Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Orang Tua Harus Mengedukasi Seksual Anak Remajanya, Psikolog: Hindari Tipu Daya Pelaku Kejahatan Seksual

Dwi Setiyawan • Minggu, 29 Oktober 2023 | 15:21 WIB
Photo
Photo

RADARTUBAN-Orang tua harus menjadi guru pertama bagi anak-anaknya yang mulai beranjak remaja. Termasuk memberikan edukasi terkait tubuh dan seksualitas. Kalau tidak, anak remaja bisa mencari-cari dari sumber yang tidak terpercaya dan justru dapat membahayakan.

Kekhawatiran tersebut disampaikan pakar psikologi dan seksologi klinis Zoya Amirin. 

“Lebih baik anak tahu pertama kali dari orang tua, sehingga apabila anak masih penasaran, orang tua bisa mengajak anaknya mencari tahu berdua,” kata Zoya di sela acara Breast Cancer Awareness Month 2023 di Jakarta, Sabtu (28/10), dilansir dari Antara.

Dia mengatakan, memberikan pengetahuan mengenai tubuh dan organ reproduksi kepada anak remaja membuat mereka memahami tubuhnya sendiri, sehingga dapat mengenali apabila ada kejanggalan pada tubuhnya. 

Zoya juga mengungkapkan pentingnya orang tua menjelaskan apa yang terjadi pada tubuh remaja yang memasuki usia pubertas dan konsekuensi aktivitas seksual yang bisa berdampak pada mereka.

Dengan demikian, anak remaja dapat menjaga dirinya dengan lebih baik dan mengenyahkan tipu daya pelaku kejahatan seksual.

Tentu saja, juga dapat menghindari miskonsepsi bahwa kehamilan muncul hanya sebagai konsekuensi pernikahan dan bukan konsekuensi hubungan seksual, sebagaimana yang kerap terjadi di masyarakat.

‘’Dalam mengedukasi anak remajanya, orang tua patut menggunakan bahasa yang lugas dan tidak menggunakan eufemisme terkait organ reproduksi,’’ praktisi kesehatan jiwa yang kini menempuh pascasarjana psikologi klinis dewasa Universitas Indonesia itu. 

Misalkan, ungkap Zoya, orang tua tidak perlu menyebut burung sebagai pengganti kata penis atau bunga sebagai pengganti kata vagina. Menurut dia, hal tersebut justru dapat membuat kebingungan dan meneruskan tabu yang tidak perlu.

Dia juga mengingatkan, anak remaja penting mengetahui nama sesungguhnya dari organ dan bagian tubuh yang mereka miliki.

“Jangan pula dijelaskan kalau sudah menstruasi berarti sudah bisa nakal atau bisa macam-macam, tapi jelaskan kalau sudah menstruasi, artinya sudah bisa dihamili laki-laki ketika ada penetrasi seksual,” kata Zoya.(ds)

Editor : Kifani Amalija Putri
#edukasi #kejahatan seksual #seksualitas #organ reproduksi