BAGI Nur, dunia anak sangat mengasyikkan. Terbukti, tak terasa dia sudah melakoni aktivitas sebagai guru PAUD Kelompok Belajar Raudhatul Athfal (KBRA) Al-Hidayah Kesamben, Desa Kesamben, Kecamatan Plumbang selama sebelas tahun.
‘’Kalau berhadapan sama mereka (anak-anak, Red) rasanya ngademno ati, itu yang membuat saya betah berkecimpung di dunia anakanak,’’ tutur pria 36 tahun itu.
Menurut Nur, sosok pengajar laki-laki perlu diperkenalkan kepada anak-anak sejak usia dini. Dia terang-terangan menyebut kehadiran figur laki-laki di lingkungan PAUD lebih membantu tumbuh kembang psikologi anak.
Salah satu bukti totalitas Nur dengan dunia anak ditunjukkan dengan menjadi pendongeng anak. Bagaimana alumni MAN Rengel itu terjun pendongeng anak? Nur mengungkapkan, bermula dari perkumpulan guru di Plumpang yang merekomendasikan dirinya mewakili kecamatan setempat dalam lomba mendongeng tingkat kabupaten pada 2016 silam.
‘’Sempat ragu, apa saya mampu membawakan sebuah cerita secara menarik, mengingat saya belum punya pengalaman mendongeng,’’ ujar pendidik berkacamata itu.
Dia yang suka mencoba hal-hal baru akhirnya menerima tantangan tersebut. Nur juga bertanggung jawab penuh terhadap kepercayaan yang diberikan. Itu ditunjukkan dengan menulis cerita sendiri dan tentu saja giat berlatih.
Di tengah persiapan mengikuti lomba mendongeng, pendidik PAUD asal Desa Kesamben, Keca matan Plumpang itu menyadari dirinya membutuhkan keunikan yang tidak dimiliki peserta lainnya.
Setelah melalui perenungan, muncul ide membuat sebuah boneka sebagai properti bercerita. Boneka tersebut kemudian diberi nama Kemol. Sosok Kemol adalah orang utan berwarna hitam. Boneka inilah yang selalu dibawa Nur setiap kali mendongeng.
‘’Nama Kemol terlintas saja di kepala, tidak ada mak na khusus di dalamnya,’’ tuturnya.
Belakangan Nur merasa nama itu bisa diplesetkan menjadi guyonan untuk anak-anak. Sosok Kemol berdampak besar pada poin penilaian juri. Dia pun ditahbiskan sebagai juara.
Semenjak itu, Nur sering diundang mendongeng di berbagai acara. Juga kerap memenangi berbagai lomba mendongeng. Bahkan, pada akhir 2022, Nur mewakili Tuban dalam lomba mendongeng tingkat provinsi.
Karena sering tampil, sosok boneka Kemol pun semakin terkenal di kalangan anak TK dan PAUD.
‘’Anak-anak sudah menganggap Kemol sebagai anak saya,’’ ujarnya kemudian tertawa lepas.
Nur mengaku kehadiran Kemol membuat anak-anak semakin tertarik mendengarkan dongeng. Apalagi, Kemol adalah wujud binatang yang selama ini sangat disukai si buyung dan upik.
Selain Kemol, Nur juga memiliki properti boneka lainnya seperti anak kecil, bebek, anjing, dan lainnya.
‘’Untuk variasi aja, jaga-jaga kalau anak bosan dengan karakter Kemol,’’ ujarnya.
Variasi suara menjadi kesulitan utama Nur selama mendongeng. Dalam sebuah cerita tak jarang tiga sampai empat tokoh atau karakter diperankannya. Semua memerlukan suara yang berbeda. Misalnya suara sosok ayah, ibu, Kemol, dan anak kecil.
Kepada wartawan koran ini, Nur mengaku sering salah mengucapkan suara, namun dia segera menutupi kesalahannya dengan improvisasi narasi. Selain harus memiliki variasi suara, kata Nur, pendongeng anak perlu menyinkronkan gerak boneka dengan dialog.
Profesionalitas Nur dalam mendongeng membuatnya dijuluki sebagai Kak Nur pendongeng. Sebulan, rata-rata Nur mendapat 30 kali job mendongeng.
‘’Pernah tiga acara dalam sehari, suara saya sampai habis,’’ kata dia.
Nur mengatakan, mendongeng penting bagi tumbuh kembang anak. Cerita-cerita yang disampaikan mengandung unsur-unsur teladan, sehingga bisa mengajarkan anak-anak tentang nilai-nilai kebaikan.
Menurut dia, mendongeng juga bisa mengenalkan berbagai tipe pembelajaran yang bukan hanya diperoleh melalui bacaan, namun juga melalui audio visual. Sering bertemu anak-anak, justru menjadi inspirasi bagi Nur untuk membuat cerita baru.
‘’Jadi judul cerita sering saya dapatkan dari anak-anak dan nantinya akan saya persembahkan untuk mereka kembali kembali,’’ terangnya.
Kepolosan, keikhlasan, kegembiraan, dan kasih sayang yang dipancarkan anak-anak juga membuat Nur merasa kaan hal yang sama.
‘’Saya belajar banyak dari anak-anak. Mereka adalah guru kehidupan saya,’’ ujarnya berfilosofi.
Pengalamannya sebagai guru PAUD juga membuat Nur dipercaya sebagai pembicara pada acara parenting.
‘’Saya banyak mengamati dan belajar tentang anak secara langsung, hampir setiap hari,’’ ujar pendidik yang kini menempuh Pendidikan Manajemen di Universitas Terbuka Babat itu. (alf/ds) Editor : Amin Fauzie