RADARTUBAN – Matahari pagi masih malu-malu menampakkan sinarnya.
Namun, sepagi itu, sekitar pukul 05.15, puluhan ibu-ibu sudah berjubel di depan gerbang SDN Rengel 1.
Sembari menenteng tas dan botol minuman anaknya, mereka bersiap untuk mengamankan tempat duduk putra-putrinya yang baru masuk sekolah.
Tidak berselang lama, selepas penjaga sekolah membukakan gerbang, puluhan orang tua/wali murid itu langsung bergegas—adu cepat menuju calon ruang kelas putra-putri. Berebut meja paling terdepan.
Bahkan, sebagian orang tua rela menunggu hingga berjam-jam di depan kelas demi memastikan meja anaknya tidak digeser oleh siswa lain. Setelah tempat duduk anaknya dirasa aman, mereka baru pulang.
Tradisi unik orang tua/wali murid di hari pertama masuk sekolah itu masih bertahan hingga kini.
Khususnya di jenjang sekolah dasar (SD). Sebagian orang tua masih meyakini bahwa posisi tempat duduk menentukan prestasi anaknya. Rata-rata merebutkan meja paling depan.
‘’(Kalau dapat meja paling depan, Red) biar lebih fokus belajarnya. Sebab, kalau paling belakang takutnya tidak mendengar apa yang diajarkan bapak/ibu guru,’’ ujar Slamet Ariyanto, orang tua siswa saat ditemui Jawa Pos Radar Tuban kemarin (14/7).
Diungkapkan Slamet, untuk mengamankan tempat duduk di paling depan, dirinya bahkan rela memberi tanda tas dan botol minuman milik anaknya agar tidak ditempati siswa lain.
Senada disampaikan Siswati, orang tua lain yang ditemui wartawan koran ini. Setelah mendapatkan bangku yang diincar, dirinya bahkan tidak beranjak dari tempat duduk agar tidak ditempati siswa lain.
‘’Rugi sudah bangun pagi jika tidak dapat tempat paling depan,’’ ujarnya.
Kepala Sekolah SDN 1 Rengel Sri Guncahyo mengatakan, dirinya membenarkan jika lembaga pendidikan naungannya itu sejak pagi sebelum gerbang dibuka sudah dipadati orang tua siswa baru yang mengantarkan anaknya.
Dua mengatakan, meski para orang tua berebut bangku terdepan untuk anaknya, pada pelaksanaan masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS), tetap pihak sekolah yang akan menentukan tempat duduk para peserta didik baru.
‘’Ini bertujuan untuk lebih mengenal teman baru maupun lingkungan sekolah baru,’’ ujarnya.
Pada tahun ajaran 2025/2026 ini, SDN Rengel 1 ketambahan tiga rombel peserta didik baru di kelas 1 yang masing-masing rombelnya diisi 28 siswa.
‘’Tahun ini kami menerima 84 peserta didik baru, sekaligus menjadi pagu terbanyak di wilayah Kecamatan Rengel,’’ pungkasnya.
Pemandangan tidak jauh beda juga terlihat di sejumlah sekolah wilayah perkotaan.
Tampak orang tua/wali murid yang didominasi ibu-ibu turut mendampingi anak-anaknya sejak pagi hingga upacara bendera berlangsung.
Seperti yang terlihat di SDN Latsari. Bedanya, orang tua/wali murid di kota tidak berebut meja seperti sekolah-sekolah di wilayah pedesaan.
Tidak sedikit, di hari pertama itu, banyak anak-anak yang menangis lantaran tidak mau ditinggal oleh orang tuanya. Bahkan, sebagian orang tua terpaksa menunggu di depan kelas. (an/saf/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama