Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Hardiknas 2025, Beginilah Sejarah Pendidikan di Indonesia yang Wajib Kamu Ketahui

Shafa Dina Hayuning Mentari • Jumat, 2 Mei 2025 | 18:24 WIB
Peringatan Hardiknas 2025, berikut sejarah singkat pendidikan di Indonesia.
Peringatan Hardiknas 2025, berikut sejarah singkat pendidikan di Indonesia.

RADARTUBAN Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) diperingati setiap 2 Mei di Indonesia. Penetapan tanggal ini bukan tanpa alasan.

Tanggal 2 Mei dipilih untuk mengenang hari lahir Ki Hadjar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional.

Hardiknas ditetapkan melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 316 Tahun 1959. Tanggal ini bertepatan dengan hari lahir Ki Hadjar Dewantara, tokoh pelopor pendidikan bagi kaum pribumi di era kolonial.

Ki Hadjar Dewantara dikenal dengan semboyan yang dijadikan salah satu jargon dalam dunia pendidikan era sekarang ini: Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.

Artinya, di depan memberi teladan, di tengah membangun semangat, di belakang memberi dorongan.

Filosofi ini masih digunakan dalam sistem pendidikan Indonesia hingga kini, bahkan menjadi semboyan resmi Kementerian Pendidikan.

Sebelumnya, sejarah pendidikan di Indonesia memiliki perjalanan panjang yang penuh dengan perubahan sosial, politik, dan budaya.

Pada masa kolonial, pendidikan di Indonesia hanya terbuka untuk kalangan tertentu, terutama golongan Eropa dan kalangan ningrat.

Sekolah-sekolah yang ada pada waktu itu menggunakan bahasa Belanda, dan hanya diperuntukkan bagi segelintir orang dari kalangan atas.

Meski begitu, ada juga beberapa sekolah yang dibuka untuk pribumi, seperti Sekolah Rakyat (SR), yang lebih banyak diakses oleh kalangan priyayi atau elit lokal.

Namun, perubahan besar terjadi dengan hadirnya Ki Hajar Dewantara, yang dikenal sebagai Bapak Pendidikan Nasional.

Pada tahun 1922, beliau mendirikan Taman Siswa, sebuah lembaga pendidikan yang bertujuan untuk memberikan pendidikan yang sesuai dengan budaya dan karakter bangsa Indonesia.

Setelah kemerdekaan Indonesia, pendidikan menjadi salah satu aspek yang sangat penting dalam pembangunan negara.

Pada tahun 1945, dalam Undang-Undang Dasar 1945, pendidikan diatur dalam pasal 31 yang menyatakan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan.

Hal ini mencerminkan komitmen negara untuk membangun sumber daya manusia yang berkualitas.

Pendidikan menjadi salah satu instrumen utama untuk menciptakan kesadaran nasional dan membangun identitas bangsa.

Pada era Orde Baru, pendidikan Indonesia mengalami perubahan yang signifikan. Salah satu kebijakan yang diperkenalkan adalah program wajib belajar enam tahun pada tahun 1984, yang bertujuan untuk memastikan setiap anak di Indonesia mendapatkan pendidikan dasar.

Sistem pendidikan di bawah rezim Orde Baru sangat terpusat, dengan kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah pusat untuk menjamin pemerataan pendidikan di seluruh wilayah Indonesia.

Perkembangan pendidikan Indonesia semakin inklusif dengan adanya berbagai kebijakan yang membuka akses pendidikan bagi semua lapisan masyarakat, termasuk mereka yang memiliki kebutuhan khusus.

Pada tahun 2003, Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) diundangkan, mengatur berbagai aspek pendidikan, salah satunya adalah pendidikan bagi penyandang disabilitas, yang sebelumnya sering terabaikan.

Masuk ke era digital, pendidikan di Indonesia semakin terdorong untuk beradaptasi dengan teknologi.

Pandemi COVID-19 menjadi momentum percepatan dalam adopsi pembelajaran daring.

Meskipun tantangan besar muncul dalam transisi ini, pandemi juga membuka peluang bagi pemerataan akses pendidikan ke daerah-daerah terpencil yang sebelumnya sulit dijangkau.

Pemerintah bersama dengan berbagai pihak terus berupaya untuk mengembangkan teknologi pendidikan yang lebih baik, dengan harapan dapat meningkatkan kualitas pendidikan di seluruh Indonesia.

Sejarah pendidikan Indonesia adalah cerita tentang transformasi yang berkelanjutan, seiring dengan tantangan dan kebutuhan zaman.

Dengan komitmen yang terus berkembang, pendidikan di Indonesia kini menjadi salah satu pilar utama dalam membangun masa depan bangsa yang lebih cerah.

Pada tahun 2025, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menetapkan tema Hardiknas sebagai Partisipasi Semesta Wujudkan Pendidikan Bermutu Untuk Semua.

Tema ini menekankan pentingnya kolaborasi dan kesinambungan dalam transformasi pendidikan nasional.

Peringatan Hardiknas setiap tahunnya dilakukan serentak di seluruh Indonesia. Biasanya, perayaan ini diisi dengan upacara bendera, kegiatan edukatif, lomba, dan seminar pendidikan yang melibatkan pelajar, guru, dan masyarakat umum.

Meski diperingati secara luas, Hardiknas bukan termasuk hari libur nasional.

Kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung, namun sering kali disisipkan dengan agenda khusus untuk memperingati momen penting ini.

Hardiknas menjadi simbol semangat pendidikan untuk semua. 

Dia menjadi momentum refleksi terhadap kualitas pendidikan di Indonesia. Semangat Hardiknas tidak hanya milik guru dan pelajar, tetapi juga masyarakat luas sebagai bagian dari ekosistem pendidikan.

Hari Pendidikan Nasional bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan pengingat akan pentingnya akses pendidikan yang merata dan berkualitas bagi seluruh rakyat Indonesia.

Dengan semangat Merdeka Belajar, diharapkan pendidikan Indonesia bisa terus berkembang dan relevan dengan tantangan zaman. (saf/yud)

Fakta Menarik Pendidikan di Indonesia

1. Asal-Usul Hardiknas
Hari Pendidikan Nasional ditetapkan melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 316 Tahun 1959. Tanggal 2 Mei dipilih karena bertepatan dengan hari lahir Ki Hadjar Dewantara, tokoh pelopor pendidikan bagi kaum pribumi di era kolonial.

2. Sejarah Tagline Pendidikan
Ki Hadjar Dewantara dikenal dengan semboyannya yang terkenal: Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani yang berarti "di depan memberi teladan, di tengah membangun semangat, di belakang memberi dorongan." Filosofi ini masih digunakan dalam sistem pendidikan Indonesia hingga kini.

3. Tema Hardiknas 2025
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menetapkan tema Hardiknas 2025 sebagai Partisipasi Semesta Wujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua. Tema ini menekankan pentingnya kolaborasi dan kesinambungan dalam transformasi pendidikan nasional.

4. Merdeka Belajar sebagai Gerakan Pendidikan
Program Merdeka Belajar yang diinisiasi sejak 2019 oleh Mendikbudristek Nadiem Makarim masih menjadi salah satu momen besar perubahan dalam sistem pendidikan. Seperti penghapusan Ujian Nasional, penyederhanaan kurikulum, hingga kebijakan Kampus Merdeka.

5. Peringatan Hardiknas Dilakukan secara Serentak
Setiap tahunnya, peringatan Hardiknas dilakukan serentak di seluruh Indonesia, biasanya dengan upacara bendera, kegiatan edukatif, lomba, dan seminar pendidikan yang melibatkan pelajar, guru, dan masyarakat umum.

6. Hardiknas Bukan Hari Libur Nasional
Meski diperingati secara luas, Hardiknas bukan termasuk hari libur nasional. Kegiatan belajar mengajar biasanya tetap berlangsung, namun dengan muatan kegiatan khusus untuk memperingati momen ini.

7. Simbol Semangat Pendidikan untuk Semua
Hardiknas menjadi momentum refleksi terhadap kualitas pendidikan di Indonesia. Semangat Hardiknas tidak hanya milik guru dan pelajar, tapi juga masyarakat luas sebagai bagian dari ekosistem pendidikan.

Editor : Yudha Satria Aditama
#ki hajar dewantara #ELIT #sumber daya manusia #hardiknas 2025 #Sejarah Pendidikan #eropa #Ningrat #Indonesia #taman siswa