Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Siswa SMK Pelayaran Muhammadiyah Tuban Dikeroyok Puluhan Seniornya, Bullying Kembali Terjadi

M. Mahfudz Muntaha • Rabu, 19 Maret 2025 | 18:28 WIB

 

Photo
Photo

RADARTUBAN – Dunia pendidikan Tuban mendadak diramaikan dengan laporan dugaan kekerasan di SMK Pelayaran Muhammadiyah Tuban yang dilakukan oleh puluhan siswa terhadap juniornya.

Kejadian dugaan pengeroyokan itu berlangsung September tahun lalu.

Dari yang awalnya oleh pihak sekolah dan keluarga para korban dianggap selesai, tiba-tiba kasus ini kembali dilaporkan ke polisi.

Namun, bukan keluarga korban yang melaporkan. Melainkan mantan kakak ipar dari salah satu korban.

‘’Ada delapan siswa dikeroyok 30 seniornya. Bayangkan, berapa pukulan yang mendarat di tubuh adik saya. Makanya, sekarang korban sering mengeluhkan sakit di sekitar perut dan dada, hingga trauma—jarang masuk sekolah,’’ ujar Bobby Novan, mantan kakak ipar salah satu korban usasi melaporkan kasus tersebut ke polisi tapi ditolak lantaran dianggap bukan lagi keluarga korban.

Kenapa baru sekarang melapor? Padahal kejadian sudah berlangsung tahun lalu. Dia mengaku baru mendapat laporan dari korban pada Februari lalu.

Dari kejadian pengeroyokan tersebut, Bobby menuding ada kemungkinan aksi pengeroyokan tersebut atas perintah gurunya.

‘’Bagaimana bisa 30 anak bisa serentak melakukan pemukulan, sehingga timbul pertanyaan pada diri saya, apa ini perintah guru atau inisiatif mereka sendiri. Bila ini perintah guru saya tak segan-segan untuk mempidanakan,’’ katanya.

Menanggapi laporan tersebut, Staf Wakil Kesiswaan SMK Pelayaran Muhammadiyah Tuban M. Annur Rosyid membenarkan adanya aksi pemukulan yang dilakukan oleh puluhan siswa kelas XII terhadap delapan siswa kelas X tersebut.

Dia mengungkapkan bahwa kejadian itu berlangsung pada September 2024 lalu.

Hanya saja, tegas Rosyid, kejadian pengeroyokan itu tidak seperti yang disebutkan oleh pelapor.

Dipaparkan dia, dalam kejadian itu hanya melibatkan 24 anak: 16 pelaku dan delapan korban.

‘’Masalah ini juga sudah tujuh bulan lalu, dan masalah ini sudah kami tangani dan dianggap telah selesai,’’ ujarnya.

Karena itu, pihak sekolah mengaku terkejut dengan munculnya laporan dugaan pengeroyokan tersebut.

Terlebih, si pelapor dengan korban yang merupakan adik iparnya itu sudah tidak ada hubungan keluarga.

‘’Tidak tahu kronologi dan duduk masalahnya seperti apa, tiba-tiba langsung menyebar,’’ bebernya.

Bahkan, lanjut Rosyid, orang tua dari korban juga sudah meminta agar masalah ini tidak lagi diungkit-ungkit.

‘’Masalah ini sudah lama selesai. Bahkan, kemarin ibu dan kakak perempuannya (korban, Red) sudah datang ke sekolah untuk meminta maaf karena mantan keluarga (si pelapor) mengungkit masalah ini yang sebenarnya sudah selesai,’’ jelasnya.

Apalagi, tambah Rosyid, mantan kakak ipar korban menyebutkan bahwa pemukulan itu dilakukan atas perintah guru.

‘’Bagaimana bisa seorang guru yang mengajak untuk melakukan tindakan kekerasan, ini sudah tidak masuk akal. Selain itu, kalau memang orang tua tidak terima pasti sudah memperkarakan,’’ pungkasnya. 

Terpisah, mewakili pihak keluarga korban, Imam Syafi’i menyatakan bahwa peristiwa pemukulan itu sudah dianggap selesai.

Baik pelaku maupun korban sudah berdamai dan sudah sepakat tidak mengungkit masalah ini lagi.

‘’Dari pihak keluarga sudah datang ke sekolah untuk meminta maaf karena sudah membuat kegaduhan dengan mencuatnya masalah ini,’’ terang kakak kandung korban itu.

Syafi’i memastikan bahwa pelapor sudah tidak ada hubungan keluarga dengan pihak korban.

‘’Berita itu kurang valid, sehingga terjadi kesalahpahaman, karena Mas Bobby (palpor) juga tidak tahu menahu masalah ini, sehingga tidak perlu ditanggapi,’’ tandasnya. (fud/tok)

 

 

 

 

Editor : Yudha Satria Aditama
#dikeroyok #SMK Pelayaran Muhammadiyah #bullying #siswa #junior