RADARTUBAN - Ada banyak hal menyebalkan di jalan raya. Dari klakson yang nggak sabaran, knalpot brong yang bikin gendang telinga bergetar, sampai kendaraan belok tanpa sein, seolah jalanan milik keluarganya sendiri.
Tapi, kalau boleh jujur di antara pengguna jalan raya yang menyebalkan tersebut, ada satu jenis pengendara yang levelnya sudah bukan sekadar menyebalkan, melainkan membahayakan, yakni pengendara motor tanpa lampu di malam hari.
Iya, saya sangat gedeg sekali dengan pengendara jenis ini. Entah kenapa mereka ini selalu tampil dengan penuh percaya diri. Seakan baik-baik saja berkendara tanpa lampu di malam hari. Seolah dunia terang-benderang dan semua orang punya mata infra merah. Padahal jelas-jelas sedang malam. Dan tentu saja gelap.
Baca Juga: Francisco Rivera Jadi Kunci Persebaya, Konsistensi Sang Motor Serangan Bajol Ijo Makin Bersinar
Mereka ini Sadar Nggak, Ya?
Sebenarnya semua orang waras akan paham kalau berkendara di malam hari tanpa lampu maka dua hal akan terjadi. Pertama, mereka tidak bisa melihat dengan jelas. Kedua, mereka tidak terlihat oleh orang lain. Alhasil, yang sedang dalam bahaya bukan saja dirinya, tapi juga orang lain.
Nah, dua hal ini kadang saya penasaran, mereka sudah tahu nggak, ya? Kalau memang tahu, kenapa masih dilakukan? Kalau ternyata belum tahu, lantas gimana sudut pandang mereka? Kok bisa nggak sadar kalau ini bahaya?
Saya sering sekali menjumpai pemotor jenis ini. Dan kebanyakan memang nampak tidak bersalah. Apapun itu, saya kadang penasaran saja, sebenarnya apa sih yang kalian pikirkan?
Logika yang Sulit Dipahami dengan Akal Sehat
Saya benar-benar ingin tahu, apa yang ada di kepala pengendara seperti ini. Apakah mereka berpikir, “Ah, saya sudah kelihatan kok” Atau, “Mereka juga sudah kelihatan saya”. Saya tidak paham yang mana.
Bahkan jangan-jangan mereka ini tidak mikir sama sekali? Jangan-jangan lho ini. Sebab, maksud saya, lampu motor itu bukan aksesoris tambahan. Melainkan alat keselamatan paling dasar.
Mungkin mereka merasa memiliki indra keenam atau kemampuan ekolokasi layaknya kelelawar, sehingga merasa sah-sah saja melesat di tengah kegelapan.
Ada semacam egoisme tersembunyi ketika seseorang merasa "yang penting saya bisa melihat jalan," tanpa peduli bahwa bagi pengendara lain, mereka hanyalah bayangan hitam yang tiba-tiba muncul dari balik tikungan.
Padahal, secara teknis, mata manusia butuh waktu untuk beradaptasi dengan perubahan cahaya secara mendadak. Di jalanan yang minim penerangan, keberadaan lampu motor adalah satu-satunya pemberi kepastian di tengah ketidakpastian.
Tanpanya, kalian bukan lagi pengendara, melainkan objek bergerak tak teridentifikasi yang siap memicu reaksi rem mendadak dan kepanikan massal.
Jadi, jika kalian masih menganggap lampu itu sekadar hiasan yang boleh mati tanpa sanksi sosial, mungkin memang ada yang salah dengan cara kalian memandang arti sebuah keselamatan.
Masalah Struktural yang Belum Selesai
Meski demikian, jika mau ditarik lebih jauh, ada satu masalah struktural yang melanggengkan hal ini, yakni lemahnya penegakan hukum.
Iya, entah kenapa polisi kita sering sekali razia helm atau sim, tapi jarang saya lihat ada tindakan tegas buat motor yang lampunya mati. Padahal, motor tanpa lampu di malam hari itu risikonya jauh lebih fatal daripada sekadar suara berisik.
Selain soal tilang-menilang, kita juga punya masalah besar bernama pembiaran kolektif terhadap fasilitas publik. Coba tengok berapa banyak Lampu Penerangan Jalan Umum (PJU) di jalur antarkota yang mati bertahun-tahun dan dibiarkan jadi pajangan besi tua belaka.
Ketika negara absen memberikan penerangan yang layak, dan di saat yang sama polisi menutup mata terhadap motor-motor "gelap", terciptailah ekosistem jalan raya yang liar. Ketegasan hukum seharusnya tidak hanya tajam pada surat-surat administratif, tapi juga pada kelayakan teknis yang menyangkut hidup mati orang banyak.
Jadi, fenomena motor tanpa lampu ini adalah potret buram dari abainya kita terhadap keselamatan bersama.
Selama urusan lampu mati masih dianggap remeh oleh aparat, dan selama pemerintah daerah masih pelit menyalakan lampu jalan, maka nyawa kita akan terus dipertaruhkan di bawah bayang-bayang kegelapan. (*
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni