Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Kurikulum AI dan Coding Diterapkan Mulai Tahun Ajaran 2025: Guru di Tuban Masih Bingung

Shafa Dina Hayuning Mentari • Senin, 7 Juli 2025 | 00:20 WIB
Microsoft Klaim AI Ungguli Dokter dalam Diagnosis Medis Kompleks
Microsoft Klaim AI Ungguli Dokter dalam Diagnosis Medis Kompleks

RADARTUBAN - Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka meminta pelajaran Artificial Intelligence (AI) dan coding masuk kurikulum SD hingga SMA mulai tahun ajaran 2025-2026. Oleh sebagian guru, kebijakan ini seakan dianggap latah.

Sehingga menimbulkan pro dan kontra di tingkat akar rumput.

Dua di antara yang menjadi soal, adalah kesiapan SDM guru dan dukungan sarana-prasarana.

SG, salah satu guru SD di Tuban mengaku, belum tahu sama sekali apa yang dimaksud dan dinginkan pemerintah terkait kebijakan memasukan pelajaran AI dan coding ke dalam kurikulum.

Dia menganggap, kebijakan ini tidak lebih dari sekadar menangkap keinginan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, lalu ditangkap oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti, setelah itu dijadikan kebijakan.

Tanpa ada kajian mendalam dan pemahaman secara kaffah yang diberikan kepada para pendidik.

‘’Saya tidak menggeneralisasi bahwa guru tidak paham dengan rencana penerapan AI dan coding ke dalam kurikulum, tapi setidaknya, banyak guru yang memang tidak paham. Apalagi, bapak/ibu guru yang usianya sudah sepuh,’’ katanya.

Menurut AM, kebijakan-kebijakan sak deg sak nyet seperti inilah yang membuat para guru di bawah semakin tambah bingung.

‘’Kebijakan yang sebelumnya saja belum mampu dilaksanakan secara maksimal, ini sudah ada kebijakan baru,’’ katanya.

Dan karena belum ada penjelasan secara detail, sehingga banyak guru yang bingung.

‘’Bingungnya, karena yang mereka pahami, tahun ini mulai diterapkan, tapi tidak tahu apa yang harus diajarkan. Dan apalagi, tidak semua sekolah memiliki laboratorium komputer,’’ tandasnya sekaligus berharap agar tidak ada kebijakan yang kesannya tergesa-gesa.

Terlebih, kebijakan itu menyangkut pendidikan—masa depan bangsa.

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Tuban Abdul Rakhmat tidak menampik minimnya pemahaman guru terkait kurikulum AI dan coding.

Terlebih, para guru di akar rumput. Diakui Rakhmat, pelatihan AI dan coding untuk guru dan kepala sekolah memang masih bertahap, sehingga belum menjangkau semua pendidik di Kabupaten Tuban.

‘’Untuk sementara ini, pelatihan AI dan coding, Red) untuk guru-guru belum bisa menyeluruh. Sistemnya, masing-masing guru dari perwakilan gugus atau kecamatan yang sudah mengikuti pelatihan akan menyebarkan ilmunya ke guru-guru lain,’’ tuturnya pada Jawa Pos Radar Tuban.

Lebih lanjut, Rakhmat menyampaikan, guru yang sudah mendapatkan pelatihan AI dan coding bisa melakukan pembelajaran berbasis AI dan coding, seperti halnya pendidikan literasi.

‘’Jadi, tergantung kesiapan gurunya. Jika sudah ada yang mendapat pelatihan, maka sekolah bisa memulai penerapan muatan AI dan coding tersebut,” imbuhnya.

Rakhmat menambahkan, kurikulum AI dan coding sifatnya hanya sebagai muatan dan bukan sebagai mata pelajaran baru.

Pun penerapannya, hanya sekadar memberikan pemahaman pada siswa bagaimana cara kerja AI dan coding secara mendasar, sehingga setiap siswa siap dengan perkembangan pengetahuan dan teknologi.

Bagaimana dengan sekolah pinggiran, yang secara sarana-prasarana belum siap?

Rakhmat menegaskan bahwa infrastruktur pendidikan di Tuban sudah memadai.

Bahkan, untuk pelaksanaan asesmen nasional pun, sekolah-sekolah di desa sudah berbasis komputer dan memiliki jaringan internet.

‘’Kami tidak ingin siswa hanya tau memakai AI untuk menyelesaikan tugas, tapi juga harus paham jika AI ini hanya sebagai alat bantu. Kalau tidak dikenalkan, nanti penggunaannya bisa jadi tidak terkendali,” pungkasnya. (saf/tok)

Editor : Yudha Satria Aditama
#Pelajaran AI #coding #sd #sma #pendidikan #siswa #guru #gibran