Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Lubang Ozon di Antarktika Mengecil, Berpotensi Kembali Pulih Sepenuhnya pada 2066

Bihan Mokodompit • Kamis, 13 Maret 2025 | 20:05 WIB
Lubang Ozon di Antarktika Mengecil
Lubang Ozon di Antarktika Mengecil

RADARTUBAN - Lubang ozon di Antarktika mengecil pada akhir 2024. Para ilmuwan bahkan memproyeksikan bahwa lapisan ozon bisa kembali pulih sepenuhnya seperti kondisi sebelum 1980, dengan perkiraan pemulihan total pada tahun 2066.

 

Menurut laman IFL Science yang dikutip pada Rabu (12/3), lapisan ozon merupakan bagian dari stratosfer yang berada di ketinggian 15 hingga 30 kilometer di atas permukaan bumi.

Wilayah ini memiliki konsentrasi gas ozon yang lebih tinggi dibandingkan bagian atmosfer lainnya.

Lapisan ini berfungsi sebagai pelindung alami yang menyerap mayoritas sinar ultraviolet (UV) berbahaya dari matahari.

Tanpa lapisan ozon, radiasi UV bisa mencapai permukaan bumi dalam jumlah besar dan meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan serta merusak ekosistem.

Namun, sejak 1980-an, muncul lubang ozon yang diakibatkan oleh bahan kimia buatan manusia, terutama chlorofluorocarbons (CFC).

 

CFC banyak digunakan dalam berbagai produk, seperti semprotan aerosol, pelarut industri, serta pendingin ruangan pada AC dan kulkas.

Ketika CFC naik ke stratosfer dan terkena paparan sinar UV, zat ini melepaskan klorin, yang kemudian bereaksi dengan molekul ozon dan menyebabkan kerusakan.

Meskipun lubang ozon muncul secara musiman, ukurannya bervariasi setiap tahun. Pada Agustus 2024, lubang ozon mulai terbentuk seiring datangnya musim panas dan mencapai ukuran maksimal pada Oktober 2024.

Namun, memasuki November 2024, lubang ini mulai mengecil kembali.

Berdasarkan laporan dari Copernicus Atmosphere Monitoring Service (CAMS), pembentukan lubang ozon di Antarktika pada 2024 terjadi lebih lambat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Salah satu penyebabnya adalah pemanasan mendadak di lapisan stratosfer pada Juli 2024. Fenomena ini dipicu oleh gelombang atmosfer yang memanaskan udara di stratosfer, sehingga memperlambat reaksi kimia yang merusak ozon.

Akibatnya, lubang ozon tahun ini berukuran lebih kecil dibandingkan sebelumnya.

Meski begitu, beberapa wilayah di Antarktika tetap mengalami suhu yang lebih tinggi dari biasanya.

 

Studi yang diterbitkan dalam jurnal Nature pada 5 Maret 2025 mengonfirmasi tren positif dalam pemulihan lapisan ozon.

Penelitian yang melibatkan sejumlah ilmuwan dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) menggunakan metode analisis “fingerprint” atau “sidik jari” yang dikembangkan oleh Klaus Hasselmann.

Dengan metode ini, tim peneliti melakukan simulasi dan menganalisis data satelit sejak 2005.

Mereka menemukan bahwa pola pemulihan ozon semakin terlihat dari waktu ke waktu. Bahkan, pada 2018, pola ini mencapai titik terkuatnya.

Tim peneliti meyakini dengan tingkat kepastian 95 persen bahwa pemulihan lapisan ozon ini terutama disebabkan oleh penurunan jumlah zat perusak ozon di atmosfer.

Penurunan ini merupakan dampak positif dari Protokol Montreal, perjanjian internasional yang ditandatangani pada 1987 untuk menghentikan produksi dan penggunaan zat perusak ozon.

Jika tren ini terus berlanjut, para ilmuwan memperkirakan lubang ozon dapat tertutup secara permanen di masa depan.

 

Mengutip laporan National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) pada Rabu (12/3), ilmuwan pertama kali menemukan lubang ozon di atas Antarktika pada 1985.

Fenomena ini terdeteksi saat Australia memasuki musim semi, sekitar September hingga Desember tahun tersebut.

Penipisan lapisan ozon secara musiman ini memungkinkan sinar matahari langsung menembus ke permukaan bumi tanpa banyak hambatan.

Pada 1986, tim peneliti dari NOAA melakukan ekspedisi ke Antarktika untuk mengumpulkan bukti. Mereka segera mengonfirmasi bahwa senyawa CFC adalah faktor utama yang menyebabkan lubang ozon.

Penemuan ini mendorong negara-negara di dunia untuk segera bertindak. Setahun kemudian, pada 1987, Protokol Montreal ditandatangani oleh berbagai negara guna melarang produksi dan penggunaan zat yang berkontribusi terhadap perusakan lapisan ozon, termasuk CFC.

Seiring berjalannya waktu, konsentrasi zat kimia perusak ozon terus mengalami penurunan di atmosfer.

 

Keberhasilan Protokol Montreal dalam membatasi penggunaan zat perusak ozon telah memberikan dampak nyata terhadap pemulihan lapisan ozon.

Walaupun proses pemulihan ini membutuhkan waktu panjang, tren positif terus terlihat dari tahun ke tahun.

Jika pengurangan zat kimia berbahaya tetap berlanjut dan sidik jari pemulihan ozon semakin kuat, lubang ozon di Antarktika diperkirakan akan tertutup sepenuhnya pada 2066. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#mengecil #lubang ozon di antarktika #1980 #kembali pulih #lapisan ozon