RADARTUBAN- Menjelang Pra Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35, ada satu pertanyaan yang layak diajukan: apakah NU dan pesantren masih bergerak dengan spirit yang diwariskan para pendirinya, atau justru mulai terjebak dalam romantisme sejarah?
Pertanyaan ini penting karena perubahan sosial berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan satu abad lalu. Digitalisasi mengubah pola belajar, kecerdasan buatan AI mulai mengambil alih berbagai pekerjaan. Karakter generasi muda pun terus berubah. Sementara polarisasi sosial dan arus disinformasi semakin menguat. Dalam situasi seperti itu, pesantren dituntut tetap menjadi benteng moral sekaligus mampu melahirkan sumber daya manusia yang relevan dengan perkembangan zaman.
Di titik inilah pemikiran KH Abdul Wahab Hasbullah menemukan aktualitasnya. Selama ini Kiai Wahab lebih sering dikenang sebagai salah seorang pendiri Nahdlatul Ulama. Padahal, warisan terbesarnya bukan semata organisasi yang beliau lahirkan, melainkan cara berpikir yang visioner. Beliau mampu memadukan tradisi dan pembaruan, agama dan kebangsaan, ilmu dan organisasi, bahkan dakwah dan ekonomi dalam satu gerakan yang utuh.
Kemampuan membaca perubahan itulah yang menjadikan Kiai Wahab berbeda dari banyak tokoh pada masanya.
Dalam memahami fikih, misalnya, beliau tidak terjebak pada pendekatan yang kaku. Realitas sosial selalu menjadi pertimbangan dalam merumuskan sikap keagamaan tanpa mengorbankan prinsipprinsip akidah maupun ibadah. Dari cara berpikir semacam itu lahir karakter Islam moderat yang hingga kini menjadi identitas Nahdlatul Ulama.
Sayangnya, semangat pembaruan tersebut sering kali dipahami secara keliru. Modernisasi dianggap identik dengan meninggalkan tradisi. Sementara menjaga tradisi dipersepsikan sebagai penolakan terhadap perubahan. Padahal, Kiai Wahab justru menunjukkan jalan tengah: tradisi harus menjadi fondasi bagi lahirnya inovasi.
Pelajaran itu tampak jelas dalam bidang pendidikan. Melalui Nahdlatul Wathan beserta jaringan madrasah yang kemudian berkembang, beliau membuktikan bahwa sistem pendidikan Islam dapat diperbarui tanpa kehilangan akar keilmuannya. Kitab kuning tetap menjadi rujukan utama, tetapi metode pendidikan terus disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.
Spirit inilah yang semestinya kembali dihidupkan ketika pesantren menghadapi tantangan yang semakin kompleks.
Data Education Management Information System (EMIS) Kementerian Agama menunjukkan jumlah santri yang tercatat pada semester ganjil tahun ajaran 2026/2027 mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Terlepas dari perlunya kajian lebih lanjut mengenai penyebab perubahan data tersebut, kondisi ini menjadi alarm bahwa pesantren tidak boleh hanya mengandalkan kebesaran sejarah.
Berbagai persoalan lain juga tidak kalah serius. Kasus kekerasan dan perundungan di lingkungan pendidikan, keterbatasan sarana pembelajaran, meningkatnya persaingan dengan sekolah berbasis teknologi, hingga perubahan preferensi masyarakat terhadap pendidikan modern menuntut adanya pembenahan yang lebih mendasar.
Karena itu, transformasi pesantren tidak cukup dilakukan melalui pembangunan fisik ataupun revisi kurikulum. Yang jauh lebih penting adalah transformasi cara berpikir.
Kitab-kitab klasik seperti Alfiyah, Fathul Mu’in, maupun Tafsir Jalalain tetap menjadi fondasi keilmuan. Namun, santri juga perlu dibekali literasi digital, penguasaan teknologi informasi, bahasa asing, kemampuan komunikasi, kewirausahaan, serta berbagai kecakapan hidup yang dibutuhkan pada abad ke-21. Santri masa depan bukan hanya dituntut memahami teks, tetapi juga mampu membaca konteks.
Warisan pembaruan Kiai Wahab juga tampak dalam bidang ekonomi. Pada 1918 beliau mendirikan Nahdlatut Tujjar, organisasi perdagangan berbentuk koperasi yang menjadi instrumen pemberdayaan masyarakat. Menariknya, keuntungan usaha tidak berhenti sebagai akumulasi modal, melainkan dikembalikan untuk membiayai pendidikan, dakwah, dan pengembangan intelektual melalui Taswirul Afkar.
Konsep ini terasa sangat relevan ketika banyak pesantren masih bergantung pada bantuan eksternal. Pesantren sudah saatnya berkembang sebagai pusat pemberdayaan ekonomi melalui koperasi, usaha mikro, pertanian modern, industri halal, ekonomi digital, hingga inkubator bisnis berbasis santri. Pendidikan yang mandiri hanya dapat lahir dari lembaga yang juga memiliki kemandirian ekonomi.
Hal lain yang patut dipelajari dari Kiai Wahab adalah pandangannya mengenai organisasi. Beliau memahami bahwa perubahan tidak akan lahir dari kerja individu. Karena itu, berbagai organisasi didirikan sebagai instrumen perjuangan, mulai Sarekat Islam Cabang Makkah, Taswirul Afkar, Nahdlatul Wathan, Syubbanul Wathan, hingga Nahdlatut Tujjar. Seluruhnya bermuara pada lahirnya Komite Hijaz yang kemudian menjadi embrio berdirinya Nahdlatul Ulama pada 1926.
Yang menarik, meski menjadi motor utama lahirnya NU, Kiai Wahab tidak mengejar posisi tertinggi. Jabatan Rais Akbar diserahkan kepada KH Hasyim Asy’ari, sedangkan dirinya memilih menjadi Katib Aam Syuriyah. Keteladanan ini menunjukkan bahwa organisasi dibangun bukan untuk memenuhi ambisi pribadi, melainkan sebagai alat pengabdian kepada umat.
Di tengah menguatnya politik identitas dan polarisasi sosial saat ini, pelajaran lain yang diwariskan Kiai Wahab adalah moderasi. Beliau berhasil mempertemukan nilai-nilai keislaman dan nasionalisme tanpa mempertentangkan keduanya. Bagi beliau, agama dan kebangsaan justru saling menguatkan.
Pandangan tersebut menjadi semakin penting ketika masyarakat menghadapi tantangan intoleransi, radikalisme, ujaran kebencian, hingga disinformasi yang menyebar begitu cepat melalui media digital. Moderasi bukanlah sikap yang kehilangan prinsip, melainkan kemampuan menjaga keseimbangan antara keyakinan dan kemaslahatan bersama.
Memasuki era kecerdasan buatan, perjuangan NU tentu tidak lagi sama seperti satu abad silam. Instrumen perjuangan telah berubah. Jika dahulu organisasi, pendidikan, perdagangan, dan diplomasi menjadi alat utama, kini ilmu pengetahuan, teknologi digital, riset, dan AI menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat.
Karena itu, pesantren perlu melahirkan generasi yang tidak hanya menguasai ilmu-ilmu keislaman, tetapi juga mampu memahami perkembangan teknologi, ekonomi global, geopolitik, dan inovasi. Dengan cara itulah pesantren akan tetap menjadi pusat peradaban Islam sekaligus mampu menjawab kebutuhan zaman.
Pra Muktamar NU ke-35 seharusnya menjadi momentum untuk menghidupkan kembali spirit tersebut. Bukan sekadar membahas pergantian kepemimpinan atau program organisasi, tetapi melakukan refleksi mendasar tentang arah masa depan NU dan pesantren.
Sebab, warisan terbesar KH Abdul Wahab Hasbullah bukan hanya berdirinya Nahdlatul Ulama. Warisan yang sesungguhnya adalah keberanian berpikir jauh ke depan, keberanian berinovasi tanpa tercerabut dari tradisi, serta keyakinan bahwa perubahan harus dibangun melalui ilmu, organisasi, kemandirian ekonomi, dan pengabdian.
Jika spirit itu kembali dihidupkan, pesantren akan tetap menjadi pusat lahirnya ulama yang menguasai khazanah klasik sekaligus mampu menjawab tantangan dunia modern. Dan itulah barangkali bentuk penghormatan paling nyata kepada Kiai Wahab: bukan sekadar mengenang namanya, tetapi melanjutkan cara berpikirnya.(*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni