RADARTUBAN - Viral video dua siswa dibiarkan duel di lapangan sekolah, karena berkelahi jadi tontonan satu sekolah.
Dalam video yang beredar yang diunggah oleh akun X @folkshittmedia berdurasi 23 detik memperlihatkan dua orang murid sedang berduel di lapangan.
Perkelahian dua murid tersebut juga terlihat diawasi oleh sang guru yang bertindak seperti seolah-olah wasitnya.
Kemudian yang lebih mengejutkan adalah para siswa lainnya terlihat penasaran menyaksikan duel tersebut, ada yang dari lantai 2 dan 3 banyak sekali siswa yang berkerumun.
Dugaan sementara guru membiarkan muridnya dibiarkan berduel di lapangan adalah karena bentuk hukuman dari siswa tersebut sedang berkelahi jadi dibiarkan mereka berkelahi.
Guru yang membiarkannya berkelahi disebut merupakan Guru Bimbingan Konseling (BK).
Guru BK tersebut membiarkannya berkelahi karena takut kena masalah.
Karena belakangan ini banyak sekali guru yang kena masalah setelah menghukum muridnya.
Dan kejadian ini disebut terjadi di Bandung,
Warganet yang melihat kejadian ini cukup heran dengan guru yang memberikan hukuman disuruh berduel.
“Bjir aneh aja dah skrg tinggal dipisahin kan bukan salah gurunya,” kata warganet
“Malah jadi bahan tontonan itu sama murid lain” ujar warganet lainnya.
“Bagus, biar kedepannya pada mikir2 lagi kalo mau berantem berarti harus siap ditonton” ujar lainnya.
“Serba salah sih jadi guru” ujar lainnya
“Gurunya bertindak juga dilaporkan ke polisi jaman sekarang dan kalau sampai dipenjara/dipecat gimana nanti nasib keluarga gurunya, serba salah jadi guru sekarang” ujar warganet.
“Kalo dengan "hukum" yang sekarang, ini langkah terbaik sih. Daripada nekat ngelerai malah ujung-ujungnya dikriminalisasi, mending nonton aja sambil kumpulkan saksi yang banyak” ucap lainnya
Dua siswa SMA 2 Abiansemal terlibat masalah. Guru Bimbingan dan Konseling (BK) sekolah ini berupaya mendamaikan mereka.
Namun dua siswa itu ngotot ingin tarung bebas. Guru BK pun habis kesabaran lalu membiarkan mereka duel di lapangan
Sekolah yang berlokasi di Desa Sedang, Abiansemal Badung ini menjadi pembicaraan. Penggalan video beredar di media sosial. Dua siswa berkelahi di lapangan, sedangkan siswa lainnya menonton langsung.
Peristiwa ini terjadi Senin 4 November 2024. Siang itu, guru BK mengumumkan kepada seluruh siswa melalui pengeras suara untuk menyaksikan atau menonton langsung tarung bebas tersebut.
“Jadi kemarin yang ribut itu kelas tiga dan kelas dua. Kebetulan anak saya sekolah di sana, dia yang menceritakan,” ujar orangtua siswa yang meminta namanya tidak disebutkan, Selasa (5/11).
Ia menyayangkan sikap guru BK tersebut. Saat mereka dua siwa itu beradu jotos, kemudian datang beberapa guru untuk melerai. Siswa lainnya riuh menonton, ada yang menonton di lapangan, ada juga yang menonton dari lantai dua gedung sekolah.
Ia mengatakan, kasus ini seharusnya menjadi perhatian Dinas Pendidikan Bali. Harus ada evaluasi dalam hal pembinaan guru maupun penanganan masalah kekerasan antar siswa. Jika dibiarkan, maka berdampak pada perkembangan karakter siswa.
Sementara itu, Kepala Sekolah SMA 2 Abiansemal, I Made Suardana mengakui ada kesalahan yang dilakukan guru BK di sekolahnya. “Masalahnya sudah selesai. Kemarin langsung Dinas Pendidikan datang ke sekolah,” ujarnya.
Berharap kejadian ini tak terulang kembali. Ia tegaskan sekolah adalah tempat belajar bukan ajang perkelahian. Suardana mengaku sudah memarahi guru BK tersebut. “Kami selesaikan masalahnya secara kekeluargaan. Kedua orangtua juga sudah kami hadirkan,” ucapnya.
Ia tak menjelaskan rinci alasan guru BK itu mengumumkan perkelahian dua siswa ini. “Kami berharap agar tidak berkepanjangan. Kasihan sekolah, apalagi masalahnya sudah selesai,” imbuhnya.
Kepala Bidang Pembinaan SMA Disdikpora Bali, Ngurah Pasek Wira Kusuma mengatakan, kasus di SMA 2 Abiansemal sudah berujung damai. Ia minta masalah ini tak usah diperpanjang dan jangan diviralkan lagi.
“Di video yang saat ini sudah beredar, dari media yang sudah disebar, kami berharap karena sudah ada titik perdamaian agar tidak ditindaklanjuti, tidak diviralkan. Seperti itu harapan kami,” jelas dia.
“Menurut saya dengan ada pertemuan antara siswa yang bersangkutan dan orangtua yang sudah disaksikan oleh guru-guru, saya harap itu sudah selesai. Besok ada kunjungan dari DPS, mari tekankan rambu-rambu sehingga tidak ada hal seperti ini,” paparnya.
Dia mengakui memang ada kesalahan dari guru BK yang membiarkan perkelahian ini terjadi. Bagaimanapun alasannya, ia menyayangkan sikap yang diambil guru BK tersebut. Seharusnya guru bisa mengendalikan emosinya.
“Di informasi ini ya, yang diinfokan dari Kepala Sekolah memang benar seperti yang kami sampaikan di awal. Karena ada rasa menjaga emosi dari seorang guru selaku pendidik seharusnya bisa menahan diri," katanya.
"Tapi yang namanya manusia punya batas-batas. Kesabarannya hampir habis ketika anak ini sudah dikasih tahu, sudah dipanggil, sudah dilerai, sudah dikasih perdamaian tidak mau juga,” sambung dia.
Disdikpora Bali telah memberikan teguran lisan. Kata dia, ini kejadian langka dan baru terjadi pertama kali. “Untuk sampai ke hal yg lebih mendalam pasti kami koordinasikan lebih awal, agar tidak sepihak," kata dia.
"Tidak ada (belum pernah terjadi hal ini). Bahkan kami berharap karena sudah sering kami melakukan koordinasi, sosialisasi, tidak ada lagi hal seperti itu,” demikian sambungnya. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama