RADARTUBAN - Di era digital saat ini, semakin banyak konsumen yang menyadari bahwa konten yang pernah mereka akses atau bahkan beli bisa mendadak dihapus oleh pemilik hak cipta.
Ketiadaan akses resmi ini akhirnya memicu hal yang kontradiktif yaitu pembajakan digital (piracy) yang tadinya dianggap pelanggaran hukum semata, kini dipandang oleh banyak orang seolah sebagai satu-satunya cara untuk melestarikan sejarah media.
Banyak orang menganggap media penyimpanan digital bersifat abadi, padahal yang terjadi justru sebaliknya. Pita magnetik seperti kaset VHS rentan mengalami degradasi kimiawi dan oksidasi. Piringan DVD dan Blu-ray menghadapi ancaman pelapukan piringan.
Baca Juga: Tips Yulistia Febriarini Membangun Karir MC: Dari Panggung Desa hingga Branding Digital
Bahkan media penyimpanan modern seperti hard drive atau flash storage memiliki batas usia komponen internal yang relatif pendek.
Satu-satunya cara untuk menyelamatkan karya dari pelapukan fisik adalah dengan melakukan penggandaan ke berbagai lokasi.
Dalam ilmu pengarsipan, jika sebuah karya film hanya memiliki satu kaset salinan dan studio fisiknya terbakar, maka karya tersebut musnah selamanya. Namun, jika salinan film tersebut tersebar di ratusan lokasi yang berbeda, karya tersebut akan tetap bertahan meskipun salinan aslinya rusak.
Di sinilah peran jaringan peer-to-peer (P2P) yang biasa digunakan dalam situs pembajakan menjadi sangat krusial secara teknis. Jaringan P2P tidak menyimpan berkas raksasa di satu server pusat, melainkan menghubungkan antar-pengguna yang menyimpan salinan berkas tersebut (seeders).
Ketika ratusan orang membagikan satu berkas gim atau film jadul dari komputer mereka masing-masing, mereka secara tidak langsung menciptakan sistem pengarsipan terdesentralisasi. Karya tersebut tetap hidup meskipun media fisik aslinya telah rusak atau toko resminya sudah ditutup.
Kondisi layanan streaming film, atau industri game juga sangatlah rumit. Banyak game-game modern yang mewajibkan pemain untuk menyalakan koneksi internet meskipun game yang dimainkan secara perorangan. Hal serupa juga seperti platform streaming film seperti Disney+ atau Netflix.
Demi efisiensi insentif pajak atau penghematan biaya lisensi, perusahaan media bisa menghapus serial buatan mereka sendiri secara mendadak tanpa pernah merilis versi DVD-nya.
Jika tidak ada komunitas internet yang merekam dan membagikan ulang tayangan tersebut di situs pembajakan saat masih tayang, keberadaan karya seni tersebut bisa jadi akan terhapus dari sejarah.
Pada akhirnya, pembajakan yang terjadi di era digital saat ini bukan sekadar persoalan enggan membayar, melainkan respons atas krisis aksesibilitas dan pelestarian suatu media.
Ketika industri media terus menghapus karya demi alasan efisiensi biaya, sistem pembajakan seolah hadir sebagai benteng terakhir yang menjaga agar warisan budaya digital tidak lenyap begitu saja dari memori publik. (*)
Editor : Yudha Satria AditamaSumber : Radar Tuban