Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Merdu di Telinga, Sunyi di Alam dalam Lagu Kicau Mania: Kajian Ekokritik Sastra

Riyan Prasetyo • Minggu, 10 Mei 2026 | 17:05 WIB
Ditulis oleh: Riyan Prasetyo, S.Pd. (Mahasiswa S2 Pendidikan Bahasa Indonesia UNS)
Ditulis oleh: Riyan Prasetyo, S.Pd. (Mahasiswa S2 Pendidikan Bahasa Indonesia UNS)

RADARTUBAN - Di tengah riuhnya budaya populer yang kian digerakkan oleh logika viralitas, lagu Kicau Mania hadir sebagai representasi menarik dari relasi manusia dengan alam khususnya burung sebagai objek hobi, estetika, sekaligus komoditas.

Lagu ini menawarkan kegembiraan, solidaritas komunitas, dan romantisme kecintaan terhadap makhluk hidup.

Lagu membuka ruang refleksi yang lebih dalam: apakah kicauan yang kita rayakan benar-benar mencerminkan harmoni dengan alam, atau justru menyimpan ironi berupa kesunyian ekologis yang luput dari perhatian?

Kajian ekokritik memungkinkan kita membaca teks lagu ini tidak sekadar sebagai hiburan, melainkan sebagai representasi wacana ekologis.

Baca Juga: Sering Bikin Pemilik Frustrasi, Ini Cara Ampuh Atasi Burung Kicau yang Mendadak Stop Bunyi!

Ekokritik sebagai cabang kajian sastra yang menyoroti hubungan antara manusia dan lingkungan, mengajak kita mempertanyakan bagaimana alam diposisikan dalam narasi budaya.

Kicau Mania memiliki konteks burung tidak hanya hadir sebagai makhluk biologis, tetapi sebagai simbol yang dimaknai, diperlakukan, dan bahkan dikuasai oleh manusia. Di sinilah letak ambivalensi yang menarik untuk dikaji.

Lagu ini secara implisit merepresentasikan burung sebagai entitas yang dirawat dengan penuh dedikasi. Pemilik burung digambarkan sebagai sosok yang telaten, sabar, dan memiliki keterikatan emosional dengan peliharaannya.

Relasi manusia dan burung tampak harmonis. Burung diberi pakan terbaik, dirawat kesehatannya, bahkan dilatih agar mampu menghasilkan kicauan yang indah.

Jika ditelaah lebih jauh relasi tersebut tidak sepenuhnya bebas dari logika dominasi. Perawatan yang dilakukan bukan semata demi kesejahteraan burung sebagai makhluk hidup, melainkan juga demi memenuhi standar estetika dan kompetisi yang ditentukan manusia.

Ekokritik menawarkan perspektif kritis bahwa praktik perawatan yang tampak penuh kasih dapat sekaligus menjadi bentuk kontrol.

Burung ditempatkan dalam sangkar, ruang terbatas yang secara fisik memisahkannya dari habitat alaminya. Kicauan yang merdu yang dalam kondisi liar merupakan ekspresi alami berubah menjadi performa yang dinilai, dilombakan, dan bahkan dikomodifikasi.

Kicauan tersebut tidak lagi sepenuhnya milik burung tetapi telah menjadi bagian dari sistem nilai manusia yang menekankan prestise dan pengakuan sosial.

Lagu ini juga merefleksikan budaya kompetisi dalam komunitas kicau mania. Arena lomba, yang dalam istilah lokal sering disebut gantangan, menjadi ruang di mana burung dan pemiliknya berpartisipasi dalam mekanisme penilaian yang ketat. Burung tidak hanya menjadi objek hobi, tetapi juga simbol status.

Burung yang gacor tidak sekadar menghasilkan suara indah, tetapi juga meningkatkan posisi sosial pemiliknya dalam komunitas. Fenomena ini menunjukkan bagaimana alam dalam hal ini burung diintegrasikan ke dalam struktur sosial manusia sebagai penanda identitas dan prestise.

Baca Juga: Ternyata Begini Fakta Menarik Tengkek Buto, Burung Misterius yang Jadi Primadona Masteran Kicau

Terdapat pertanyaan mendasar yang perlu diajukan, yaitu bagaimana nasib burung di alam liar ketika budaya ini terus berkembang?

Ekokritik mendorong kita untuk tidak hanya melihat teks, tetapi juga realitas di luar teks. Praktik penangkapan burung dari habitat aslinya, perdagangan satwa, serta berkurangnya populasi burung di alam merupakan isu-isu ekologis yang tidak dapat diabaikan.

Sunyi di alam bukan sekadar metafora, melainkan potensi realitas yang mengkhawatirkan.

Kontradiksi antara merdu di telinga dan sunyi di alam menjadi inti refleksi ekokritik terhadap lagu ini.

Kicauan yang kita nikmati di ruang domestik mungkin berbanding terbalik dengan berkurangnya suara burung di hutan dan ruang terbuka. Estetika yang kita rayakan bisa saja dibangun di atas hilangnya kebebasan makhluk lain.

Di sinilah letak ironi ekologis yang sering kali tersembunyi di balik praktik budaya yang dianggap wajar.

Penting untuk diakui bahwa lagu Kicau Mania tidak secara eksplisit mengadvokasi eksploitasi alam. Lagu merekam realitas sosial yang sudah ada dalam masyarakat. Pembacaan ekokritik tidak dimaksudkan untuk menyalahkan teks, melainkan untuk membuka ruang dialog yang lebih luas tentang bagaimana kita memaknai dan memperlakukan alam.

Lagu ini justru dapat menjadi pintu masuk untuk meningkatkan kesadaran ekologis, terutama di kalangan generasi muda yang menjadi konsumen utama budaya populer.

Kajian ini menunjukkan bahwa karya sastra termasuk lagu popular memiliki peran penting dalam membentuk cara pandang manusia terhadap lingkungan. Bahasa, simbol, dan narasi yang digunakan dalam teks budaya tidak pernah netral; ia selalu membawa nilai dan ideologi tertentu.

Membaca lagu seperti Kicau Mania secara ekokritik berarti juga membaca diri kita sendiri sebagai bagian dari ekosistem yang lebih besar.

Refleksi yang dapat kita tarik adalah perlunya keseimbangan antara kecintaan terhadap hobi dan tanggung jawab terhadap alam. Merawat burung tidak harus berarti memisahkannya dari habitat alami secara permanen.

Komunitas kicau mania, dengan segala potensinya, dapat menjadi agen perubahan yang mendorong praktik yang lebih berkelanjutan, seperti penangkaran yang etis atau pelestarian habitat.

Kicauan yang kita dengar tidak lagi menjadi simbol kontradiksi, melainkan harmoni yang sesungguhnya antara manusia dan alam.

Lagu Kicau Mania tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga cermin yang memantulkan relasi kompleks antara manusia dan lingkungan. Mengingatkan kita bahwa di balik setiap suara yang merdu, selalu ada konteks ekologis yang perlu kita pahami dan jaga.

Sebab, pada akhirnya, keindahan sejati bukan hanya terletak pada apa yang kita dengar, tetapi pada bagaimana kita memastikan bahwa alam tetap memiliki suaranya sendiri. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#kicau mania #ekokritik #kajian #sastra