RADARTUBAN-Banyaknya kasus bullying atau perundungan di tanah air salah satunya dipicu dari tidak tertanamnya pemahaman tentang konsep toleransi terhadap pihak yang berbeda atau berseberangan.
Kondisi mental anak inilah yang dikupas psikolog anak dan keluarga Maharani Ardi Putri.
Dikutip dari Antara, Rabu (4/10), Putri mengungkapkan, pelaku perundungan cenderung melakukan hal yang agresif dan merugikan orang lain.
Bahkan, mereka berani menentang hukum karena dia memiliki nilai yang salah untuk diikuti.
Dia menjelaskan, pembentukan perilaku anak didasarkan oleh banyak faktor.
Pola orang tua dalam mendidik dan menanamkan nilai pada anak-anaknya juga penting, tetapi perlu diingat bahwa bagaimana pun anak-anak punya proses kehidupannya sendiri.
Begitu pentingnya penanaman pemahaman tentang konsep toleransi kepada anak, Putri menyarankan kepada orang tua untuk memberikan penanaman nilai yang dianut sang buah hati.
‘’Jangan sampai nilai yang ditanamkan terdistorsi, sehingga perbuatan buruk yang dia lakukan dianggap sebagai suatu kebaikan,’’ ujar dosen Fakultas Psikologi Universitas Pancasila itu.
Dia mengatakan, seorang anak yang memasuki usia remaja hingga dewasa, mereka akan mencari jalan hidupnya sendiri. Karena itulah, pengalaman si anak yang didapatkan ketika bertemu orang-orang yang berbeda pandangan atau perspektif, akan ikut menentukan orientasi hidup dari anak itu sendiri.
‘’Seorang anak akan mengikuti pandangan yang dirasa sesuai dengan apa yang dia yakini," ujarnya.
Dosen Fakultas Psikologi Universitas Pancasila Jakarta itu menyebut pada usia remaja, anak juga sudah menentukan apakah dia lebih percaya pada lingkungan sosialnya yang baru, ataukah pada keluarganya sendiri.
"Pada akhirnya, semua orang akan mengembangkan nilainya masing-masing, walaupun kebanyakan anak akan mengadopsi sebagian besar nilai yang sama dengan milik orang tua mereka,’’ ujarnya.
Terkadang, lanjut Putri, anak-anak menerima aliran atau perspektif yang berseberangan dengan apa yang ditanamkan oleh orang tuanya. Dalam prosesnya bisa jadi mereka justru kembali pada original nilai asli keluarganya.
Kepala Biro Humas dan Ventura Universitas Pancasila Jakarta itu menggarisbawahi kebanyakan guru atau tenaga pendidik di Indonesia seringkali terburu-buru untuk melihat anak didiknya punya perilaku yang agamis.
Hal tersebut menyebabkan anak lebih banyak dikemas oleh aspek ritual semata, seperti cara berpakaian, sikap yang terlihat santun, tetapi pemahaman agamanya sangat dangkal.
Bahkan, dia membeberkan fakta masih ada guru yang memaksakan persepsinya terhadap agama yang diyakini. Beberapa sekolah juga masih menitikberatkan pada perspektif agama saja.
Contohnya, ketika anak di usia remaja berbicara tentang pacaran, seringkali ditanggapi bahwa perbuatan itu dosa, tanpa diberikan pemahaman dari sudut pandang yang lebih mudah untuk dicerna para remaja.
Menurut dia, persoalan pahala dan dosa adalah hal yang abstrak. Karena itu, perlu diimbangi dengan pendekatan akademis dan logis agar mudah mengajak dan membentuk karakter anak-anak menjadi lebih baik.
Putri mengatakan, ketika penjelasan orang tua atau guru sulit diterima anak, mereka cenderung malas mengikuti ajakan yang baik tersebut.
‘’Ajakan orang tua atau guru kepada anak untuk beribadah dengan lebih giat tentu tidak salah, namun perlu diingat bahwa anak harus merasa dilibatkan dan tidak hanya seperti diperintah saja,’’ tegasnya.(ds)