Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Membenci Sekolah dan Rasa Sakit yang Membekas Selamanya

Ahmad Atho’illah • Rabu, 22 April 2026 | 17:58 WIB
Ahmad Atho’illah Kolumnis/Wartawan Jawa Pos Radar Tuban
Ahmad Atho’illah Kolumnis/Wartawan Jawa Pos Radar Tuban

RADARTUBAN - Kasus perundungan di sekolah menengah pertama (SMP) di Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban kembali memantik emosi publik.

Sebagai penyintas korban bullying secara fisik dan psikis, saya merasakan amarah yang begitu membuncah—yang sulit dijelaskan dan diungkapkan dengan kata. Terlebih—dalam video yang beredar, perundungan terhadap korban disertai dengan kekerasan. 

Ingin rasanya menyeret si pelaku dan memberikan hukuman seberat-beratnya, hingga dia menyadari bahwa sakitnya menjadi korban perundungan itu tak terperi dan terbawa hingga mati.

Jika anda pernah merasakan murka yang melibatkan berbagai macam perasaan: antara tekanan mental, psikologis, hingga dendam yang berkelindan untuk dibalasakan. Itulah rasa sakit yang dirasaka para korban bully. Dan hanya mereka yang pernah menjadi korban perundungan yang bisa merasakan.

Baca Juga: Video Bullying Pelajar SMP Sabilul Muhtadin Jenu Viral, Disdik Tuban Siapkan Sanksi ke Sekolah

Lebih dari itu, dan lebih menyakitkan dari itu semua, adalah hilangnya masa anak-anak yang menyenangkan. Patah tulang masih bisa disembuhkan, tapi masa kecil tidak bisa diulang.

Bahkan sekalipun anda memiliki banyak harta, momen indah dan penuh imajinasi di waktu kecil tidak bisa dibeli dengan uang.

Dan itulah yang saya rasakan. Selain kehilangan masa kecil, saya juga merasa tidak pernah menikmati sekolah, bahkan benci. Hari-hari di sekolah seperti neraka. Tidak ada tempat nyaman untuk berteman. Dan itu saya rasakan bertahun-tahun di bangku sekolah dasar.

Tidak adanya ruang untuk bercerita, baik kepada guru maupun orang tua, membuat saya semakin menderita. 

Meski akhirnya saya bisa lepas dari kekangan “penyiksaan” dari orang-orang yang tidak pantas saya sebut sebagai teman, namun rasa sakit itu masih mengendap hingga sekarang. Dan mungkin tidak akan saya lupakan sampai mati. Sebuah rasa sakit hati yang begitu membekas.

Karena itu, bagi saya—sebagai penyintas korban bully, peristiwa perundugan di dunia pendidikan adalah kasus yang amat sangat serius. Tidak bisa hanya diselesaikan dengan sanksi terhadap sekolah dan pendamaian terhadap pelaku dan korban.

Jika hanya cara itu yang bisa dilakukan oleh pemangku kewenangan, maka fix sudah, mereka telah gagal mengemban amanah pendidikan. Apalagi, jika yang dipakai adalah analogi siswa keracunan MBG ala cara berpikir Presiden Prabowo.

Bahwa siswa yang keracunan menu MBG hanya 0,008 persen dari total penerima manfaat se-Indonesia. Jika analogi itu yang dipikirkan, hanya 0,000 kasus perundungan dari total keberhasilan pendidikan karakter se-Indonesia, maka saat itu juga pendidikan kita telah gagal sejak dalam pikiran.

Sebagai penyintas korban perundungan, saya ingin menggugah kesadaran semua pihak—bahwa kasus perundungan tidak bisa dipandang sebelah mata sebagai kenakalan remaja, atau sekadar cukup membuat sebuah video—yang seakan sudah memberikan atensi serius terhadap hasus tersebut.

Meski pada sebagian kasus kenakalan remaja memiliki keterkaitan dengan aksi perundungan, namun perundungan dan kenakalan remaja adalah dua case yang berbeda.

Jika tawuran menyisakan luka fisik yang masih bisa diobati, perundungan menyisakan luka mental dan psikis yang sulit disembuhkan. Tumbuh dewasa dengan rasa percaya diri yang telah hilang, itu sangat menyakitkan.

Baca Juga: Dugaan Korupsi BOS SMPN 2 Rengel, Inspektorat Audit Dokumen 2021–2025

Minimnya Pendidikan Empati

Pada kasus terulangannya kembali aksi perundungan di Tuban, adalah bukti bahwa pendidikan empati masih sebatas pemahaman.

Sebagaimana banyak dijelaskan para pemerhati pendidikan karakter, minimnya kemampuan anak dalam berempati adalah faktor utama langgengnya prilaku bullying di sekolah.

Seperti halnya kalimat: buang sampah pada tempatnya. Sejauh ini tidak lebih dari sekadar pemahaman. Hafal, tapi tidak menjadi pembiasaan dalam keseharian. Buktinya, sampah masih menjadi persoalan yang tak kunujung bisa diselesaikan. Baik dalam skala nasional maupun lokal.

Begitu pun pendidikan empati. Siswa hanya sekadar paham, tapi masih jauh panggang dari tindakan.

Sialnya, krisis nirempati juga banyak dipertontonkan oleh kalangan pejabat. Jor-joran menghabiskan anggaran untuk program yang tidak jelas arah dan tujuannya, pengadaan kendaraan dinas yang mencapai miliaran, pamer kekayaan, hingga merayakan ulang tahun dengan gaya sultan di tengah kondisi ekonomi yang sulit, adalah gambaran sebuah perundungan terhadap rakyat secara nyata.

Wabakdu, selama pendidikan empati belum menjadi bagian dari gerakan nasional, maka selama itu pula kasus bullying akan terus langgeng di negeri ini. (*) 

Editor : Yudha Satria Aditama
#smp #opini #perundungan #tuba