TKA 2026 Di Balik Sumpah Pemuda

radar tuban digital • Dipublikasikan Selasa, 27 Oktober 2026 | 08:35 WIB
Ditulis Oleh: Sucipto, S.Pd., MM, (Kepala SMKN 1 Tuban dan Ketua MKKS SMKN Tuban)
Ditulis Oleh: Sucipto, S.Pd., MM, (Kepala SMKN 1 Tuban dan Ketua MKKS SMKN Tuban)

RADARTUBAN - Setiap Oktober, sejarah selalu mengetuk pintu kesadaran bangsa Indonesia.

Kembali diperdengarkan gema Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928: satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa persatuan, Indonesia. Sebuah ikrar yang lahir bukan dari ruang ujian, melainkan dari keberanian anak-anak muda melampaui sekat perbedaan demi masa depan bersama. 

Hampir satu abad kemudian, semangat itu menghadapi tantangan baru. Bukan lagi penjajahan fisik, melainkan ketertinggalan mutu pendidikan, kesenjangan kesempatan, dan ancaman ketika kecerdasan generasi muda direduksi menjadi sekadar angka.

Baca Juga: Cinta Laura Biayai Pendidikan Dua ART, Ingin Mereka Punya Pilihan Masa Depan

Di tengah semangat itulah, pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) SMA dan SMK tahun 2026 patut dibaca lebih jauh daripada sekadar agenda evaluasi pendidikan.

TKA semestinya menjadi cermin untuk melihat kemampuan akademik murid, sekaligus jendela untuk mengintip masa depan pendidikan Indonesia. 

Pertanyaannya, apakah kita sedang membangun generasi yang benar-benar cerdas, atau sekadar menyiapkan generasi yang piawai menaklukkan soal?

Dari Ikrar Persatuan Menuju Keadilan Pendidikan

Sumpah Pemuda mengajarkan bahwa kebesaran bangsa tidak dibangun oleh keseragaman, tetapi oleh persatuan dalam keberagaman. Prinsip ini semestinya hidup pula dalam pelaksanaan TKA. 

Murid SMA dan SMK datang dari latar belakang sosial, ekonomi, geografis, dan kualitas pembelajaran yang tidak selalu setara.

Ada yang belajar dengan dukungan teknologi memadai, ada pula yang harus berjuang di tengah keterbatasan fasilitas dan akses sumber belajar.

Karena itu, hasil TKA tidak boleh dibaca secara serampangan sebagai ukuran tunggal kecerdasan murid atau kualitas sekolah.

Angka yang lahir dari ruang ujian perlu ditempatkan dalam konteks yang adil. Apabila perbedaan fasilitas dan kesempatan belajar diabaikan, evaluasi berisiko berubah menjadi panggung yang mempertontonkan kesenjangan, bukan instrumen untuk memperbaikinya.

Semangat Sumpah Pemuda seharusnya mendorong negara memastikan bahwa setiap anak Indonesia memperoleh kesempatan berkembang, tanpa kehilangan hak untuk dihargai atas potensi dan keunikannya.

Persatuan bukan berarti semua murid harus memiliki capaian identik, melainkan setiap murid berhak mendapatkan jalan yang layak menuju keberhasilan.

Jangan Biarkan Pendidikan Terpenjara oleh Angka

TKA memiliki arti penting apabila digunakan untuk memetakan kemampuan akademik, menemukan kesenjangan pembelajaran, dan merumuskan intervensi pendidikan yang tepat. 

Namun, kita harus waspada ketika hasil evaluasi menjadi tujuan itu sendiri. Sekolah bisa tergoda mengejar skor, guru terdesak menuntaskan latihan soal, sedangkan murid kehilangan ruang untuk bertanya, bereksperimen, berkreasi, dan menemukan makna belajar.

Pendidikan bukan pabrik pencetak angka. Dia adalah taman tempat nalar bertumbuh, karakter berakar, dan keberanian berpikir merdeka berkembang.

Murid yang mampu menjawab soal belum tentu mampu menyelesaikan persoalan kehidupan. 

Sebaliknya, murid yang memiliki kreativitas, keterampilan berkomunikasi, integritas, dan daya juang tidak selalu dapat dijelaskan melalui satu hasil tes.

Di sinilah tantangan pendidikan Indonesia: menjadikan TKA sebagai alat diagnosis, bukan palu penghakiman.

Hasilnya harus ditindaklanjuti dengan perbaikan pembelajaran, penguatan kompetensi guru, pemerataan fasilitas, dan pendampingan murid. Tanpa tindak lanjut, evaluasi hanya akan menjadi ritual administratif yang berulang, sementara persoalan pendidikan tetap berdiam di tempat.

SMA dan SMK, Dua Jalan Menuju Indonesia Bermartabat

Bagi SMA, penguatan kemampuan akademik menjadi bekal penting untuk melanjutkan pendidikan dan mengembangkan pengetahuan.

Bagi SMK, fondasi akademik juga harus berjalan seiring dengan keterampilan vokasional, budaya kerja, kreativitas, serta kemampuan beradaptasi terhadap perubahan teknologi dan kebutuhan dunia kerja.

Baca Juga: Bukan Kekayaan, Indra Priawan Sebut Pendidikan dan Moral Jadi Warisan Terpenting Untuk Anak

Keduanya tidak boleh dipertentangkan. Indonesia membutuhkan ilmuwan, teknisi, guru, wirausahawan, tenaga kesehatan, dan berbagai profesi lain yang saling menguatkan.

Semangat Sumpah Pemuda mengingatkan bahwa perbedaan jalur pendidikan bukan alasan untuk membangun kasta kecerdasan.

TKA perlu mendorong setiap satuan pendidikan memperbaiki mutu tanpa menghilangkan karakter khasnya.

Evaluasi akademik harus menjadi bagian dari ekosistem pembelajaran yang lebih utuh, bukan pengganti penilaian terhadap keterampilan, karakter, dan kemampuan memecahkan masalah nyata.

Menghidupkan Kembali Api Sumpah Pemuda

Pada akhirnya, keberhasilan TKA 2026 tidak cukup diukur dari kelancaran pelaksanaan atau deretan angka hasil tes. Ukuran yang lebih bermakna ialah sejauh mana hasilnya membantu sekolah memahami kebutuhan murid, memperkecil kesenjangan, dan meningkatkan kualitas pembelajaran.

Sumpah Pemuda dahulu menyatukan keberanian generasi muda untuk membayangkan Indonesia yang merdeka. Kini, pendidikan harus menyatukan keberanian untuk membangun Indonesia yang cerdas, adil, dan bermartabat. 

Negara harus hadir melalui kebijakan yang berpihak pada pemerataan kualitas pendidikan; sekolah harus menjadikan hasil evaluasi sebagai bahan pembenahan; guru harus tetap menjadi penuntun nalar dan karakter; sedangkan murid harus memandang ujian sebagai kesempatan bertumbuh, bukan vonis atas masa depan.

Jangan sampai kita begitu sibuk menghitung kecerdasan anak-anak hingga lupa menumbuhkannya. Jangan pula kita merayakan hasil tes, tetapi menutup mata terhadap ruang kelas yang kekurangan fasilitas dan pembelajaran yang belum memerdekakan.

Sebab, hampir seabad setelah Sumpah Pemuda, pertanyaan terbesar kita bukan sekadar berapa nilai yang diperoleh generasi muda, melainkan bangsa seperti apa yang akan mereka bangun dengan pengetahuan yang dimilikinya?

Di ruang ujian, murid mungkin sedang menjawab soal. Namun, di ruang sejarah, sesungguhnya kitalah yang sedang diuji: sanggupkah pendidikan Indonesia mengubah angka menjadi pembelajaran, perbedaan menjadi kekuatan, dan semangat Sumpah Pemuda menjadi masa depan yang benar-benar menjanjikan? (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
Sumber : Radar Tuban
pelajar sumpah pemuda tka generasi