambal "pipa yang bocor" ini? Perubahan harus dilakukan secara sistematis:
1. Pendidikan Inklusif sejak Dini: Memperkenalkan dunia STEM kepada anak perempuan melalui metode pembelajaran yang aktif dan memaparkan mereka pada sosok perempuan hebat di bidang sains.
2. Kebijakan Afirmatif: Pemerintah dan institusi harus berani menerapkan kebijakan yang mendukung keterwakilan perempuan, seperti insentif pendanaan riset khusus bagi peneliti perempuan.
3. Ekosistem Kerja yang Mendukung: Menciptakan lingkungan kerja yang fleksibel dan ramah bagi perempuan, termasuk penyediaan fasilitas yang mendukung peran ibu di lingkungan riset.
4. Mentoring dan Jaringan: Membangun komunitas di mana sesama perempuan di bidang STEM dapat saling berbagi pengalaman dan menguatkan posisi mereka dalam karier.
Harapan Masa Depan
Masa depan Indonesia bergantung pada kemampuannya untuk berinovasi. Dan inovasi tersebut tidak akan mencapai puncaknya jika separuh dari populasinya masih terhambat untuk berkontribusi.
Sudah saatnya kita memastikan bahwa setiap anak perempuan di pelosok negeri, yang hari ini sedang menatap mikroskop dengan penuh rasa ingin tahu, tahu bahwa dunia sains dan teknologi adalah milik mereka juga. Memajukan perempuan di bidang STEM adalah memajukan masa depan Indonesia.
Penutup
Kesetaraan gender dalam sains dan teknologi adalah prasyarat mutlak bagi Indonesia untuk menjadi negara maju. Kita tidak boleh membiarkan bakat-bakat terbaik bangsa layu sebelum berkembang hanya karena sekat-sekat tradisi atau kebijakan yang kaku. Sudah saatnya perempuan Indonesia tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi juga menjadi arsitek di baliknya. Menembus langit-langit kaca di dunia sains bukan lagi sekadar impian, melainkan keharusan untuk masa depan Indonesia yang lebih cerah dan inklusif.
Daftar Pustaka Utama:
Badan Pusat Statistik (2024). Perempuan dan Laki-laki di Indonesia 2024.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (2023). Statistik Sumber Daya Manusia Iptek Indonesia.
UNESCO (2017). Cracking the Code: Girls' and Women's Education in STEM.