Krisis Adab: Ketika Budaya Birokrasi Pendidikan Melemahkan Kewibawaan Guru

radar tuban digital • Dipublikasikan Minggu, 11 Oktober 2026 | 14:04 WIB
Ditulis oleh: Darju Prasetya (Penulis adalah pemerhati masalah sosial, pendidikan dan kebijakan publik, alumnus UNS Surakarta. Email prasetya58098@gmail.com)
Ditulis oleh: Darju Prasetya (Penulis adalah pemerhati masalah sosial, pendidikan dan kebijakan publik, alumnus UNS Surakarta. Email prasetya58098@gmail.com)

RADARTUBAN - Seorang guru senior pernah berkata kepada saya, "mengajar anak yang tidak pintar itu mudah, yang sulit adalah mengajar anak yang tidak beradab."

Kalimat itu menohok, namun itulah realitas yang kini menghadang dunia pendidikan kita. Kecerdasan intelektual yang rendah masih bisa ditoleransi, masih bisa diasah perlahan.

Namun ketika seorang siswa sudah kehilangan adab—tidak memiliki unggah-ungguh terhadap guru, menolak mendengarkan nasihat, bahkan berani menentang dengan kasar—di situlah letak masalah sesungguhnya.

Baca Juga: Kasus Febrie Adriansyah Diwarnai Perang Buzzer, Pakar Peringatkan Bahaya Deepfake dan Framing Opini

Inilah yang saya sebut sebagai "kebodohan kompleks", sebuah kondisi yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar keterbatasan kognitif.

Fenomena kerusakan adab generasi muda bukan lagi sekadar isu sporadis yang terjadi di satu-dua sekolah. Ini adalah krisis sistemik yang melanda institusi pendidikan kita dari Sabang sampai Merauke.

Setiap hari, guru-guru di lapangan berhadapan dengan siswa yang datang ke sekolah tanpa niat belajar, minat membaca yang sangat rendah, tanpa rasa hormat, dan tanpa kesadaran akan tujuan pendidikan itu sendiri. Mereka hadir secara fisik, namun absen secara mental dan spiritual.

Pertanyaan besarnya: apa yang telah terjadi dengan generasi kita?

Jari-jari kita mungkin terlalu mudah menunjuk pada teknologi. Kehadiran smartphone dan media sosial memang telah mengubah lanskap interaksi sosial secara fundamental.

Anak-anak kini lebih banyak menghabiskan waktu menatap layar daripada menatap mata guru mereka.

Mereka lebih tertarik pada validasi dari likes dan komentar di media sosial ketimbang apresiasi dari pendidik mereka.

Algoritma media sosial yang dirancang untuk memicu dopamin telah menciptakan generasi yang tidak sabar, mudah terdistraksi, dan kehilangan kemampuan untuk mendengarkan dengan sungguh-sungguh.

Namun, teknologi hanyalah salah satu faktor. Pergaulan yang buruk, tanpa filter dan bimbingan yang memadai, turut memperparah kondisi ini. Ketika anak-anak bergaul dengan lingkungan yang tidak menghargai pendidikan, yang menganggap melawan guru sebagai bentuk "keren", maka nilai-nilai destruktif itu akan tertanam dalam diri mereka.

Yang lebih memprihatinkan adalah ketidakpedulian sebagian orang tua terhadap pendidikan karakter anak-anak mereka di rumah. Sekolah bukan pabrik yang bisa mengubah bahan mentah menjadi produk jadi dalam hitungan jam.

Baca Juga: Bukan Sekadar Mengajar, Romo Setyo: Guru Perlu Membiasakan Anak Bertanya dan Menyaring Informasi

Pendidikan adalah proses kolaboratif antara sekolah dan keluarga. Ketika orang tua melepaskan tanggung jawab sepenuhnya kepada sekolah, sementara di rumah tidak ada pembiasaan nilai-nilai kesopanan dan penghormatan, maka jangan heran jika hasilnya adalah generasi yang kehilangan arah.

Ironi paling menyakitkan terjadi ketika guru berusaha mendisiplinkan siswa yang bermasalah. Alih-alih mendapat dukungan dari orang tua, guru justru berhadapan dengan pembelaan membabi buta terhadap anak yang jelas-jelas bersalah.

Orang tua yang seharusnya menjadi mitra dalam mendidik, malah menjadi pengacara yang membela kliennya tanpa melihat fakta.

Pola ini menciptakan generasi yang merasa kebal hukum, yang percaya bahwa apapun kesalahan mereka, akan selalu ada yang membela.

Dalam kondisi seperti ini, guru menjadi pihak yang paling rentan. Mereka bekerja dengan dedikasi tinggi, namun tidak mendapat perlindungan yang memadai. Ketika terjadi konflik dengan siswa atau orang tua, guru seringkali menjadi pihak yang disalahkan.

Kita membutuhkan undang-undang khusus perlindungan guru, bukan untuk membuat mereka kebal kritik, tetapi untuk memastikan bahwa mereka bisa menjalankan tugas mendidik tanpa rasa takut menjadi korban dari kebejatan akhlak yang mereka coba perbaiki.

Namun, tantangan guru tidak berhenti di situ. Bayangkan betapa melelahkan dan menjengkelkan mengajar siswa-siswa yang tidak memiliki motivasi belajar, yang adabnya buruk, dan yang menolak nasihat.

Energi yang seharusnya digunakan untuk mentransfer ilmu, habis untuk mengelola perilaku. Dan ketika guru sudah berjuang mati-matian dalam kondisi seperti itu, mereka justru mendapat tekanan dari sistem birokrasi yang bobrok.

Kepala sekolah yang memerintahkan guru untuk menaikkan nilai siswa yang tidak kompeten adalah contoh nyata dari kerusakan sistem pendidikan kita. Praktik pemberian nilai "abal-abal" ini sangat bertentangan dengan nurani para guru.

Ini bukan hanya soal angka di rapor, tetapi tentang integritas pendidikan itu sendiri.

Ketika siswa yang tidak belajar tetap naik kelas, ketika yang tidak beradab tetap lulus, kita sedang mengirim pesan yang sangat berbahaya: bahwa usaha tidak penting, bahwa proses tidak bermakna, bahwa hasil bisa dimanipulasi.

Baca Juga: Air Zamzam Disebut Bisa Sembuhkan Kanker, Guru Besar UI Beri Penjelasan Ilmiahnya

Akibatnya, siswa semakin meremehkan proses pembelajaran. Mereka berpikir, "untuk apa belajar sungguh-sungguh kalau toh nilainya akan dinaikkan?" Untuk apa menghormati guru kalau toh tidak ada konsekuensi nyata dari perilaku buruk? Sistem yang seharusnya mendidik, justru mengajarkan kemunafikan.

Para guru berada dalam posisi terjepit. Di satu sisi, mereka ingin menjaga standar dan integritas pendidikan.

Di sisi lain, mereka harus tunduk pada tekanan birokrasi yang memaksa mereka berkompromi dengan prinsip. Inilah kerusakan sistemik yang sesungguhnya—bukan hanya soal siswa yang tidak beradab, tetapi tentang sistem yang tidak mendukung guru untuk menegakkan nilai-nilai yang benar.

Kita tidak bisa terus membiarkan kondisi ini. Generasi muda adalah masa depan bangsa, dan jika fondasi adab mereka rapuh, maka rapuh pula masa depan kita.

Sudah saatnya semua pihak—pemerintah, sekolah, orang tua, dan masyarakat—duduk bersama untuk merumuskan solusi komprehensif. Pendidikan bukan hanya soal transfer pengetahuan, tetapi pembentukan karakter. Dan karakter yang baik dimulai dari adab yang benar. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
Sumber : Radar Tuban
toleransi pendidikan guru