RADARTUBAN - Kecelakaan yang terus terjadi di jalan raya menunjukkan bahwa masalah keselamatan bukan hanya soal nasib buruk. Ada faktor-faktor nyata yang membuat angka kecelakaan tetap tinggi, mulai dari kondisi jalan hingga perilaku pengendara.
Jalan rusak dan fasilitas yang belum memadai menjadi salah satu penyebab utama. Lubang di jalan, permukaan yang tidak rata, hingga penerangan yang minim membuat pengendara kesulitan menjaga kendali. Infrastruktur yang tidak terawat menambah risiko, terutama bagi pengendara motor.
Lampu lalu lintas dan rambu yang bermasalah juga memperburuk keadaan. Ketika lampu tidak berfungsi atau rambu tidak jelas, pengendara kehilangan panduan. Akibatnya, banyak yang bingung atau mengambil keputusan berisiko di persimpangan jalan.
Baca Juga: Raih Zero Accident Award, TPPI Catat 21,9 Juta Jam Kerja Tanpa Kecelakaan
Namun, kebiasaan pengendara yang masih berisiko juga tidak bisa diabaikan.
Banyak yang melanggar aturan, tidak memakai helm dengan benar, atau berkendara sambil menggunakan ponsel. Kelalaian ini membuat jalan semakin berbahaya, bahkan ketika infrastrukturnya cukup baik.
Antara kelalaian dan kurangnya perbaikan infrastruktur, kecelakaan lalu lintas menjadi masalah dua sisi.
Tidak bisa hanya menyalahkan pengendara, tetapi juga tidak bisa hanya menyalahkan pemerintah. Keduanya saling terkait dan sama-sama perlu dibenahi.
Siapa yang harus bertanggung jawab? Jawabannya adalah semua pihak.
Pemerintah bertanggung jawab memperbaiki jalan dan fasilitas, sementara masyarakat bertanggung jawab menaati aturan dan menjaga disiplin berkendara. Tanpa kerja sama, masalah ini akan terus berulang.
Keselamatan jalan adalah tanggung jawab bersama. Ia bukan hanya urusan polisi lalu lintas atau dinas perhubungan, tetapi juga setiap individu yang menggunakan jalan.
Dengan kesadaran kolektif, angka kecelakaan bisa ditekan, dan jalan raya bisa menjadi ruang yang lebih aman.
Fenomena ini mengingatkan bahwa kecelakaan lalu lintas bukan sekadar peristiwa, tetapi cerminan budaya berkendara dan kondisi infrastruktur. Selama keduanya belum dibenahi, risiko akan tetap tinggi.
Pada akhirnya, membangun budaya disiplin dan memperbaiki fasilitas jalan adalah dua langkah yang harus berjalan beriringan.
Dengan begitu, keselamatan bukan hanya harapan, tetapi kenyataan yang bisa dirasakan oleh semua pengguna jalan. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama